Mohon tunggu...
Anton Bele
Anton Bele Mohon Tunggu... PENULIS

Dosen Kitab Suci di Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang - Kupang, Timor, Nusa Tenggara Timur.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Tokoh dari Sudut Filsafat (39)

22 Januari 2021   17:28 Diperbarui: 22 Januari 2021   17:49 25 2 0 Mohon Tunggu...

Tokoh kunci. Dia menentukan. Dia kuncinya. Segala keputusan tergantung pada tokoh. Dia kunci mulut orang yang menantang dirinya. Dia kunci pembuka hati orang lain. Tokoh menjadi pusat perhatian dalam kerumunan orang. Dia katakan ya, ya, tidak, tidak. Kata putus dinanti dari mulutnya. Dunia berputar di sekitar dirinya. Tokoh hanya ikut apa yang diingini oleh nafsunya. Ada gelora nafsu dalam dirinya dan tersalur atau tidak, tergantung pada diri sang tokoh, bukan pada orang lain. Ada gejolak pendapat dalam nalarnya dan tokoh pegang kunci untuk menerima atau menolak pendapat itu. Ada benturan kepentingan dalam naluri tokoh dan tokoh jadi kunci untuk menenangkan benturan ini. Ada kegalauan dalam nurani tokoh dan tokoh sendiri jadi kunci untuk menenteramkan kegalauan itu. Tokoh jadi kunci untuk tenang dan damainya diri dengan menyatu-padukan secara tepat empat unsur dalam dirinya, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI. (4N, Kwadran Bele, 2011). Tidak ada orang lain memegang kunci suci ini. Dari mana tokoh mendapat kunci ini? Langsung dari DIA, SANG PENCIPTA. Tiap tokoh mendapat dan memegang kunci ini, sehingga pemegang kunci adalah tokoh kunci.

Tokoh menjalani kehidupan dengan menjadi kunci untuk setiap gerak yang ia buat. Tokoh itu saya, anda, dia, kita. Sering kita keliru dalam memandang diri sebagai tokoh. Tiap kita adalah tokoh, penentu hidup kita. Tidak ada orang lain pegang kunci kehidupan kita, selain diri saya sendiri dan itu adalah kesepakatan awal dari kehidupan setiap kita, kesepakatan antara PENCIPTA dan diri saya sebagai Ciptaan. Tidak pernah ada kunci ganda. Satu saja kunci untuk setiap diri kita. Kita buka, yah, buka. Kita tutup, yah, tutup. Itu seratus persen ada di tangan saya, anda, dia, kita. Itulah yang disebut tanggung-jawab atas hidup dan kehidupan yang dianugerakan PENCIPTA kepada masing-masing kita manusia.

Tokoh tidak pernah lenyap dalam kerumuman ribuan orang. Tiap orang itu adalah tokoh dalam keberadaannya masing-masing. Tokoh yang satu diberi panggung untuk berpidato. Tokoh yang lain diberi kesempatan untuk jadi pendengar, penggemar, penggembira, pengawal, pengaman. Itu bukan soal. Setiap tokoh menjaga agar dirinya tetap ada keseimbangan dalam jalur yang benar dengan menyalurkan gerak NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI yang TUHAN berikan kepada dirinya. Saya, Anda, Dia, Kita,  adalah tokoh. Tokoh kunci. Bukan cadangan. Kunci sungguhan. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x