Mohon tunggu...
B Budi Windarto
B Budi Windarto Mohon Tunggu... Guru - Pensiunan

Lahir di Klaten 24 Agustus 1955,.Tamat SD 1967.Tamat SMP1970.Tamat SPG 1973.Tamat Akademi 1977

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Beranikah Jadi Yohanes Pembabtis pada Zaman Now?

9 Desember 2021   09:06 Diperbarui: 9 Desember 2021   09:21 58 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bacaan  Kamis 9  Desember 2021

Mat 11:11 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. 12 Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. 13 Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes 14 dan jika kamu mau menerimanya ialah Elia yang akan datang itu.15 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!

Renungan

"Anak guru kok kaya ngono!". Anak guru kok berperilaku begitu. Komentar itu begitu meng-KO kami sewaktu kecil. Tahun 60-an masyarakat berharap anak guru, lebih terpelajar terdidik dari anak non guru. Apalagi ada embel-embel tambahan agama di belakang. Guru agama dan keluarganya harus lebih punya nilai tambah, lebih berkualitas, lebih saleh saleha. Kami anak-anak guru agama, mesti lebih berhati-hati berperilaku, sebab profesi ayah sebagai guru agama terbawa serta,  terkena dampaknya.

Konteks bacaan Injil hari ini, peristiwa  Yohanes ditangkap dan dipenjara. Dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus. Yohanes menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku."

Yohanes dipenjara karena menegur Herodes yang merebut Herodias istri saudaranya. Yohanes akhirnya dipenggal kepalanya oleh Herodes. Tentang Yohanes Pembabtis ini, Yesus memberi pujian. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya" Yohanes Pembabtis adalah nabi terakhir terbesar. Tiada yang lebih besar dari pada Yohanes Pembabtis. Namun demikian orang tidak boleh merasa kecil di hadapan Yohanes Pembabtis. Karena yang paling kecil dalam Kerajaan Sorga adalah lebih besar dari Yohanes Pembabtis. Yang utama adalah kemauan untuk menjadi yang terkecil hadapan Allah. Meski Yohanes terbesar dari semua anak yang dilahirkan perempuan, namun ia memposisikan diri menjadi semakin berkurang, semakin menjadi kecil di hadapan-Nya.  Yesus mesti semakin bertambah, semakin besar dimuliakan. Bukan Yohanes.

Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Dari dulu hingga kini, hasrat syahwat kuasa menjadikan manusia "tumiyung", cenderung bertabiat buruk dan busuk. Lord Acton, sejarawan Inggris, dengan adagium-nya yang terkenal menyatakan : "power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely".  Kekuasaan itu cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secara absolut. Korupsi dan kekuasaan, ibarat dua sisi dari satu mata uang. Korupsi selalu mengiringi perjalanan kekuasaan. Sebaliknya kekuasaan merupakan " pintu masuk" bagi tindak korupsi,pembusukan.

Pada zamannya, pemuka-pemuka agama Yahudi lihai bersembunyi di balik dalil-dalil agama. Ayat agama digunakan sesuai kepentingannya. Orang-orang Farisi dan orang Saduki tak terkecuali. Ketika Yohanes Pembabtis melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, Yohanes berakta "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan". Pemuka-pemuka agama tidak semuanya orang bersih.

Kini pembusukan itu terjadi marak di segala bidang kehidupan bidang ipoleksosbudhankamag. Dalam bidang agama yang semestinya steril dari penyelewengan, malah jadi sarang pembusukan.  Sejumlah kasus korupsi menebarkan bau busuk di Kemenag dan partai politik berbasis agama.  Kasus penyalahgunaan biaya haji dan dana abadi umat Kemenag tahun 2005, menjerat mantan Menteri Agama Said Agil Husin al Munawar. Mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggara Haji (BIPH) Taufik Kamil tersandung kasus korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2003-2005. Pengadaan Alquran dan Laboratorium Madrasah tahun 2011-2012 tak luput dari tindakan korupsi berjamaah sejumlah pejabat  anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan pejabat Kemenag. Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali tercium kasus penyalahgunaan dana haji dan biaya operasional Menteri. Para ketum dan presiden partai politik berbasis agama jual beli jabatan di kemenag dan doyan sapi hitam juga. Mestinya anak guru agama lebih hebaat iman dan takwanya, eheh malah suka maksiat bejat. Ironis.

Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Dari dulu hingga kini, bidang yang berbau agama tetap jadi incaran untuk berkuasa dan untuk menguasai mengontrol  menjinakkan lainnya. Ayat-ayat pustaka suci agama dapat dijadikan tudung kemunafikan, pembenar tindakan amuk massa. Pembusukan di bidang agama lebih berat dan besar tanggungjawab moralnya.  Pemuka agama dapat menajdi ular beludak berbulu manusia. Mengerikan

Semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes  dan jika kamu mau menerimanya ialah Elia yang akan datang itu. Yohanes disejajarkan dengan nabi Elia yang naik ke langit mengendari kereta berapi. Yohanes dan Elia pun berhadapan dengan pemuka-pemuka agama. Pemuka-pemuka, tokoh, aktivis agama jangan merasa jadi anak emas Allah. Yohanes Pembabtis mengingatkan "Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan