Mohon tunggu...
Sofyan Basri
Sofyan Basri Mohon Tunggu... Anak Manusia

Menilai dengan normatif

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Cukupkah KNPI Menjadi Benar atau Sesekali Menjadi "Onar"

3 Maret 2020   01:30 Diperbarui: 3 Maret 2020   01:46 13 0 0 Mohon Tunggu...

Pada sebuah buku "Manajemen Merah Putih: Kumpulan Esai yang Mulanya Berserakan" yang merupakan kumpulan esai yang ditulis oleh Hafriadi Hamid pada halaman 96 dibaris ketiga pada paragraf pertama ditulis "Sebagai organisasi tua, KNPI menganggap diri sebagai bagian penerus generasi sumpah pemuda".

Kalimat ini tentu adalah sebuah tantangan sekaligus mungkin "cibiran" atas apa yang terjadi hari ini dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Karena tentu sebagai penerus generasi muda, KNPI harus menjadi wadah untuk melahirkan calon pemimpin masa depan. Jika tidak, itu akan berubah menjadi "cibiran".

Tentu semua orang paham betul bagaimana asal muasal kelahiran KNPI. Dimulai ketika Mayor Jenderal Ali Moertopo pada tahun 1973 yang sering mengadakan diskusi dengan sejumlah pemuda dari berbagai latar belakang seperti HMI, PMKRI, GMNI, GMKI, dan PMII di Cipayung, Bogor. Karena itu, kelompok ini pada waktu itu terkenal dengan kelompok Cipayung.

Waktu terus bergerak maju dan diskusi demi diskusi terus berlanjut. Hingga akhirnya lahirlah ide tentang sebuah wadah persatuan bagi seluruh kelompok pemuda dari berbagai latar belakang tersebut. Sebagai orang yang dekat dengan kekuasaan (baca: Soeharto) waktu itu, Ali Moertopo tidak sulit untuk membangun komunikasi dengan para pejabat.

Eksistensi diskusi untuk melahirkan organisasi induk kepemudaan terus digalang oleh Ali Moertopo, hingga ia bertemu dengan Midian Sirait yang juga anggota DPRGR, Akbar Tandjung, dan David Napitupulu. Diputuskanlah secara resmi kelahiran KNPI pada 23 Juli 1973 dengan menunjuk David Napitupulu sebagai ketua pertama.

Kedekatan KNPI dengan penguasa terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya hingga hari ini. Sebagai akibat baik dari organisasi ini, maka sejumlah pentolannya pun bernasib baik. Lihatlah misalnya David Napitupulu dan Akbar Tanjung yang dapat menjadi tokoh dan pemimpin nasional. David menjadi duta besar untuk Meksiko dan Akbar diangkat menjadi Menteri.

Pertanyaannya kemudian, apakah KNPI menjadi sebuah kesalahan ketika manut dengan penguasa. Tentu saja hal ini sangat mungkin untuk diperdebatkan. Kupikir, secara teori kebenaran KNPI tidak salah berhubungan mesra dengan kekuasaan. Kan orang yang diberikan kekuasaan baik ditingkat nasional maupun didaerah berasal dari sistem demokrasi juga kan.

Apalagi misalkan keduanya saling menguntungkan. KNPI secara kebijakan dapat dana hibah dari kekuasaan. Dan tentu saja, dana tersebut dapat memperlancar program kerja KNPI pada tiap kepengurusan. Sehingga ketika kemudian KNPI mendukung program dan kegiatan kekuasaan maka hal itu adalah sebuah kewajaran.

Secara histori kelahiran, kebesaran, kedewasaan KNPI tidak lepas dari kekuasaan. Lalu apa salahnya ketika mendukung RUU Omnibus Law? Dimana bentuk keanehannya? Dari sisi mana kita harus terkaget-kaget dan terheran-heran? Bukankah benih dan awal pendirian KNPI juga berasal dari sana (baca: kekuasaan).

Sebagai wadah berhimpun pemuda, untuk menilai KNPI secara bijak tanpa menjustifikasi. Maka perlu dilakukan penelusuran wadah berhimpun pemuda, misalkan Budi Utomo. Kelahiran Budi Utomo yang menjadi cikal bakal pergerakan nasional tidak tunduk pada kekuasaan (baca: VOC/Belanda). Gerakannya di luar kekuasaan membuat gerak-geriknya dibatasi.

