Mohon tunggu...
Banu Adzkar
Banu Adzkar Mohon Tunggu... Mahasiswa

Masih dan terus belajar

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Bertahan Hidup di Era Post Truth

11 Maret 2021   12:07 Diperbarui: 11 Maret 2021   12:16 126 3 0 Mohon Tunggu...

Sebagaimana perkembangan zaman yang selalu dinamis, manusia juga dituntut untuk dapat beradaptasi. Penyesuaian diri terhadap keadaan menjadi kunci agar kita tetap bisa survive di zaman sekarang ini. Tanpanya, mungkin kita akan punah sama seperti makhluk-makhluk sebelum kita yang sering kita lihat di buku-buku pelajaran sejarah.

Saat ini, kita tengah hidup dalam masyarakat informasi. Masyarakat informasi melihat bahwa proses produksi, distribusi, dan konsumsi informasi merupakan bagian dalam seluruh kegiatan sosial ekonomi. Artinya, modal ekonomi-sosial didasarkan pada informasi, dan informasi menjadi komoditas utama. Era saat ini merupakan era baru dari kapitalisasi. Dimana bukan modal lagi yang menentukan siapa yang berkuasa, melainkan data atau informasi. Siapa yang memiliki informasi yang tidak dimiliki orang lain, maka dialah yang akan menguasai dunia.

Lalu Lintas Informasi di Era Post-Truth

Berkembangnya teknologi komunikasi begitu pesat hari ini. Hampir setiap orang memiliki perangkat teknologi handphone yang mampu mengakses informasi dengan begitu bebasnya. Kehadiran internet mampu menembus batas ruang dan waktu, sehingga informasi dari belahan dunia manapun mampu diakses dengan begitu cepat.

Tak ayal, lalu lintas informasi menjadi begitu padat dan masif. Setiap detik ada berita baru yang diproduksi dan didistribusikan melalui internet. Kompas.com mencatat bahwa pengguna aktif internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa atau sekitar 73% dari total populasi sebesar 274,9 juta jiwa pada Januari 2021. Hal ini di satu sisi menjadi pertanda baik dimana masyarakat mampu mengakses informasi dengan begitu cepat.

Namun sebaliknya, cepatnya laju informasi ini tentunya mampu menjadi boomerang tersendiri. Kesiapan masyarakat menjadi sesuatu yang urgent, mengingat banjir informasi ini terjadi setiap saat. Dan apakah masyarakat kita sudah siap?

Nyatanya, masyarakat kita masih banyak yang gagap dan menelan mentah-mentah informasi yang diterima. Crosscheck berita masih terdengar asing di telinga masyarakat, sehingga -dengan didukung perangkat teknologi yang memadai- hoaks dapat berkembang biak dengan cepat, dan segera menjadi 'pandemi' bagi masyarakat Indonesia.

Terlebih di era post truth sekarang ini, dimana kebenaran bukan lagi sesuatu yang utama. Kemajuan perkembangan teknologi hari ini memungkinkan kita untuk memilih alternatif pilihan media kita. Akibatnya, orientasi bermedia kita bukan lagi pada benar atau salah, namun beralih pada suka atau tidak suka. Selama berita atau informasi itu berpihak pada kita, menguntungkan kita, maka kita akan percaya, walaupun kebenarannya masih belum jelas.

Pola perilaku ini diperparah dengan algoritma di internet kita saat ini, dimana Artificia Intelegence (AI) -dengan kecerdasannya- akan memberikan rekomendasi informasi lain yang sesuai dengan yang kita suka, sehingga pada tingkat hilirnya kita akan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, bukan sesuatu yang kita butuhkan.

Pola seperti ini pada gilirannya akan memunculkan fanatisme dan dampaknya kita menjadi susah untuk menerima perbedaan. Sehingga masyarakat saat ini gampang tersulut ketegangan yang akhirnya mengarah kepada konflik.

Simpelnya bisa kita lihat pada pilpres 2019, dimana masyarakat Indonesia begitu mudahnya terkotakkan menjadi Cebong dan Kampret. Logika yang berlaku yaitu orang yang tidak suka Cebong berarti pro kampret, begitupun sebaliknya. Mengerikan bukan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x