Humaniora

Membaca, Mengubah dari yang Tak Biasa Menjadi Budaya

12 Oktober 2017   22:08 Diperbarui: 12 Oktober 2017   22:41 266 1 2

"Buku adalah jendela dunia" slogan ini adalah slogan yang selalu ada pada buku yang saya baca pada waktu SD dulu. Tepatnya saat membaca adalah salah satu sumber utama untuk mengetahui sesuatu yang baru, bahkan pengisi waktu. Dewasa ini budaya membaca buku tidaklah hilang, hanya saja opsi yang ditawarkan menjadi lebih banyak. Contohnya untuk mendapat berita, kita sekarang tidak hanya dengan membaca koran, ada pilihan lain seperti mendengarkan radio, membaca dari media daring, melihat televisi, dan masih banyak yang lain. Begitu juga dengan kebiasaan membaca, lebih banyak pilihan yang bisa diambil, bahkan kita sekarang bisa membaca buku tanpa memegang bukunya, karena sekarang sudah ada e-bookyang bisa diakses dari perangkat telepon genggam/smartphone.

Seiring dengan majunya zaman, telepon genggam yang dahulu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang berada, sekarang bisa dimiliki oleh anak-anak, bahkan tak jarang telepon genggam si anak lebih canggih dari milik orang tuanya. Kenyataan tersedianya media dan kemudahan akses, memunculkan lebih banyak pilihan yang bersifat penggoda, seperti game, youtube,dan media sosial. Coba sekarang kita bandingkan saja, berapa aplikasi membaca pada telepon genggam anak-anak sekarang (atau bahkan pada telepon genggam kita sendiri) dibandingkan dengan aplikasi game, youtube,dan media sosial?

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Artinya untuk membentuk sebuah budaya diperlukan waktu yang lama, bukan hanya sekejap mata. Begitu pula dengan membaca, untuk menjadi sebuah budaya, maka harus dibiasakan sejak dari kecil dengan memberikan panutan dari generasi sebelumnya, artinya kita juga punya peran memberi contoh. Siapakah "kita" yang dimaksud disini? Semua elemen yang ada di lingkup kehidupan si anak, mulai dari orang tua, guru, dan lingkungannya.

Mengapa harus membaca? Menurut Taufiq Pasiak, dokter ahli otak dan tengkorak penulis buku "Revolusi IQ/EQ/SQ dan Management Otak" membaca dapat mengolahragakan otak. Sama halnya dengan otot--otot dalam  tubuh, otak juga membutuhkan latihan agar tetap sehat dan kuat. Penelitian menunjukkan bahwa menstimulasi otak dengan cara membaca dapat memperlambat, bahkan mencegah penyakit Alzheimer dan Dimensia atau pikun. Karena  membaca  akan meningkatkan daya ingat. Selain itu membaca juga dapat meningkatkan fokus. Pada saat membaca buku otak kita lebih fokus pada apa yang dibaca. Hal ini akan melatih kita untuk dapat fokus dalam melakukan berbagai macam kegiatan atau rutinitas keseharian yang lain.

Manfaat tambahan untuk anak-anak, diantaranya juga bisa untuk menumbuhkan karakter dan budi pekerti yang baik. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh New York University menunjukkan bahwa membaca dapat meningkatkan kemampuan untuk memahami perasaan orang lain atau berempati pada orang lain. Sehingga dapat meningkatkan kualitas hubungan yang lebih baik dengan orang sekitarnya. 

Hal ini sangat penting untuk membangun karakter anak, tentunya dengan bimbingan orang tua dan bacaan yang sudah dipilih. Contohnya jika anak membaca cerita Malin Kundang, maka anak akan mengerti bahwa apa yang dilakukan Malin Kundang itu tidak baik, akan tertanam dalam perilakunya bahwa tidak boleh mencontoh perilaku Malin Kundang. Hikmah--hikmah dari sumber bacaan seperti ini akan membangun persepsi berpikir anak yang nantinya akan mengendap di otak bawah sadar dan melahirkan perilaku atau karakter.

