Mohon tunggu...
Ani Berta
Ani Berta Mohon Tunggu... Konsultan - Blogger

Blogger, Communication Practitioner, Content Writer, Accounting, Jazz and coffee lover, And also a mother who crazy in love to read and write.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Rawan tapi Memenuhi Kebutuhan

20 Maret 2012   04:29 Diperbarui: 25 Juni 2015   07:44 74
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tiga orang pemuda kisaran usia diatas ABG dan dibawah 30 tahunan, yang satu memakai topi lusuh, yang satu lagi gaya rambutnya dicat merah dan oranye, menggunduk ke depan seperti ijuk yang berdiri tegak dikepalanya, satu lagi mengenakan pakaian serba hitam dengan rantai yang menjuntai di ikat pinggangnya. Mereka masuk ke bis yang saya naiki sepulang kerja, satu orang didepan, dua lagi ketengah dan belakang. Pemuda yang didepan langsung mengucap salam dengan bahasa yang resmi tetapi tak sedikitpun ada aura tulus dan ramah, guratan wajah seramnya lebih dominan, lebih kurang begini katanya ;

"Assalamu'alaikum, Salam sejahtera, Ibu, Bapak, Saudara-saudari, Bapak Sopir dan kondektur, semoga hari ini menjadi berkah bagi semuanya, semoga keberkahan yang didapatkan bapak ibu, dapat menyisishkan sebagian recehan untuk kami yang belum makan dari pagi." Aroma alkohol tercium dari arahnya.

Lalu disahut temannya yang dibelakang yang matanya merah dengan suara agak mendayu efek dari mabuk "Betul Bapak Ibu!" sambil melotot menebar pandangan ke semua penumpang metromini saat itu.

Dilanjut lagi oleh temannya yang ditengah "Keberuntungan Bapak, Ibu yang nasibnya lebih baik dari kami jangan sampai hilang berkahnya karena tak peduli pada kami yang pengangguran. Bukan kami tak ingin bekerja bapak, ibu, tapi kami tak punya kesempatan itu, berkali-kali kami ditolak."

Temannya yang didepan menimpali lagi sambil membuka topi lusuh yang dikenakannya "Sedikit tidak apa-apa, ikhlas buat Bapak,Ibu, halal bagi kami, jangan sampai kami berbuat nekad atau merampok, berikanlan kami recehan untuk sebungkus nasi"

Semua penumpang hening, tak ada yang bersuara, ada yang langsung memasukkan handphone nya kedalam tas, ada yang membekap tasnya erat, ada yang bermuka tegang, ada yang kalem saja, ada yang sibuk mengeluarkan recehan, ada juga yang melirik tak simpati pada ketiga pemuda ini.

Si pemuda yang meminta uang ke seluruh penumpang menggunakan topinya, setengah memaksa pada penumpang yang tak memberinya, dengan sedikit mengeluarkan kata-kata tak sopan dan tak senonoh, tak peduli pada orangtua, wanita atau anak-anak, semua di hardiknya. Diiringi ocehan kedua temannya yang saling mendukung melancarkan aksinya.

Yang memberi uang pada ketiga pemuda ini, sesudah mereka turun dari bis, pada ngomel, rata-rata mereka memberi karena takut dan hanya ingin ketiga pemuda itu cepat pergi, bukan karena simpatik. Kalau saya tak akan pernah memberi mereka, lebih baik ribut bersama mereka daripada memberi uang buat dibelikan hal yang bukan untuk kebutuhannya, lagipula mereka usianya masih muda dan sehat, masih bisa bekerja apa saja untuk cari penghasilan.

Ada lagi, di metromini jurusan Blok M-Lebak Bulus, empat remaja yang berpenampilan lebih kurang sama dengan ketiga pemuda cerita diatas, naik dan menyanyikan lagu tak jelas, dua orang lagi menyebar ke tengah dan belakang deretan penumpang, setelah selesai menyanyi, satu orang yang didepan mengedarkan topinya untuk meminta recehan, saya melihat dengan jelas sewaktu menyodorkan topi ke depan si gadis berseragam SMU, dibawah topi, dia merogoh handphone si gadis yang ada di saku kemejanya, si gadis tak menyadari karena terhalang topi diatasnya, posisi saya jauh dari si gadis itu, mau kasih tau, keburu mereka turun semua. Saya langsung beritahu si gadis itu, dan si gadis berseragam SMU beserta 3 orang temannya turun dan mengejar empat orang remaja pria tadi, sambil teriak "Heiii balikin hp gue!" Terlihat terjadi adu sengit omongan, metromini malah langsung cabut, mudah-mudahan tak terjadi apa-apa dengan si gadis dan teman-temannya.

Melihat kejadian diatas, sungguh prihatin tentunya, cermin generasi muda sampai sedemikian kelakuannya, tak peduli dengan harga diri, sikap semau gue yang dilakukan sungguh cermin keegoisan dan kemalasan yang parah.

Alasan tak mau berusaha, sangat klise dan pengangguran yang diciptakan dijadikan senjata untuk menepis tuduhan pemalas, alasannya tak dapat kesempatan, lowongan kerja cuma buat yang bersekolah atau punya skill, itu memang benar, tapi masih banyak pekerjaan layak yang bertebaran jika memang sungguh-sungguh ingin bekerja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun