Mohon tunggu...
Abdullah Muzi Marpaung
Abdullah Muzi Marpaung Mohon Tunggu... Seorang pejalan kaki

Tak rutin, tapi terus...

Selanjutnya

Tutup

Diary

IPA atau IPS?

24 Januari 2021   17:34 Diperbarui: 24 Januari 2021   18:08 54 2 0 Mohon Tunggu...

Pada masa saya, penjurusan IPA atau IPS di SMA berlangsung setelah melewati semester pertama. Bagi saya, ini sebuah masalah. Sekalipun menyukai sastra, minat saya lebih condong ke IPA. Lalu, masalahnya di mana?

Saya menyelesaikan SMP di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Pulau yang pernah menjadi penghasil bauksit terbesar di negeri ini. Kemudian saya rupa-rupanya cukup punya modal otak untuk masuk ke SMA negeri di Jogjakarta, sekalipun bukan SMA papan atas. 

Dari enam kali ujian masuk (ketika itu ujian masuk SMA tidak semua serentak, jadi ada peluang untuk ikut ujian di cukup banyak sekolah), saya diterima di empat SMA. 

Tiga di antaranya SMA negeri, lalu saya memilih SMAN 6. Akan tetapi, bagi saya yang anak udik ini, awal masuk SMA Jogjakarta adalah sebuah adaptasi yang perlu waktu.  Saya ingat betul betapa terbata-batanya saya mengikuti pelajaran. Ketika itu saya merasa semua teman saya pintar sekali. Saya seorang yang bodoh.

Benar saja. Sebagian besar nilai saya sama dengan nama SMA tempat saya bersekolah. Banjir angka 6. IPA 6, IPS 6. Meski saya memilih IPA, dengan nilai seperti itu saya tidak yakin bisa masuk IPA. Sekolah pada akhirnya harus mempertimbangkan kapasitas. Ada kecenderungan ketika itu, bagi yang tak begitu pintar maka ia akan ke IPS.

Saya berdoa, mudah-mudahan dijuruskan ke IPA. Iya saya suka sastra. Tapi saya lebih suka IPA. Kenangan saya tentang bauksit, pengalaman masa kecil mencari batu satam dan batu mineral lain, perkenalan dengan citroenzuur, pengalaman bereksperimen dengan lakmus dan berbagai tanaman yang mirip lakmus, dan mengawetkan serangga dengan formalin membuat saya jatuh hati kepada IPA.

Doa saya terkabul. Hanya ada satu kelas IPS dan saya tidak termasuk di dalamnya. Rupa-rupanya nilai saya yang mepet itu masih bisa meloloskan saya ke IPA. Pada semester satu di kelas IPA saya buktikan cinta saya. Posisi saya melejit di papan atas. Akan tetapi, itulah posisi tertinggi saya selama di SMA. Posisi yang bikin mamak dan almarhum bapak bangga, tapi murka di semester berikutnya. Nantilah saya ceritakan bagian ini secara terpisah.

Pengalaman masuk IPA dengan nilai pas-pasan ini membuat saya merenung dan mencoba menemukan hikmah. Bagaimana seandainya saya masuk IPS? Mungkin tak buruk. Mungkin malah saya jadi penyair sekelas Rendra atau setara penyair favorit saya: Sapardi Djoko Damono. Akan tetapi, melihat kenyataan hari ini, dapatlah saya katakan bahwa keputusan dewan guru menjuruskan saya ke IPA adalah tepat.

Catatan perjalanan saya di bidang IPA tidaklah buruk. Saya mencapai jenjang akademik tertinggi di bidang ilmu dan teknologi pangan. Saya pernah bekerja 12 tahun di bidang research and development di perusahan makanan, lalu sudah lebih dari 17 tahun aktif memperkenalkan sains yang asyik dan menyenangkan ke berbagai kalangan: anak-anak, siswa, guru, dan komunitas lain. Sudah lebih dari 13 tahun pula saya menjadi dosen di bidang teknologi pangan.

Perenungan saya berujung di sini: betapa misteriusnya ujung dari sebuah pilihan atau sesuatu yang dipilihkan. Lalu bagaimana langkah terbaik saya, baik sebagai orang tua maupun guru, ketika berinteraksi dengan pilihan-pilihan yang dihadapi oleh anak-anak dan murid-murid saya?

Bagi para pemetik hikmah, tentu tidak ada pilihan yang salah. Walau demikian, menentukan pilihan adalah perkara rumit. Tak pernah ada kesiapan yang sempurna untuk menghadapinya. Ia adalah sebuah seni kehidupan. Seni yang tak pernah paripurna dipelajari, tapi harus selalu siap dieksekusi. Lalu apa yang sepatutnya tersisa, jika tidak sebuah kerendahan hati?

VIDEO PILIHAN