Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Penulis dan Pewarta

Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog, Penulis, Peneliti Sejarah Kepanduan, Kolektor Prangko dan Benda Memorabilia Kepanduan, Cosplayer, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Selamat Jalan Kak Rivai Harahap

8 November 2018   19:54 Diperbarui: 8 November 2018   20:16 542 1 1
Selamat Jalan Kak Rivai Harahap
Kak HA Rivai Harahap, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka masa bakti 1998-2003. (Foto: Istimewa)

Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka masa bakti 1998-2003, Letjen TNI (Purn) H.A. Rivai Harahap, meninggal dunia Kamis (8/11) meninggal dunia di kediamannya di Jakarta Selatan. Kak Rivai yang sebagian juga memanggilnya Opung (panggilan kakek di suku Batak), berpulang di usia 90 tahun.

Kak Rivai dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 21 April 1928. Mempunyai karier militer yang cemerlang, beliau terakhir berpangkat letnan jenderal. Dilahirkan dan menempuh pendidikan dasar di Pematang Siantar, Kak Rivai sempat bersekolah juga di Kayutanam, Sumatera Barat dan Aceh.

Pendidikan militernya dimulai di zaman Jepang dengan memasuki Medan Seinen Rensyeiso di Medan pada 1943, terus berlanjut ke Batusangkar, Sumatera Barat, dan kemudian ke Pusat Infanteri di Bandung, Jawa Barat. Pernah lama bertugas di Aceh, Kak Rivai juga cukup mahir berbahasa daerah itu. Ketika menjadi brigadir jenderal, Kak Rivai dipercaya sebagai Panglima Kodam I/Iskandar Muda pada kurun 1973 sampai 1977.

Di lingkungan Gerakan Pramuka, Kak Rivai telah berkecimpung cukup lama. Setelah menjadi Andalan Nasional Gerakan Pramuka sejak 1979, pada masa bakti 1993-1998 beliau dipercaya sebagai Wakil Ketua Kwarnas. Berikutnya, pada masa bakti 1998-2003, Kak Rivai memimpin Gerakan Pramuka sebagai Ketua Kwarnas.

Saat menjadi Ketua Kwarnas adalah masa yang cukup berat bagi Gerakan Pramuka. Gema dan gemuruh aksi Reformasi 1998, membuat sebagian orang kurang menyukai Gerakan Pramuka yang dianggap bagian Orde Baru. Kak Rivai menjawab tudingan itu dengan memperbanyak aksi Pramuka Peduli, di mana Pramuka ikut terjun langsung membantu masyarakat di mana-mana. Baik mereka yang mengalami bencana alam, atau karena hal lainnya.

Anggaran Gerakan Pramuka yang selama Orde Baru dengan rutin diberikan melalui APBN -- apalagi ketika Ibu Tien Soeharto aktif juga di Gerakan Pramuka -- setelah Reformasi 1998, tidak ada lagi. Kak Rivai harus susah payah dibantu para pengurus Kwarnas lainnya mengupayakan agar program dan kegiatan Gerakan Pramuka tetap jalan walaupun tanpa ada bantuan dana dari Pemerintah.

Sekadar catatan, sepanjang ingatan penulis, bantuan dana APBN dari Pemerintah baru mengucur lagi untuk Gerakan Pramuka setelah 2006, ketika Presiden saat itu, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka.

Kak HA Rivai Harahap dengan Lencana Tunas Kencana, penghargaan tertinggi Gerakan Pramuka. (Foto; Sugeng Purwanto/Group WA)
Kak HA Rivai Harahap dengan Lencana Tunas Kencana, penghargaan tertinggi Gerakan Pramuka. (Foto; Sugeng Purwanto/Group WA)
Tapi walau ketika masa bakti Kwarnas yang dipimpin Kak Rivai tak ada bantuan dana APBN, aktivitas Gerakan Pramuka tidak menyurut. Bahkan kegiatan-kegiatan internasional tetap diupayakan diikuti dengan mengirim delegasi atau kontingen ke acara-acara itu.

Secara pribadi ada pengalaman menarik bagi penulis dengan Kak Rivai. Sepulang dari mengikuti Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik di New Delhi, India, pada 2001, di mana penulis menjadi anggota delegasi yang dipimpin Kak Rivai, penulis memberanikan diri untuk mencalonkan penulis sendiri sebagai Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Kwarnas. Saat itu, Kwarnas tidak mempunyai Kepala Biro, karena kepala biro yang lama sudah pensiun. Sementara bisa jadi untuk mengangkat kepala biro baru tampaknya terkendala dana, yang memang saat itu kondisi keuangan Kwarnas cukup memprihatinkan.

Mengingat pentingnya keberadaan sebuah biro Humas di organisasi pendidikan yang cukup besar itu, penulis mengajukan diri untuk menjadi Kepala Biro Humas tanpa dibayar, jadi tidak perlu digaji seperti layaknya karyawan Kwarnas. Saat itu, penulis masih menjadi wartawan di sebuah suratkabar nasional. Kak Rivai setuju, maka untuk beberapa bulan, jadilah penulis sebagai Kepala Biro Humas Kwarnas tanpa dibayar.

Pengalaman sebagai Kepala Biro Humas yang membantu memperkenalkan dan mengembangkan citra Gerakan Pramuka di dalam dan luar negeri, rupanya dianggap cukup berhasil oleh Kak Rivai. Maka menjelang akhir masa jabatannya pada 2003, penulis dianugerahi Lencana Melati, penghargaan tertinggi kedua bagi orang dewasa di lingkungan Gerakan Pramuka.

Sementara Kak Rivai sendiri karena besar jasanya bagi Gerakan Pramuka dan kepanduan di internasional, khususnya di kawasan Asia-Pasifik, maka beliau memperoleh Lencana Tunas Kencana dari Gerakan Pramuka. Ini adalah penghargaan tertinggi bagi orang dewasa dalam Gerakan Pramuka dan sampai saat ini hanya sedikit yang mendapatkannya. Sedangkan dari Kepanduan Asia-Pasifik, Kak Rivai juga menerima penghargaan tertinggi berupa Asia-Pacific Regional Distinguished Service Award.