Mohon tunggu...
Asep Wijaya
Asep Wijaya Mohon Tunggu... Jurnalis - Pengajar bahasa

Penikmat buku, film, dan perjalanan

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Film "5PM", Cerita Sederhana di Balik Terpautnya Hati Lima Pemuda dengan Masjid

12 April 2018   19:09 Diperbarui: 12 April 2018   19:30 1959
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gala Premiere 5PM (koleksi pribadi)

5PM, dengan kepanjangan Penjuru Masjid (PM) ataupun Pemuda Masjid (PM), sungguh film yang sederhana hampir di semua aspek. Latarnya, actingpemerannya, dialognya, soundserta sinematografinya tidak menunjukkan keisitimewaan kecuali tekanannya yang konsisten pada tema kembali ke masjid. 

Terkait dengan masjid, mungkin kita akan membandingkan film 5PM ini dengan serial Para Pencari Tuhanyang diputar saban sore di bulan puasa. Film yang hampir memasuki jilid ke-12 ini mengusung tema hijrahnya tiga pemuda ke kehidupan masjid. 

Boleh dibilang kedua film itu punya kesamaan tema namun beda gaya. Ya, di saat serial Para Pencari Tuhanpunya banyak dialog filosofis dan relijius dari para pemerannya, terutama tokoh Bang Jek, film 5PM tetap konsisten dengan dialog keseharian yang sederhana. 

Di kala film garapan Deddy Mizwar mengusung komedi reliji dengan actingpara tokohnya yang tampak mendalami perannya masing-masing, film besutan Humar Hadi tampil dengan para pemain baru di industri perfilman yang boleh dikatakan kurang menyelami acting-nya. 

Tapi sekali lagi, film 5PM memang sejak awal berangkat dari kesederhanaan cerita dan dialog agar tema keterpautan hati dengan masjid bisa dengan mudah dipahami penonton. Sebuah misi mulia agar film mudah dicerna sekaligus menyimpan risiko film jadi kurang istimewa. 

Konsistensi pada tema kesederhanaan itu tampak sejak awal tayangan. Kita tetiba disuguhkan dengan latar sebuah permukiman khas wilayah pinggiran ibukota dengan aneka jalan kecil alias gang yang sempit dan deretan rumah yang saling bertumpuk. 

Pada latar itu, adegan kejar-kejaran warga dengan maling kotak amal terjadi. Tentu saja ada celoteh soal bakar si maling dan aksi main hakim sendiri yang dilakukan warga terhadap si maling. Dan pasti ada penengah dari laku main hakim sendiri tersebut.

Merekalah para pemuda masjid jagoan kita. Alih-alih dikriminalisasi, si maling malah kena hukuman kerja sosial jadi marbot masjid selama 40 hari. Di sinilah tokoh kita, Bewok (M. Taufik Akbar), si maling kotak amal, secara perlahan mengorek latar belakang para pemuda masjid. 

Bewok, anak baru masjid yang tampak polos sambil sesekali bikin kocak, adalah bintang utama di film ini. Dialah benang merah cerita. Dialah tokoh kita yang mengorek latar belakang para pemuda yang setiap harinya berkegiatan di masjid. 

Kita tida perlu alasan kuat tentang mengapa, secara ujug-ujug, Bewok menanyakan kisah hijrahnya Lukman (Ahmad Syarief) hingga ia rajin datang ke masjid? Namun yang pasti, alur cerita akan menggiring kita ke masa lalu Lukman sebagai pelaku bisnis penatu. 

Jangan juga terlalu berharap akan adanya cerita detail mengenai hubungan Lukman dengan ibunya. Biarkan intuisi kita bekerja, bahwa, ya, si Lukman sibuk mengurusi bisnisnya sehingga ia mengabaikan kewajibannya mengunjungi rumah ibunya hingga kabar duka tetiba datang dari kediaman ibunya itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun