Mohon tunggu...
Anton Bele
Anton Bele Mohon Tunggu... Dosen - PENULIS

Dosen Tamu, pengampu Mata Kuliah Filsafat di Program Pasca-sarjana Interdisiplin Studi Pembangunan, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Hidup Jujur (11)

7 Desember 2021   06:12 Diperbarui: 7 Desember 2021   06:15 44 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Nalar. Kita manusia diberi Nalar untuk berpikir supaya mengetahui dan mengalami apa yang benar dan baik untuk hidup kita. Nalar itu menuntun kita untuk belajar dari pengalaman dan pengetahuan yang sudah ada. Dengan Nalar kita manusia yakin apa yang benar itu benar dan apa yang salah itu salah.

Nalar menghantar kita untuk mengetahui dan mengalami manfaat kebutuhan pokok: sandang, pangan, papan. Tiga kebutuhan ini diingini oleh Nafsu, mau makan, mau minum, mau pakai, mau tinggal di tempat yang layak. Ini dibutuhkan oleh kita manusia dan kebutuhan ini didorong oleh Nafsu. Langsung Nalar beri penjelasan, apa yang layak dipakai, layak dimakan, layak dijadikan tempat tinggal. Ini kerja Nalar.

Nalar ini diarahkan kepada Naluri. Kita manusia hidup tidak sendirian. Semua kebutuhan pokok itu tidak bisa dipenuhi oleh diri kita seorang diri. Harus ada  bantuan orang lain. Kesadaran tentang adanya orang lain ini karya Naluri. Ingat orang lain, butuh orang lain. Hal ini diberitahu oleh Nalar kepada Naluri. Nurani akan beri kepastian yang menenteramkan apabila keputusan ini baik dan bagus untuk diri dans sesama di hadirat TUHAN. (4N, Kwadran Bele, 2011).

Nalar mengarahkan dan menyadarkan kita bahwa ada aturan, baik aturan dari alam maupun aturan dari manusia. Kesadaran ini ada  dalam Nurani. Maka Nalar mempunyai peran untuk menyadarkan kita manusia bahwa semua kebutuhan pokok yang diingini oleh Nafsu  itu harus diupayakan, boleh dinikmati sambil ingat orang lain, Naluri, sambil taat pada aturan  yang sudah ada dalam alam, disepakati manusia atas dasar Perintah dari TUHAN, PENCIPTA kita.

Praktek KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme  itu adalah penyakit dalam masyarakat yang tidak memakai Nalar secara benar dalam mengupayakan dan menikamti kebutuhan pokok: sandang, pangan, papan.  Korupsi, merusak diri, sesama dan alam dengan cara kolusi, yaitu bermain curang dan ingat diri serta keluarga secara berlebihan, nepotisme. Ini tidak boleh karena tidak dikehendaki oleh sesama, terutama oleh TUHAN.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan