Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Yuk jadi sahabat di Instagram https://www.instagram.com/ruangberbagikompasiana/ dan https://bit.ly/ruangberbagiFB

Keberagaman: anugerah terindah bagi Indonesia. Surel: ruangberbagi@yandex.com. Dilarang muat ulang artikel untuk komersial. Hak cipta dilindungi UU.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengulik Paham di Balik Ajaran "Kiamat Lokal" di Ponorogo

14 Maret 2019   06:07 Diperbarui: 14 Maret 2019   07:20 365 9 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengulik Paham di Balik Ajaran "Kiamat Lokal" di Ponorogo
pixabay/karigamb08

Facebook Info Cegatan Wilayah Ponorogo makin ramai setelah warganet bernama Rizki Ahmad Ridho mengunggah informasi tentang menyebarnya ajaran tentang "kiamat lokal" di Ponorogo.

Dikabarkan, seorang dengan berjaket nama seorang nabi berhasil meyakinkan 52 warga Ponorogo bahwa kiamat sudah dekat. Kiamat akan terjadi mulai dari Ponorogo. 

Yang mau selamat dari kiamat diajaknya pindah ke sebuah lokasi di Malang

52 warga pindah ke Malang

Sungguh terjadi. 52 warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo meyakini ajakan si oknum tadi. Mereka ramai-ramai pindah ke Malang, Jawa Timur agar selamat dari kiamat.

Tanah di Ponorogo mereka jual. Mereka yakin, kiamat lokal akan terjadi di Ponorogo.

Bukan gejala baru

Para peneliti menamai gejala sosial-keagamaan semacam ini dengan mesianisme atau mahdisme

Siradjuddin Abbas berpendapat bahwa 'paham Ratu Adil di Jawa' meyakini akan lahirnya seorang Ratu Adil yang akan menegakkan kebenaran dan keadilan (Abbas, 1983: 131).
Akan tetapi, Emmanuel Subangun berpendapat bahwa dalam pandangan hidup Jawa tidak dikenal Mesias. la mengatakan,"apa yang disebut mesianisme Jawa tidak lain dari sekadar alat peledak yang dipergunakan secara sengaja oleh para pemimpin huru-hara di pedesaan Jawa (Subangun, 1977:26).

Sejalan dengan pendapat Emmanuel, Harijadi S. Hartowardojo mengungkapkan bahwa apa dan siapa pun Ratu Adil itu, gejala ini hanyalah sebuah mitos yang mempunyai pengaruh kontroversial. Di satu pihak memberikan harapan, sedang di pihak lain menimbulkan sikap-sikap fatalistis karena orang menjadi pasrah dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi (Harijadi, 1977: 48-51). 

Sartono berpendapat, apa pun dan bagaimanapun pendapat mengenai Mahdisime, timbulnya gerakan ini bersumber pada keresahan sosial yang disebabkan oleh pertemuan beberapa sebab yang saling bertalian satu sama lain (Sartono, 1973: 88).
Gus Dur berpendapat, apa pun nama serta ide Mahdisme itu, ia hanyalah manifestasi berwajah banyak dari fenomena yang satu
(Abdurrahman Wahid, 1977: 63).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN