Basril Tarigan
Basril Tarigan Dreamer

Simple writer, big dreams.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Akibat Penghormatan Rival di Lapangan

23 April 2019   21:54 Diperbarui: 24 April 2019   14:21 328 7 0
Akibat Penghormatan Rival di Lapangan
ilustrasi-dokpri-kolase

Jika pemilu dapat diibaratkan dengan sebuah pertandingan sepak bola maka yang sedang bertanding ialah klub Barcelona dengan Real Madrid.

Laga El Clasico memang memberikan rasa greget yang berbeda bagi fans klub. Ketika jadwal pertandingan sudah keluar, maka saling mengejek antar fans di dunia maya sudah menjadi lumrah, bahkan tak jarang pemain juga terkena imbasnya, dijadikan meme untuk lucu-lucuan.

Begitu juga pemilu kali ini, banyak meme yang  menggelitik beredar di dunia maya khususnya usai debat pilpres. Kadang saya rasa meme tersebut tidak patut dibuat, apalagi jika ada unsur mengejek.

Pada pertandingan sepak bola tentu ada ketentuan yang menjadi standar pertandingan, misalnya jumlah pemain, jumlah wasit yang bertugas, waktu bermain normal ialah dua kali 45 menit dan ada ketentuan untuk babak tambahan dan sebagainya.

Demikian juga untuk pemilu sudah punya standar untuk keberlangsungannya. Sengitnya kontestasi pemilu membuat atmosfer perpolitikan memanas. Saat di lapangan hijau terjadi pelanggaran maka ada wasit yang mengambil keputusan, apakah hanya pelanggaran biasa atau pelanggaran dengan hadiah kartu sakti dari wasit. Demikian juga untuk tindakan saat proses pemilu, apakah sebatas pelanggaran administratif atau pidana, sudah ada pihak berwenang untuk menanganinya.

Dalam pertandingan sepak bola perlu strategi agar dapat menang, khususnya kalau itu laga el clasico  maka tekanan akan sangat besar. Kadang permainan menjadi sangat emosional sebab yang bertanding sudah menjadi musuh bebuyutan lebih satu abad sejak pertandingan pertama mereka.

Bagi fans kedua klub ini pasti mudah mengingat pertandingan November 2010 lalu, laga bertensi tinggi dimana wasit mengeluarkan kartu kuning sebanyak 13 dan satu kartu merah. Namun, kemenenang dengan cara elegan pasti akan mendapatkan apresiasi dari pihak lawan ataupun para pendukung.

Demikian juga, mungkin masyarakat sudah berkubu-kubu karena dukungan terhadap salah satu paslon. Hal tersebut wajar, tapi jangan sampai melebihi batas wajar. 

Jika  pendukung pesepak bola dapat disamakan dengan pendukung paslon, maka ini akan menjadi menarik. Sebab para pendukung klub kesayangannya tidak gratis masuk stadion, bahkan harus merogoh kocek dalam-dalam bagi pendukung yang datang dari luar negeri hendak menonton secara langsung pertandingan. Demikian juga setiap kegiatan berkaitan pemerintahan merupakan dari pajak rakyat, maka sebaiknya rakyat bijak.

Jika di stadion pertandingan pendukung klub membuat keributan maka pertandingan bisa saja di hentikan, konsekuensinya mungkin pertandingan di ulang tanpa penonton atau tidak dilanjutkan sama sekali.

Keributan yang terjadi kerap kali karena pemain yang ada di lapangan, entah itu bermain kasar atau curang. Maka perlu bagi pemain di lapangan untuk bertindak sportif agar tidak terjadi keributan. Demikian juga, bagi paslon yang sudah tahu tensi politik yang sedang memanas harus disejukkan.

Setelah berlangsungnya pemilu sebaiknya para paslon menunjukkan sikap sebagai negarawan sama-sama ingin Indonesia lebih baik.

Kalau di lapangan hijau, menukar kaos yang dipakai saat pertandingnan berakhir adalah bentuk penghormatan. Maka tidak akan ada luka bagi klub yang kalah dalam pertandingan dan kesombongan bagi yang menang. Bahkan momen tersebut menjadi waktu yang tepat untuk menunjukkan tanda persahabatan antar pemain berbeda klub dan sportivitas olahraga.

Begitu juga dengan para paslon, perlu menunjukkan penghormatan terhadap lawan tanding sementaranya. Jika dilakukan akan memberi efek luar biasa. Pendukung yang sudah terpolarisasi akan terketuk hatinya dan kembali bersatu. 

Dan yang paling penting, apapun hasil dari pemilu yang akan ditetapkan nanti, semua pihak dapat menerima dengan lapang dada. Dan, bergandengan tangan melangkah kedepan untuk Indonesia jaya.