Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Penulis dan Pewarta

Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog, Penulis, Peneliti Sejarah Kepanduan, Kolektor Prangko dan Benda Memorabilia Kepanduan, Cosplayer, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mau Terbang Nyaman? Perhatikan Keselamatan Keamanan Penerbangan

12 April 2018   19:36 Diperbarui: 9 Mei 2018   13:44 2289 1 0
Mau Terbang Nyaman? Perhatikan Keselamatan Keamanan Penerbangan
www.iata.org

Anda sering bepergian dengan pesawat udara atau Anda mau terbang menggunakan pesawat udara dengan nyaman? Jangan anggap remeh, perhatikan keselamatan keamanan penerbangan yang Anda tumpangi.

"Please sit down, Sir!," setengah berteriak pramugari Singapore Airlines meminta seorang penumpang untuk kembali duduk, ketika melihat penumpang itu langsung melepaskan sabuk keselamatan dan berdiri. Padahal pesawat baru saja touch down -- mendaratkan roda-rodanya -- di Bandar Udara (Bandara) Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah menempuh penerbangan satu jam lebih dari Bandara Changi di Singapura.

"Bu, ini pesawat sudah mau lepas landas, tolong telepon genggamnya dimatikan ya, Bu," pramugari Garuda Indonesia menyapa seorang perempuan setengah baya yang masih sibuk menggunakan telepon genggamnya saat pesawat sudah berjalan di apron dan hendak lepas landas sesaat lagi.

Begitulah dua kisah yang sesungguhnya terjadi. Kisah pertama terjadi beberapa tahun lalu, kisah kedua terjadi baru saja, dalam penerbangan dari Soekarno-Hatta menuju Bandara Ahmad Yani, Semarang, Februari 2018.

Walaupun berbeda waktu, jenis pesawat, dan maskapai penerbangannya, kedua kisah itu menyiratkan betapa para awak kabin pesawat masih saja harus kewalahan menghadapi penumpang-penumpang pesawat yang mau seenaknya sendiri, dan kurang memperhatikan keselamatan keamanan penerbangan.

Kisah pertama, saat pesawat masih berjalan di landasan, seorang penumpang sudah berdiri. Ini jelas berbahaya, bukan hanya bagi penumpang itu sendiri, tetapi juga penumpang lainnya. Kalau si penumpang yang berdiri kemudian terjatuh karena kehilangan keseimbangan akibat pesawat yang masih meluncur, bisa jadi menimpa penumpang lainnya. Bakal terjadi kehebohan, yang dapat saja memantik peristiwa kecelakaan lainnya.

Poster Kementerian Perhubungan tentang perlunya peran dan dukungan masyarakat dalam penerbangan. (Foto: kemenhub.go.id)
Poster Kementerian Perhubungan tentang perlunya peran dan dukungan masyarakat dalam penerbangan. (Foto: kemenhub.go.id)
Sedangkan pada kisah kedua, sudah cukup sering diungkapkan bahwa penggunaan telepon genggam saat pesawat hendak lepas landas maupun mendarat, dapat mengganggu navigasi penerbangan. Penumpang itu lupa, perilaku yang seolah biasa saja -- menelepon seseorang -- dapat mengakibatkan pesawat menjadi tak terkendali karena peralatan navigasinya terganggu, yang pada akhirnya bisa menyebabkan kecelakaan mengerikan.

Dua kisah itu juga menunjukkan bahwa kenyamanan penumpang lain dapat terganggu kalau ada penumpang dalam satu pesawat yang berulah seenaknya tanpa memperhatikan keselamatan penerbangan.

Tak heran bila pentingnya keselamatan keamanan penerbangan itu menjadi kunci keberhasilan suatu operasi penerbangan. Hal itu jugalah yang ditekankan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Agus Santoso, ketika berjumpa dengan wartawan dan blogger di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, pada Jumat, 23 Maret 2018.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Agus Santoso. (Foto: kompas.com)
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Agus Santoso. (Foto: kompas.com)
Selain mengungkapkan upaya Pemerintah yang terus membangun konektivitas antarlokasi di Indonesia, persoalan keselamatan penerbangan juga terus ditingkatkan.

Bukan itu saja, menurut penilaian Federal Aviation Administration (FAA), lembaga penerbangan Amerika Serikat yang berarti maskapai Indonesia belummemenuhi regulasi penerbangan, akibatnya seluruh penerbangan maskapai Indonesia tidak diperbolehkan terbang ke USA.

Indonesia yang tadinya ada di kategori 1 turun menjadi kategori 2 pada 2007. Baru delapan tahun kemudian, tepatnya pada 2016, Indonesia kembali berada di kategori 1sesuai penilaian FAA.

Berdasarkan data yang ada, pada 2014 Indonesia baru memenuhi sekitar 45 persen syarat regulasi. Dua tahun kemudian pada 2016, hasilnya meningkat menjadi sekitar 51 persen. Itu pun masih di ambang batas minimal.

Untunglah, berdasarkan audit ICAO (Interntional Civil Aviation Organization), Indonesia berhasil meningkat lagi mencapai sekitar 81 persen syarat regulasi pada 2017.

Pada akhirnya, untuk mencapai tingkat keselamatan keamanan penerbangan yang tinggi di Indonesia, memang dibutuhkan kerja sama semua pihak. Maskapai atau operator penerbangan harus melakukan pengecekan berkala pada pesawat-pesawat yang ada, meningkatkan terus kemampuan sumber daya manusia, baik awak kabin maupun awak darat, serta memperbaiki sarana dan prasarana bandara-bandara yang ada.

Bagi para penumpang pun, dibutuhkan perubahan perilaku untuk lebih menghargai keselamatan keamanan penerbangan. Selain hal-hal di dalam pesawat yang penting diperhatikan seperti tetap duduk dan menggunakan sabuk keselamatan selama pesawat berjalan, tidak menggunakan telepon genggam dan peralatan elektronik lainnya pada saat tinggal landas dan mendarat, juga hal-hal sejak dari hendak berangkat perlu diperhatikan.

Jangan membawa barang-barang berbahaya dan cairan, apalagi dalam tas yang dibawa masuk ke dalam kabin. Ini akan menyebabkan penumpang tertahan saat pemeriksaan di bandara. Serta yang tak kalah penting, gunakan manajemen waktu yang baik.

Usahakan telah ada di bandara tiga jam sebelum saat boarding ke dalam pesawat. Hal tersebut membantu penumpang tidak perlu terburu-buru dan awak pesawat pun tak perlu terhambat hanya gara-gara menunggu satu atau dua penumpang yang terlambat naik pesawat.

Selamat menikmati penerbangan Anda.