Mohon tunggu...
Anton Bele
Anton Bele Mohon Tunggu... PENULIS

Dosen Kitab Suci di Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang - Kupang, Timor, Nusa Tenggara Timur.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Pohon Jati dari Sudut Filsafat

2 Agustus 2020   13:18 Diperbarui: 2 Agustus 2020   13:06 7 2 0 Mohon Tunggu...

Jati, pohon yang kayunya banyak digunakan untuk meubel yang indah dan mahal yang dipajang di ruang-ruang mewah penuh gengsi.. Jati yang nama ilmiahnya, Tectonia grandis, tumbuh tinggi dan bunganya menjadi lambang hiasan kepala wanita di mana-mana. Hiasan perak atau emas di kepala wanita yang tinggi dan ditambah dengan pernik-pernik yang kemilau bergelantungan meniru indahnya bunga jati menandakan keanggunan pribadi manusia. Kata jati-diri terambil dari pohon jati dan keaslian diri diungkapkan dengan kata sejati, yang asli, tidak ada kepalsuan. Jati diri manusia diibaratkan dengan pohon jati yang kalau dilihat lingkaran kambiumnya langsung terlihat lapisan-lapisan, paling luar, kulit pembalut yang kuat diibaratkan dengan pertumbuhan (NAFSU) yang nampak dan langsung berhubungan dengan alam dan cuaca di sekitarnya. Lapisan kayu yang putih di dalamnya ibarat  lingkaran yang sarat dengan pengalaman dan pengetahuan tentang hebatnya tantangan untuk hidup (NALAR) yang harus dihadapi. Di bahagian lebih ke dalam ada lingkaran yang kokoh, terdiri dari serat-serat yang menyatu (NALURI) dan lapisan tengah terdiri dari teras yang padat berisi dan bernilai tinggi ( NURANI). Jati diri manusia terdiri dari empat lapis ini yang diibaratkan oleh lingkaran kayu pohon jati, NAFSU + NALAR + NALURI + NURANI (4 N, Kwadran Bele, 2011). Empat lapis ini  merupakan satu kesatuan utuh terpadu yang tak terpisahkan dan menampilkan diri sebagai kayu unggulan, demikian pun manusia, menampilkan diri sebagai satu kesatuan utuh yang menampilkan jati diri sebagai manusia yang berpribadi  utuh, harga diri tinggi dan menyatakan diri ada dan hidup tanpa ragu untuk tegak menjulang tinggi menatap langit merangkul sekitar.

Jati tegak seperti pohon lain, kulitnya sama tak ada istimewanya, penutup lingkaran dalam menghalang serangan dari luar. Manusia itu ada NAFSU yang mempunyai fungsi untuk berkontak dengan dunia luar dalam memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan. Bahagian dalam dari pohon tak terlihat tetapi di sana ada jaringan yang menapis dan menyalur zat-zat untuk pertumbuhan pohon. Inilah ibarat NALAR dalam diri manusia yang mengolah segala kebutuhan yang disodorkan oleh NAFSU. Pohon jati semakin kokoh kuat dengan lingkaran dalam yang mengerat-satukan semua jaringan menopang ke luar dan ke dalam serentak menopang pertumbuhan ke bawah dan ke atas. Ini persis sama dengan peran NALURI yang menjaga pertumbuhan pribadi kita manusia dengan merangkul sesama.  Tiga lapisan ini, kulit (NAFSU), lapisan luar (NALAR), lapisan dalam (NALURI ) sama-sama melindungi lapisan inti yaitu teras (NURANI) yang menjadi endapan sari-pati diri manusia. Di sinilah tertampung kesadaran akan hakikat diri manusia dalam kaitan dengan hakikat diri manusia lain yang sama-sama menyadari adanya DIA, SANG MAHA-ADA, inti dari segala inti, teras dari segala teras.

Jati tanpa teras, bukan jati. Jati diri manusia tanpa NURANI ibarat jati tanpa teras, maka jati itu keropos, rapuh tak bernilai. Manusia pun demikian, tanpa NURANI yang jernih, kehilangan jati dirinya, terpelanting jauh dari lingkaran kesatuan dengan sesama dan SANG PENCIPTA. Kita manusia ibarat jati, tumbuh subur, berdiri tegak menjulang, bermahkotakan bunga-bunga putih keemasan, tanda keunggulan dan keagungan di antara sesama pohon yang lain. Di antara semua makhluk ciptaan TUHAN, kita manusia ada dengan segala keunggulan dan keagungan dan ini yang kita pertanggung-jawabkan dengan hidup saling menghargai, saling menghormati, saling mengasihi yang dipadukan dengan tindakan yang sama terhadap SANG CHALIK.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x