Mohon tunggu...
Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Mohon Tunggu... pembelajar

Suka berteman dengan siapa saja. Sila hubungi kontakbobby@zoho.eu. Menulis untuk berbagi kebenaran dan kebaikan.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Joki Tes Masuk Fakultas Kedokteran, Tanda Bahaya Sarjana Kita!

27 Mei 2019   07:44 Diperbarui: 27 Mei 2019   13:14 0 21 9 Mohon Tunggu...
Joki Tes Masuk Fakultas Kedokteran, Tanda Bahaya Sarjana Kita!
Ilustrasi. Twitter @usnews

Kabar buruk kembali tersiar dari dunia pendidikan tinggi tanah air. Baru-baru ini empat orang tertangkap tangan menjadi joki tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya. 

Mereka disebut-sebut mahasiswa UGM dan ITB, serta satu lulusan SMA di Kediri. Keempat joki berinisial RD (18) dan Inam (19) yang disebut merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), BA (22) yang disebut mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), serta MM (17) lulusan salah satu SMA negeri di Kediri. Mereka diamankan panitia pelaksana di tengah jalannya tes, Selasa (21/5/2019). Bersama mereka, diamankan pula seorang pengguna.

Konfirmasi UGM 

UGM telah mengonfirmasi bahwa salah satu nama yang disebut, yakni RD (18) adalah mahasiswa UGM. Sementara nama kedua, yaitu Inam (19) belum ditemukan dalam data mahasiswa UGM.

Dihubungi salah satu media, ITB belum memberikan keterangan mengenai dugaan salah satu mahasiswanya jadi joki tes masuk Fakultas Kedokteran UMS.

Joki Tanda Mentalitas Sukses Instan

Perjokian dalam dunia pendidikan tinggi dan dalam proses seleksi PNS jadi tanda bahwa sebagian mahasiswa dan pemuda kita ingin sukses dalam waktu singkat tanpa mau belajar.

Inikah produk dari sistem pendidikan kita? Harus diakui, iya. Nyatanya mereka adalah lulusan dari SMA yang penyelenggaraan pendidikannya ada di bawah Kementerian Pendidikan.

Selama ini, walau sudah sedikit dimodifikasi, keberhasilan siswa di sekolah terlalu diukur dengan capaian nilai Ujian Nasional. Guru-guru pun terlalu dibuat sibuk dengan fokus pada cara agar siswa mampu mengharumkan nama sekolah dengan raihan nilai UAN tinggi. Bahkan pada situasi tertentu, sebagian oknum guru disinyalir memberi contekan pada siswa agar mampu mengerjakan ujian nasional dengan baik. Ini rahasia umum.

Akibatnya, pendidikan moral dan proses mengeksplorasi keingintahuan kerap kali dinomorduakan. Demi nama baik sekolah. Demi prestasi akademik.

Joki Tanda Bahaya Kualitas Sarjana Kita

Mirisnya lagi, masih terjadinya praktik perjokian jadi tanda bahaya kualitas sarjana kita. Apa jadinya bila peserta yang menggunakan jasa joki akhirnya diterima di perguruan tinggi?

Si curang ini bisa dipastikan akan juga melakukan aneka kecurangan dalam ujian dan penulisan skripsi agar bisa lolos dan mendapat gelar sarjana.

Masyarakat harusnya cemas karena jika para mahasiswa curang ini lulus sebagai sarjana di bidangnya, justru mereka jadi sarjana yang membahayakan masyarakat.

Apa mau ditangani dokter bermutu abal-abal di ruang operasi? Apa mau diberi nasihat oleh dokter yang ternyata dulu lolos ujian masuk dengan menggunakan jasa joki?

TribunJatim.com
TribunJatim.com

Menyigi Solusi

Kelemahan utama sistem pendidikan kita, hemat saya, adalah minimnya pendampingan dan penilaian terhadap proses belajar tiap anak. Semua terlalu difokuskan pada nilai akhir, bukan proses. Karena fokus yang keliru ini, siswa bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapat nilai akademik tinggi, juga dengan mencontek, menjiplak, dan memakai joki.

Justru sistem yang baik sudah ada dalam pendidikan di taman kanak-kanak. Setahu saya, TK memberi rapor yang bersifat deskriptif. Rapor TK bercerita tentang keterampilan motorik si anak, kemampuan si anak dalam bergaul dan berkomunikasi, dsb. Tak lagi rapor TK dihiasi nilai A atau B semata.

Saya pikir, mengapa sistem pendampingan dan penilaian ini tidak juga diterapkan di jenjang SD sampai PT? Bukankah seharusnya, pendidikan itu memadukan intelektualitas dan aspek perkembangan pribadi, termasuk pendidikan perilaku bermoral?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2