Mohon tunggu...
Bonefasius Zanda
Bonefasius Zanda Mohon Tunggu...

Pendidik SMA Katolik Regina Pacis Bajawa-Flores-NTT

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Politisi Tunggu Momen?

12 Februari 2019   17:07 Diperbarui: 12 Februari 2019   20:43 0 0 0 Mohon Tunggu...
Politisi Tunggu Momen?
Foto ilustrasi/net

Pada suatu pertemuan, salah seorang politisi muda yang baru pertama nyaleg berkeluh kesah. "Ini momen saya maju sebagai calon legislatif, karena berikutnya sudah muncul banyak generasi baru," katanya sedikit merayu yang hadir. Salah seorang tokoh bicara dengan suara serak. Karena tak terlalu jelas, suasana berubah hening mencermati. Tokoh itu hanya bilang, "Engkau masih muda. Engkau harus terus ciptakan momen untuk memberi dulu. Memberi solusi-solusi kecil mengatasi masalah rakyat. Sudah bekerja hal-hal kecil dan mencintai hal-hal kecil. Bukan mengejar momen untuk dirimu."

Berhubung Pilpres dan Pileg 2019 sebentar lagi dirayakan, maka kisah di atas, bisa dijadikan sebagai awasan bagi masyarakat pemilih sekaligus menjadi bahan introspeksi diri bagi para calon pemimpin baik tingkat pusat hingga tingkat daerah. 

Ada dua variabel penting yang termaktup di dalamnya. Pertama, politisi tunggu momen. Tak dapat dimungkiri bahwa pesta demokrasi lima tahunan itu telah menjadi momen bagi para politisi untuk berlomba-lomba menjadi caleg. Opsi menjadi caleg pun menjadi sangat primadona. 

Dan kisah di atas, mau menegaskan bahwa kebanyakan politisi-politisi saat ini memang demikian adanya. Soal tidak memiliki kapasitas diri yang mumpuni serta belum pernah menciptakan momen-momen untuk berbuat dan melayani banyak orang, itu soal kemudian. 

Bahkan baru tamat kuliah, pengangguran serta drop out Perguruan Tinggi misalnya, tapi memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk nyaleg. Ini yang namanya, nafsu Kuda tapi tenaga ayam pedaging.

Selain itu, saat ini juga ada realitas yang sangat buruk yang sedang terjadi sekaligus menjadi trending topik dalam dunia politik tanah air yakni ada 49 caleg yang eks koruptor yang memaksakan dirinya untuk bertarung lagi pada pesta demokrasi 2019 mendatang. 

Bukankah ini realitas yang memalukan pamor bangsa kita dihadapan bangasa lain? Mana mungkin caleg yang sudah basi masih dijadikan kandidat caleg oleh Parpol pengusung, yang selanjutnya dihidangkan kepada masyarakat pemilih? 

Enthalah sampai kapan politik yang macam ini dirawat terus dalam rahim demokrasi bangsa kita tercinta ini. Akhirnya, caleg-caleg terkait ini, maju dan bertarung dalam pileg tanpa orientasi yang jelas arahnya kemana dan untuk apa. Lucu juga sih! Tapi sudah begitu adanya.

Berhadapan dengan seputar realitas buram yang dipertontonkan oleh Parpol dan juga para politisi bangsa kita kini, maka saya bahkan publik pun tak heran, jika banyak caleg saat ini menyulapkan dirinya seperti pengemis. Mendandani wajah dengan topeng terbuat dari emas. Karenanya, meminta belaskasihan serta menampilkan perilaku sok baik, humanis, serta sosialis menjadi opsi yang paling tepat digunakan. 

Dan jika pada Pemilu dan Pileg 17 April mendatang, caleg-caleg bermaslah ini terpilih, maka jangan heran, mereka akan lebih mementingkan untuk menjaga kekuasaan dan juga mengamankan kepentingan ekonomis hidupnya, keluarganya dan juga parpolnya. 

Fakta ini sangat relevan dengan ungkapan Rushworth Kidder dari Institute for Global Etics dikatakan bahwa hampir  merata di seluruh surat kabar di dunia ini pada umumny dihiasi oleh dua ornament utama yakni bahasa politik dan ekonomi. Bahasa politik selalu bertanya siapa yang menang (who's winning')? Bahasa ekonomi selalu bertanya dimana untungnya (wher the bottom line)?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x