Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Dosen - 🌱

Menulis untuk berbagi pada yang memerlukan. Bersyukur atas dua juta tayangan di Kompasiana karena sahabat semua :)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kisah Unik "Pernikahan" Martir Pasutri Korea Selatan, Yu dan Rugalda

17 September 2020   06:34 Diperbarui: 17 September 2020   18:26 1388
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diolah dari koreanmartyrs.or.kr

Sebagai catatan, idealisme selibat atau hidup murni demi tujuan rohani tersua dalam Gereja Katolik. Yesus sendiri menghayati selibat. Dalam perkembangan sejarah, Gereja Katolik ritus barat (Romawi) mewajibkan selibat bagi para pastornya. Demikian pula, sebagian umat boleh saja memilih hidup lajang demi melayani Tuhan dan sesama secara penuh.

"Menikah" tetapi Janji Tidak Berhubungan Badan

Mereka berdua menikah pada bulan September 1798 dengan sebuah kesepakatan bahwa mereka akan hidup sebagai kakak dan adik dan berpantang dari hubungan badan. 

Sebagai catatan, kiranya ada kemiripan antara perkawinan Yu Jung-cheol dan Lee Sun-i dengan perkawinan Yusuf dan Maria (orang tua Yesus) sebagaimana dicatat dalam Alkitab. Yusuf dan Maria adalah suami-istri sejati, akan tetapi mereka hidup murni sampai akhir hayat.

Selama empat tahun, sampai akhir hayat masing-masing, mereka hidup dalam perkawinan dengan janji khusus tersebut.

Lutgarda ditangkap pertengahan September tahun yang sama. Ia menyemangati kerabatnya yang juga dipenjara bersamanya dengan berkata, "Kita akan masuk surga bersama-sama". 

Dari penjara, Yi menulis surat berikut, "Kami berlima berteguh hati mempersembahkan hidup kami untuk Tuhan sampai waktu kemartiran nanti...Tiap hari kami disegarkan oleh rahmat dan cinta. Kebahagiaan ilahi memenuhi hati kami. Tak sedikit pun ada kecemasan dalam hati kami."

Yu Jung-cheol dan Lutgarda dipenjara di tempat berbeda. Dari penjara, tiga bulan sebelum wafatnya, Lutgarda mengirim surat pada suaminya. Sang suami membalas, "Adikku, aku menyemangati, menasihati, dan menghiburmu. Sampai jumpa di surga." Balasan itu ditulis Yu pada sepotong kain yang berhasil ia sembunyikan dari pengawasan sipir penjara.

Pada musim semi tahun 1801, Yu ditangkap dan dipenjara di Jeonju. Penyiksaan di penjara tidak membuat imannya lemah. Ia wafat sebagai martir pada 14 November 1801 dalam usia 22 tahun.

Rugalda Lee Sun-i wafat sebagai martir bersama sejumlah kerabatnya pada 31 Januari 1802. Setelah kepalanya dipenggal, mengalirlah darah berwarna putih dari tubuh sang martir. Saat itu ia baru berusia 20 tahun.

Dinyatakan sebagai Saksi Iman oleh Paus Fransiskus

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun