Mohon tunggu...
B Budi Windarto
B Budi Windarto Mohon Tunggu... Guru - Pensiunan

Lahir di Klaten 24 Agustus 1955,.Tamat SD 1967.Tamat SMP1970.Tamat SPG 1973.Tamat Akademi 1977

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Kembali ke Komunitas, Tomas Berkualitas!

3 Juli 2021   09:59 Diperbarui: 3 Juli 2021   10:02 55 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kembali ke Komunitas, Tomas Berkualitas!
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Bacaan Sabtu 3 Juli 2021            

Yoh 20:24   Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Renungan

"Dadi warganing Pasamuwan Suci kuwi kudu gelem kumpul. Yen ora gelem kumpul bakal ucul, nanging yen gelem kumpul kudu wani cucul" Menjadi  awrga Gereja itu harus mau berkomunitas-berpaguyuban. Jika tidak mau berkomunitas akan lepas, tapi jika mau berkomunitas harus berani berbagi, bersolidaritas).

Itulah warisan indah alm Kardinal Justinus Darmojuwono untuk mendorong hidup menggereja. Manakala ada permasalahan, kesukaran, kegeliasahan kehidupan, seseorang lepas dari komunitas, dapat bablas, tidak lagi berkualitas, bahkan "babak bundhas", hancur lebur tidak "karuan", berantakan. Namun jika tetap bertahan dalam komunitas, kehidupan jadi tuntas tatas, berkualitas, puas.

Bacaan Injil hari ini menarasikan Tomas yang lepas dari komunitas. Tomas mendapati realita, Yesus Sang Guru yang diikutinya mati muda dan bentuk kematiannya memalukan, ditelanjangi dan disalibkan. Peristiwa salib tidak dapat dimengertinya. Bagi orang Yunani salib adalah kebodohan, bagi orang Yahudi salib jadi batu sandungan, bagi yang lain salib ada jin kafirnya. Ia melepaskan diri dari komunitas para rasul-Nya. Penuh kegundah-galauan, Tomas meninggalkan komunitas, mempertanyakan siapa Yesus sesungguhnya? Sang Guru sejatikah Dia? Sungguhkah Ia datang dari Allah?

Sementara mengembara mencari jawaban pertanyaan eksistensial kehidupannya, ia mendengar berita bahwa beberapa perempuan mengatakan bahwa Yesus telah bangkit, hidup menampakkan diri kepada mereka. Rupanya Petrus dan kawan-kawannya ternyata termakan juga. Konon ketika ia tidak sedang sekomunitas dengan mereka,  Yesus mendatangi mereka.  Bahkan pada kesempatan lain ketika berjumpa dengan murid-murid lainnya, mereka berkata  kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Maka dengan sengak  Tomas bereaksi. "Kamu semua kok kayak anak kecil. Aku, Tomas, sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku, Tomas  tidak akan percaya." Salib dan kebangkitan adalah suatu hal yang tak dapat dimengerti otak warasnya.

Pencarian jawaban eksistensial di luar komunitas terus dijalankan. Nsmun pengembaraan batinnya mempertimbangkan juga komunitasnya.  Ia mau kembali hadir saat ketika murid-murid-lainnya berkomunitas. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang. Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"  Kepada Tomas  Ia berkata: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."

Tomas kaget  ternyata Yesus yang mati disalibkan, ikut mendengar kata-kata sengak yang pernah diucapkannya. Tomas tersadar tidak semua kebenaran kehidupan mesti lolos uji dengan panca indera ini.  Tidak semua kebenaran mensyaratkan bukti fisik, yang harus bisa dipegang, diraba, dilihat, dirasa, didengar sendiri.  Kesadaran, pencerahan yang membuatnya berani melompat dari keterbatasan otak warasnya. Pengalaman spiritual didapatkannya dalam komunitas. Tomas mengamini-Nya tanpa harus melihat bekas luka-luka salib-Nya, apalagi menaruh dan mencucukkan tangan pada lambung-Nya. Bagai bocah dalam genggamannya ada hal yang disembunyikan. tertangkap basah diminta ayah, mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan. Dengan tersipu malu bagai bocah, Tomas bersujud tunduk menyembah  berdesah: "Ya Tuhanku dan Allahku!".

Pengembaraan Tomas, pencarian jawaban eksistensial kehidupan tuntas  tatas sudah dalam komunitas. Dalam komunitas, iman Tomas berproses tumbuh mekar berkualitas. Bagi Tomas, Yesus bukan hanya Tuhan dan Allah, melainkan Tuhanku dan Allahku. Baginya mengalami Yesus pada dasarnya mengalami Tuhan dan Allah sendiri. Melihat, mendengar, bersama Yesus hakekatnya melihat, mendengar dan bersama Tuhan Allah sendiri.

Tomas mendapatkan dasar kuat kesaksian akan Yesus, Tuhan dan Allah yang hidup dalam komunitas. Inilah model pengalaman spiritual yang mesti dialami setiap warga komunitas berikutnya. Komunitas yang tidak mengalami-Nya secara fisik material, mesti memproses diri bersama dan dalam komunitas, sehingga dimampukan untuk juga mengamini-Nya  "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kini, di sini bagiku, Yesus bukan hanya Tuhan dan Allah, melainkan Tuhanku dan Allahku. Berkat salib dan kebangkitan-Nya, dimungkinkan komunitas-Nya tetap dapat  mengalami Yesus sebagai mengalami Tuhan dan Allah sendiri. Sekalipun tidak melihat, mendengar dan bersama Yesus historis, komunitas-Nya tetap dapat melihat, mendengar dan bersama Tuhan Allah sendiri dalam Yesus Kristus, Allah yang memanusiakan diri. Sukacita mesti menyertai. Bukan hanya ditujukan kepada Tomas, untuk komunitas-Nya kini masih bersabda: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN