Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Relawan

Suka berteman dengan siapa saja. Sila hubungi kontakbobby@zoho.eu. Menulis untuk berbagi kebenaran dan kebaikan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Mawar untuk Elena

4 Mei 2019   15:31 Diperbarui: 7 Mei 2019   22:05 408 26 9
Cerpen | Mawar untuk Elena
ilustrasi: pixabay.com

Mendung menggelayut di langit Solo. Tetes hujan di luar jendela seperti berlomba dengan tetes air mata Elena. Sembari mengelus perut yang perlahan membesar, Elena hanya bisa menyesali peristiwa tiga bulan lalu di kamar kosnya. Rayuan pacarnya membuatnya terlena. 

"Tenang saja, Lena. Aku janji akan menikahimu." 

Janji tinggal janji. Sang pacar pergi tanpa jejak, meninggalkan Elena dan janin dalam kandungannya. 

Semester ini seharusnya Elena selesai skripsi, sesuai harapan ayah dan ibunya di Pontianak. "Aku tak mau perutku terus membesar. Aku malu," bisiknya pada dirinya sendiri. Maka ia mulai mencari-cari info di internet, di mana obat peluruh kandungan bisa dibelinya.

***
Tiba-tiba ponselnya berdering. Elena sebenarnya enggan menjawab. Sudah hampir tiga hari dia mengurung diri di kamar kos. Entah mengapa, kali ini dia mau menjawab telepon dari nomor asing.

"Halo, Lena. Masih ingat aku, kan?" suara seorang gadis yang segera dikenalinya. 

"Ya ampun, Maria. Dari siapa kamu dapat nomorku?"  Tawa renyah teman sebangkunya di SMP terdengar dari ujung sana.

"Ceritanya begini. Aku kuliah di Jogja dan bulan ini sedang penelitian di Solo. Eh pas wawancara ketemu teman kamu sekampus. Iseng aja aku tanya, apa ada anak Pontianak di kampusnya. Dia lalu sebut namamu. Nah, hari ini aku ingin ketemu kamu, Lena."  

Elena segera mengiyakan dan memberi alamat kosnya. Kehadiran Maria membuat Elena terhibur. Hampir dua jam mereka asyik bernostalgia. Saat minum teh, tiba-tiba Maria bertanya, "Lena, maaf ya. Kelihatannya perutmu berubah." Elena sejenak terdiam. 

Maria lantas merangkul sahabat lamanya.

"Maria, aku malu. Aku juga marah pada lelaki yang telah meninggalkanku. 

Aku tak ingin melihat wajahnya saat anak ini lahir nanti. Aku tahu aku salah, tapi ..." ujar Elena sambil menahan tangis. Maria menghela nafas panjang. 

"Tenangkan dirimu, Lena. Besok kita sama-sama ke Jogja. Aku antar kamu ke tempat yang biasa kudatangi di akhir pekan."

***
Maria memencet bel tamu "Pondok Esperanza". 

Tak lama seorang suster membukakan pintu. Seorang gadis cilik ikut menyambut.

"Lusi, ayo beri salam untuk Kak Maria dan Kak Elena," kata Suster Ana. 

"Selamat sore Kak Maria dan Kak ...eh siapa tadi namanya" celetuk si mungil. 

"Kak Elena" jawab si pemilik nama sambil tersenyum. "Selamat sore Kak Elena", kata si cilik. 

"Lusi, nantinya Kak Elena akan menemanimu belajar menggambar. Kamu pasti senang ditemani Kak Elena yang jago melukis," kata Maria. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3