Mohon tunggu...
Ahmad Nabil Maulana
Ahmad Nabil Maulana Mohon Tunggu... Mahasiswa

Be Your Self.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Benarkah Nilai adalah Kunci Kesuksesan?

27 Februari 2020   10:20 Diperbarui: 27 Februari 2020   10:28 40 0 0 Mohon Tunggu...

Sejak kita kecil lebih tepatnya sejak TK, kita selalu dingatkan oleh orang tua kita untuk selalu belajar. Pulang sekolah istirahat dan kemudian mengerjakan tugas. Saat malam tiba pun kita disuruh untuk menyiapkan pelajaran untuk hari esok dan dilanjutkan dengan kegiatan belajar. Saat duduk di bangku SD hingga SMA kegiatan rutin setiap malam adalah mengerjakan tugas dan belajar. Bahkan kita juga sering mengikuti bimbingan belajar tambahan di luar jam sekolah.

Hal ini semata -- mata karena orang tua kita menuntut untuk mendapatkan nilai pelajaran yang bagus. Pihak sekolah pun menerapkan beberapa system yang dirasa bertujuan untuk meningkatkan nilai akademis siswa dan siswinya. Sekolah beranggapan bahwa jika nilai para murid bagus, maka citra atau penilaian public terhadap sekolah itu juga akan meningkat atau bertambah baik. Siswa dan siswanya dituntut untuk mendapatkan nilai sempurna dari setiap mata pelajaran yang ada disekolah.

Untuk mendapatkan nilai yang baik pun para siswa kerap melakukan segala upaya. Padahal tidak semua siswa bisa melakukan hal rutin terus menerus yang tidak disukai nya. Karena pada dasarnya tipe -tipe dari para siswa pun unik dan berbeda antara satu dengan lainnya.

Orang tua murid pun kerap menuntut anaknya untuk mendapat nilai bagus dan jika tuntutan itu tidak dipenuhi maka anak tersebut kadang kala dimarahi oleh orangtuanya. Begitupun guru di sekolah, rata -rata disekolah manapun menerapkan system kkm atau  nilai batas terendah yang harus dicapai murid tersebut. 

Pada akhirnya para siswa dan siswi merasa bahwa dirinya gagal karena tidak dapat mencapai nilai tersebut. Mereka merasa bahwa dirinya bodoh dan mengecewakan orangtuanya. Disini terciptalah suatu  paradigma pemikiran bahwa  siswa yang berhasil adalah siswa yang mendapat nilai bagus. Karena dengan mendapat nilai bagus akan mendapat sanjungan dari para guru sekaligus menciptakan rasa bangga oleh orang tua.

Dari sini muncul lah pernyataan, apakah benar pengaruh nilai dapat menjamin kepintaran seseorang? Kita menciptakan pemikiran seperti itu bukan atas dasar. Tapi sudah ditanamkan sejak dahulu bahwasannya jika tidak dapat nilai 75 maka harus mengulangi ujian tersbut. 

Sehingga para murid terpaksa belajar sekuat tenaga agar bisa meraih nilai tersebut. Padahal tidak selalu semua murid mengusai pelajaran tersebut. Ada kalanya hanya pelajaran tertentu yang hanya benar - benar dikuasai oleh murid tersebut.

Pada dasarnya ada beberapa macam siswa di dunia ini. Lebih tepatnya dibagi menjadi tiga tipe. Yaitu tipe audio, tipe visual dan juga tipe kinetic.

            Pertama tipe audio. Tipe audio adalah tipe murid dimana mereka bisa menerima segala macam pelajaran hanya dengan mendengar. Mereka tidak perlu melihat seseorang yang bicara, hanya dengan mendengar saja dia bisa menerima semua yang dikatakan guru tersebut.

            Kedua tipe visual. Di tipe ini murid harus memperhatikan lawan bicaranya untuk dapat mengerti apa maksud dari si pembicaranya. Dengan kata lain si murid harus memperhatikan si guru dengan seksama agar mengerti apa yang sedang dikatakan oleh guru tersebut,

            Ketiga tipe kinetik. Murid yang bertipe kinetic ini adalah murid -- murid yang selalu aktif fisik. Dalam artian mereka tidak bisa duduk diam saja diatas bangku. Kadang kala mereka harus berdiri, memainkan meja, kursi atau alat tulis yang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x