Keadaan Budaya Baca di Indonesia

Pada saat saya mencari data mengenai budaya baca di Indonesia, jujur saya miris setelah menemukan dan membacanya. Menurut data dari The Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia. Dari dalam negeri sendiri, BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2006 menyampaikan informasi bahwa membaca ternyata belum menjadi kegiatan utama masyarakat dalam mendapatkan informasi. Hal ini didukung oleh data 85,9 % orang lebih memilih menonton TV, 40,3 % mendengarkan radio dan hanya 23,5 % yang membaca koran sebagai sumber informasi.

Menurut penelitian yang lain, IEA (International Education Achiecment)  melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara yang disurvey. Sedangkan survey dari UNESCO minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Ini artinya dari 1000 masyarakat Indonesia baru 1 orang yang memiliki minat baca.

Paling baru, tahun 2016 yang lalu, berdasarkan studi "Most Littered Nation in the Word" yang dilakukan oleh Central Connecticut State University menyatakan berkaitan dengan minat membaca, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang disurvey.  Indonesia tepat berada satu tingkat dibawah Thailand yang menduduki urutan ke 59 dan berada satu tingkat di atas negara Bostwana yang menduduki urutan ke 61. Padahal untuk infrastruktur yang mendukung kegiatan membaca, Indonesia berada di urutan 34, di atas beberapa negara Eropa seperti Jerman, Portugis, dan Selandia baru. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih belum optimal dalam memanfaatkan infrastruktur yang ada.

Menilik dari data dan fakta tersebut, tidak heran Pemerintah kita mulai menggenjot budaya membaca atau literasi, melalui Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 tentang wajib Penumbuhan Budi Pekerti melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS).  Pada tahap pembiasaan harus ada kegiatan membaca buku non pelajaran selama lima belas menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. 

Negara kita yang menurut BKKBN digadang-gadang akan mendapat bonus demografi pada tahun 2020-2030, sudah melakukan hal yang tepat dalam mengatasi masalah literasi untuk menyiapkan generasi tersebut. Harapannya tingkat membaca masyarakat Indonesia akan semakin berkembang seiring dengan pemahaman pentingnya membaca dan latihan yang terus menerus. Dengan demikian kecepatan membaca orang Indonesia yang berkisar antara 150-300 KPM pasti meningkat, dimana efeknya akan berbanding lurus dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebuah Usulan

Tidak adil rasanya jika kita mengupas hal yang kurang baik tanpa memberi solusi. Jika terjadi pergeseran budaya dari cetak menjadi digital, maka kita harus mengikuti arus yang mengalir. Kita gunakan media digital sebagai upaya untuk menggiatkan budaya baca ini, media tersebut bisa berupa komputer ataupun smartphonemelalui jaringan internet. 

Berdasarkan survei yang dilakukan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Dimana rata-rata pengakses internet di Indonesia menggunakan perangkat smartphone, dengan rincian 67,2 juta orang atau 50,7 % mengakses melalui perangkat genggam dan komputer, dan 63,1 juta orang atau 47,6 persen mengakses dari smartphone.

Masih dari survey yang sama, pengguna yang berasal dari kalangan pelajar tercatat 8,3 juta pengguna, atau 6,3% dari total pengguna, angka yang sangat besar tentunya. Semua sepakat bahwa penyumbang jam terbanyak dari total penggunaan jam berinternet ria adalah media sosial. 3 besar media sosial yang paling sering dikunjungi adalah Facebook, Instagram, dan Youtube. Facebook sebagai jawara dengan angka sebesar 71,6 juta pengunjung atau 54%. Disusul Instagram dengan 19,9 juta (15%) dan Youtube 14,5 juta (11%).

