Mohon tunggu...
Bayu Samudra
Bayu Samudra Mohon Tunggu... Freelancer - Penikmat Semesta

Secuil kisah dari pedesaan

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Petani Milenial Wajib Ikut Kelompok Tani agar Tidak Jera di Sektor Pertanian

5 November 2021   08:32 Diperbarui: 5 November 2021   11:02 1629
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lahan satunya, ditanami pepaya, baru umur ±4 bulanan (dokumentasi pribadi)

Mungkin harga jual hasil pertanian murah ya? Sekarang, buah jagung hanya 1500 per kilo, cabai 4000 per kilo, gabah padi 4500 per kilo. Harga naik turun tergantung persediaan dan permintaan.

Pertengahan 2020, saya mulai mencoba menanam cabai. Mungkin hampir bersamaan dengan tulisan Mas Ozy tentang cabai keriting. 

Untuk menaman cabai cuma satu permasalahannya, yaitu pupuk. Kalau benih tanaman cabai tidak ada perbedaan harga, sebab tidak dijual di kios pertanian (yang dijual disana biji tanaman cabai). 

Jagung sudah keluar bunga, tak lama lagi bakal berbuah (dokumentasi pribadi)
Jagung sudah keluar bunga, tak lama lagi bakal berbuah (dokumentasi pribadi)

Kita tuh beli benih tanaman cabai, harganya 125 ribu per 1000 batang (2020), sekarang sudah 150 ribu per 1000 batang (untuk cabai TW/lombok TW). 

Ini lebih pedas, hijau merona, dan dalam satu bulan tanam sudah mulai berbuah. Lebih unggul ketimbang jenis cabai lain, meski perawatannya lebih ekstra. Tinggi risiko tinggi pula keuntungannya.

Satu petak ladang atau sawah butuh 4000—6000 benih cabai dari beragam jenis. Bisa dikalikan sendiri biaya benih cabai sudah menyentuh angka 500 ribuan. 

Kebutuhan pupuk cukup beragam ada ZA, urea, dan mutiara NPK (2:2:1). Jadi, secara tidak langsung biaya awal menanam saja sudah butuh sekitar 2 juta-an, belum untuk perawatan dan panen. 

Waktu itu awal 2021, gagal panen. 

Karena menanam cabai di akhir 2020 yang saat itu dan tidak ada perubahan cuaca yang siginifikan, masih kemarau, walau kalender cuaca sebenarnya musim hujan, tapi tak kunjung hujan, jadilah diputuskan menanam cabai. Petani yang lain pun begitu. Tapi, siapa sangka, hujan terus mengguyur di pertengahan Januari hingga Februari 2021.

Tanaman cabai yang masih setinggi ±25 senti mati kebanjiran. Terlalu banyak air, mati. Ratusan petani di desa saya termasuk saya, rugi habis-habisan. Ya mau gimana, cuaca gak tentu. Ini salah satu dampak perubahan iklim.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun