Mohon tunggu...
Mas Bom
Mas Bom Mohon Tunggu... Suka cerita horor

Menulis tidaklah mudah tetapi bisa dimulai dengan bahasa yang sederhana

Selanjutnya

Tutup

Politik

Jokowi Bukan Pinokio

17 September 2019   15:23 Diperbarui: 17 September 2019   15:42 0 6 1 Mohon Tunggu...
Jokowi Bukan Pinokio
Lentera.co.id

Melihat gambar cover Majalah Tempo edisi 16 - 22 September 2019 tentang wajah Presiden Jokowi yang dipadukan dengan bayangan berhidung panjang membuat penulis tersenyum sendiri. Meskipun penulis tidak melihat secara langsung fisik Majalah Tempo itu. Tapi gambar itu sudah beredar di dunia maya. Apalagi banyak netizen mengaitkan bayangan berhidung panjang itu dengan gambar karakter Pinokio. Sebuah tokoh fiksi dunia barat kesukaan anak-anak jaman dulu yang mempunyai sifat suka berbohong. Pinokio yang merupakan boneka kayu itu akan bertambah panjang hidungnya jika melakukan suatu kebohongan.

Siapapun yang melihat paduan gambar itu pastilah berpikiran buruk terhadap Jokowi, yang notabene masih sebagai Presiden RI yang harus kita hormati bersama. Apa lagi ada tulisan 'Janji Tinggal Janji' pada cover Majalah Tempo itu. Tulisan itu ditujukan pada Jokowi yang dituding telah ingkar janji perihal penguatan KPK. Jadi klop sudah tulisan dan paduan gambar itu untuk menggambarkan Jokowi sebagai seseorang yang telah melakukan suatu kebohongan. Benarkah begitu?

Penulis tidak akan membahas masalah ingkar janji perihal penguatan KPK itu karena tidak punya kapasitas dalam hal itu. Penulis juga tidak akan memprotes majalah tempo dengan gambar itu karena penulis tidak melihat gambar itu sebagai bayangan pinokio. Justru penulis telah diingatkan pada salah seorang tokoh punakawan dalam dunia pewayangan Jawa. Pembaca pasti sudah bisa menebak tokoh itu. Tokoh itu adalah Petruk.

Penulis tidak bermaksud membandingkan Jokowi secara fisik dengan Petruk tetapi lebih kepada sifat dan karakter utama Petruk sebagai seorang ksatria. Petruk dulunya bernama Bambang Pecruk Panyukilan seorang ksatria pilih tanding sakti mandraguna. Dia berkelana dan bertemu dengan Bambang Sukodadi dan terjadi perkelahian untuk saling menguji kesaktian. Mereka berkelahi sangat lama, saling menghantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuh mereka berdua menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang gagah dan tampan. Mereka pun merubah namanya menjadi Petruk dan Gareng.

Petruk merupakan salah satu di antara empat karakter Punakawan. Punakawan dapat diartikan sebagai kawan di kala susah maupun kawan menuju jalan terang. Begitu cermat dan mumpuninya Kanjeng Sunan Kalijogo membuat empat karakter ini untuk menggambarkan sifat kebanyakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 

Kembali pada Petruk. Apakah ada kemiripan sifat Petruk dalam diri Jokowi? Tokoh Petruk ini digambarkan sebagai tokoh yang nakal dan cerdas. Suka menyentil atau menyindir segala ketidakbenaran yang terjadi di sekitarnya. Petruk mempunyai fisik yang panjang, seperti tangan dan kaki yang panjang, tubuh yang langsing dan tinggi, serta hidung yang mancung. Ini simbol supaya manusia mempunyai sifat dan pikiran yang panjang, tidak sekedar grusa-grusu (terburu-buru), dan sabar. Sifat itu ada pada diri Jokowi. Bila sering grusa-grusu, bisa jadi akan menimbulkan penyesalan di akhir.

Petruk disebut nakal karena memang hobi berkelahi dan terbilang sebagai jago kandang. Tetapi memutuskan untuk berkelana menguji kesaktiannya. Bukankah Jokowi juga demikian? Beliau jago di kandangnya, Solo. Kemudian berkelana dan sukses memimpin Jakarta. Sekarang sedang diuji kesaktian (kemampuan) untuk memimpin Republik Indonesia ini.

Petruk memiliki julukan lain yaitu Kanthong Bolong yang artinya adalah suka berbagi alias dermawan. Dan julukan Doblajaya yang artinya adalah cerdik. Bisa dikatakan bahwa Petruk adalah anggota Punakawan yang paling cerdik di antara kedua saudaranya, Gareng dan Bagong. Bukankah Jokowi juga dermawan dan cerdik dalam mengatur negara ini?

Petruk memiliki lima sifat dasar di dalam jati dirinya, yaitu momong (mengasuh), momot (menyimpan rahasia), momor (lapang dada/sabar/legowo), mursid (mudah paham apa yang diinginkan tuannya), dan murakabi (bermanfaat bagi orang di sekitarnya). Dalam konteks yang berbeda sifat-sifat ini mudah kita temui dalam diri Jokowi.

Memang Petruk ini sebenarnya hanyalah seorang abdi atau batur (pembantu) dan mempunyai tugas momong. Tetapi Petruk mengabdi dan momong para ksatria (Pandawa Lima) yang tentu saja akan memberi contoh dengan budi pekerti yang luhur. Presiden sebenarnya juga abdi yang akan melayani rakyatnya. 

Penulis hanya melihat fenomena cover majalah Tempo ini dari sisi yang lain. Bahwa Jokowi bukan pinokio. Bukan pula Petruk. Jokowi adalah Jokowi dengan segala sifat dan karakter yang melekat padanya. Penulis hanya berpikir positif dan tidak mau sembarangan memberi label buruk pada seseorang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2