Humaniora

Undangan Istana Salah Alamat?

14 Juli 2017   11:27 Diperbarui: 14 Juli 2017   11:43 1072 1 1
Undangan Istana Salah Alamat?
sumber foto : ragam-peristiwa.blogspot.com

Diundang ke Istana Negara tentu kebanggaan tersendiri, terutama bagi rakyat kecil. Selain pejabat, Paspampres dan open house saat hari raya, masuk ke Istana tidak bisa seenaknya dan menjadi kesempatan langka.

Boleh dikatakan orang yang diundang ke Istana dan bertemu Presiden adalah sosok yang dianggap penting, berpengaruh atau punya prestasi. Bisa diambil kesimpulan tiga faktor tersebut menjadi syarat orang mendapatkan undangan dengan ada embel-embel Istana.

Untuk mendapatkan kesempatan itu, tidak semua orang bisa. Harus punya sesuatu yang patut dibanggakan agar bisa menginjakkan kaki ke tempat berkantornya orang nomor satu Indonesia tersebut. Boleh dikatakan harus punya sesuatu yang bersifat positif agar bisa mendapatkan kesempatan itu, apalagi dapat berbicara dalam forum terbatas dengan Presiden.

Namun, belakangan ini sosok yang diundang ke Istana banyak memunculkan kontroversi. Sebut saja Jokowi mengundang pengurus organisasi yang anggotanya terlibat pembakaran tempat ibadah di Tolikara Papua, saat hari raya pada tahun 2015. Jika mau mendamaikan, tentu yang menjadi korban dari aksi pembubaran dan pembakaran juga mendapatkan undangan.

Lalu mengundang penggiat media sosial ke Istana. Secara acara itu bagus, tapi yang tidak tepat adalah beberapa orang dari sekian banyak undangan tersebut sering menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. Salah satunya pentolan Seword, dalam portalnya tersebut sering kali memposting tulisan yang menyebar kebencian. Salah satunya menyebut Ketua MUI dengan munafikun.

Padahal Jokowi berulangkali mengucapkan perangi hoax dan jangan sebar ujaran kebencian. Tapi orang-orang yang diundang malah melakukan hal seperti itu. Ini tentu menjadi senjata makan tuan buat Istana, karena orang yang mendapatkan kehormatan diundang ke Istana malah menjadi penghancur ucapan Jokowi sendiri.

Dan yang teranyar adalah Afi. Sosok yang ramai dibicarakan dimedia tersebut diundang ke Istana dan mendapatkan kesempatan berbicara langsung dengan Jokowi dan JK dalam pertemuan terbatas. Sosok yang awalnya dianggap menginspirasi lewat tulisannya ternyata melakukan plagiat. Sebagaimana kita ketahui, plagiat adalah tindakan memalukan karena tidak jujur dan menipu.

Padahal disaat bersamaan muncul nama Naufal Raziq, bocah asal Aceh yang menemukan listrik dari pohon kedondong. Meski berhasil membuat sesuatu dari karya dan biaya sendiri, Naufal tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan Afi. Naufal yang seharusnya bisa  jadi inspirasi buat anak muda Indonesia, tidak diundang disaat Afi yang ketahuan plagiat diundang.

Seharusnya Istana atau Jokowi dapat lebih selektif. Jangan hanya mengundang orang-orang yang merupakan bagian dari pendukung penguasa, sedangkan sosok yang jauh lebih membanggakan tapi tidak pendukung malah diabaikan. 

Kenapa undangan istana salah alamat?