Pertanyaan terbesar, mengapa pengguna internet di Indonesia khususnya para remaja sangat menyukai sosial media? Seperti dilansir dalam situs Psychology Today, Selasa, 25 Juni 2013 yang lalu, ada 4 alasan utama mengapa remaja menjadi maniak media sosial. 4 alasan tersebut diantaranya rasa ingin mendapat perhatian, ini bisa dilihat dari harapan para remaja ini mendapat angka follower, viewer, atau like terbanyak. Setelah itu berturut-turut untuk meminta pendapat, menumbuhkan citra, dan yang terakhir adalah kecanduan. Rasanya alasan tersebut sampai sekarang masih merupakan alasan utama para remaja sangat menggilai sosial media.

Berdasarkan data dan fakta tersebut di atas saya mengusulkan menggunakan tingginya penggunaan smartphone pada pelajar untuk menumbuhkan budaya literasi. Sebenarnya banyak siswa-siswa kita yang berbakat dalam hal tulis menulis, banyak yang suka membaca, tetapi wadah yang disediakan masih terlalu minim, akhirnya mereka lari ke faktor penggoda. 

Pada tanggal 12 Januari lalu Dikti dalam siaran persnya mengumumkan bahwa peneliti Indonesia berhasil mengembangkan smartphone di ITB. Smartphone ini merupakan hasil kerjasama antara akademisi, industri, pelaku pasar dan pemerintah yang akan segera diproduksi secara massal. Usul yang saya berikan yaitu menanamkan aplikasi yang berfungsi sebagai ruang baca dan cipta bagi pelajar.

Dengan adanya aplikasi ini diharapkan siswa bisa mengunggah hasil tulisan mereka agar bisa dibaca oleh masyarakat umum khususnya para pelajar di seluruh Indonesia. Dimana unsur jumlah reader, like, dan follower tetap dicantumkan, karena ingat, remaja masih sangat haus akan perhatian. Kita gunakan reader, like, dan follower menjadi daya tarik mereka untuk terus berkarya, karena semakin positif tanggapan maka akan semakin meningkatkan motivasi berkarya selanjutnya. Dan apabila konten yang diunggah siswa belum mendapat tanggapan yang diinginkan, harapannya para pelajar ini akan berusaha untuk memperbaiki dan mengembangkan konten mereka, sehingga akan berdampak positif pada penulis maupun pembaca.

Gambaran saya untuk aplikasi ini nantinya memiliki sub forum untuk memfasilitasi ketertarikan siswa kepada konten yang sesuai dengan minat mereka. Jadi nanti ada sub forum fiksi, olahraga, ilmu pengetahuan dan teknologi serta berbagai lingkup minat yang disukai para remaja. Tentu saja nanti ada admin yang memantau isi dari konten yang telah diunggah. Bagaimana untuk memastikan bahwa pengunggah adalah benar-benar siswa dan bukan orang yang tidak bertanggung jawab? Caranya dengan login menggunakan NISN siswa, dimana data tersebut telah tersimpan di server Kemendikbud. Dengan demikian penyalahgunaan aplikasi bisa diminimalisir.

Selain mobile based, maka aplikasi ini sebaiknya juga dibuat versi web based nya, karena tidak semua siswa memiliki perangkat smartphone untuk mengakses. Memang masih ada kendala untuk daerah yang berada di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) karena terbatasnya sarana dan prasarana, tapi guru bisa berperan sebagai konektor antara siswa dengan aplikasi tersebut. 

Bukan tidak mungkin nanti akan muncul Laskar Pelangi yang lain. Pemerintah juga bisa memberikan andil dengan menyeleksi bisa bulanan, triwulan, atau tiap semester dari konten yang terunggah untuk nanti bisa dipublikasikan dalam bentuk digital maupun cetak. Bagi karya yang terpilih, Pemerintah bisa memberikan reward yang membangun kreatifitas siswa untuk lebih baik lagi.

 Sudah selayaknya kita tidak alergi dengan gadget, jika memang kesana arah air mengalir, maka mari kita ikuti arusnya. Awasi pemakaiannya, fasilitasi penggunaannya, nikmati hasilnya. Kita laksanakan amanat Undang-undang nomor 3 tahun 2017 mengenai perbukuan, dimana literasi sangat ditekankan. Mari bersama-sama siapkan generasi muda Indonesia agar mampu menjawab tantangan abad ke-21 dan mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045.