Akan tetapi, dalam perjalanannya, Budi Utomo tidak pernah mundur dan gentar. Bahkan pada 30 April 1926 berhasil melaksanakan Kongres Pemuda I yang dihadiri oleh sejumlah pemuda dari berbagai daerah seperti Jawa, Sumatera, Ambon, Batak, Minahasa, dan lain-lain tapi menemui jalan buntu. Kemudian segera mempersiapkan Kongres Pemuda II.

Berselang dua tahun yakni pada 27 dan 28 Oktober 1928 Kongres Pemuda II berhasil dilaksanakan. Peserta Kongres Pemuda II tersebut lebih banyak dari sebelumnya. Pada pertemuan itu, lahirlah Sumpah Pemuda "Mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia".

Dipertemuan itu juga, pertama kalinya WR Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan alunan biolanya. Kemudian dinyanyikan untuk pertama kalinya oleh Dolly Salim yang merupakan putri salah satu tokoh bangsa, Haji Agus Salim. Pada waktu setelahnya, Budi Utomo menjadi modal penggerak hingga melahirkan NKRI.

Budi Utomo yang dalam perjalanannya berada diluar kekuasaan tidak berhenti melahirkan pemuda hebat. Salah satu diantaranya adalah Aboekassan Atmodirono. Walau pada dasarnya Atmodirono gagal mendalami politik tapi jiwa arsiteknya menjadi bahan perbincangan. Terutama ketika ia diberi kesempatan untuk berpidato di Volksraad dan menyampaikan pesan yang begitu menggugah.

Karena itu, baik KNPI maupun Budi Utomo masing-masing melahirkan tokoh besar dan pemimpin besar. Walau gerakan dan sikapnya terhadak kekuasaan sangat jauh berbeda. Tentu ini harus menjadi pelajaran dan evaluasi diri bagi KNPI untuk tidak "terlalu" manut dengan kekuasaan. Bahwa telah ada contoh organisasi yang bergerak di luar kekuasaan dan mampu berbuat banyak pula.

Namun demikian, jika memang dua organisasi di atas terlalu jauh untuk disandingkan. Apalagi misalkan keduanya terpaut waktu yang sangat jauh dan situasi dan kondisi yang berbeda. Maka jalan tengah bisa kita ambil adalah filosofi gerakannya. Bahwa KNPI telah benar memilih jalurnya hari ini untuk terus berdada dalam ketiak kekuasaan seperti pada masa kelahirannya.

Dan Budi Utomo lebih dalam dari kebenaran. Ia memilih untuk tidak hanya sekedar menjadi benar tapi lebih dari itu, Budi Utomo memutuskan untuk berempati dan peduli atas situasi dan kondisi para pemuda bumiputra waktu itu. Dimana hanya kalangan para priyai yang dapat menikmati pendidikan dan lain sebagainya. Ini tentu bisa jadi pertimbangan.

Bahwa KNPI sudah cukupkah hanya menjadi benar? Atau memilih jalan radikal untuk melakukan "pemberontakan". Apalagi masa depan bangsa dan negara ini pada waktu yang akan datang berada ditangan para pemudanya. Oleh karenanya, bagaimana mungkin Indonesia mampu meraih keemasan pada 2045 jika pemuda hanya tunduk dan patuh pada kekuasaan.

Sebuah pesan moral yang fenomenal pernah dilontarkan oleh founding fathers, Ir Soekarno "Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia". Apakah pemuda yang dimaksud Soekarno itu adalah yang manut dan penurut? Tentu kita semua secara sadar dapat mengartikannya.

Menjadi benar tidaklah salah tapi apakah dengan menjadi benar harus melupakan rasa empati dan kepedulian. Bahwa dengan mendukung RUU Omnibus Law yang menurut sejumlah akademisi sangat mengerikan itu akan mendapatkan simpati dan pengakuan kepengurusan secara sah dari pemerintah adalah langkah benar di tengah dualisme kepengurusan ditingkat nasional dan daerah, termasuk di Sulsel.

Tapi apakah hal itu tidak melacurkan nurani, empati dan peduli orang-orang KNPI itu sendiri? Dan apakah catatan KNPI sebagai penerus generasi sumpah pemuda bukanlah sebuah cibiran? Tentu kita punya asumsi dan opini. Silahkan tulis dikolom komentar. Hahaha

Kupikir cukup sekian, salam cinta, aku mencintaimu.

VIDEO PILIHAN