Mohon tunggu...
Bang Aswi
Bang Aswi Mohon Tunggu... Blogger Bandung | Kompasianer Bandung

Seorang penggila olahraga, tukang ulin, dan desainer yang menggemari dunia kepenulisan. Aktif sebagai pengurus di FLP, Admin Kompasianer Bandung, dan Ketua #BloggerBDG | Kontak: bangaswi@yahoo.com | T/IG: @bangaswi ... ^_^

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

UMKM Bisa Kok Menembus Pasar Internasional

20 Juli 2019   16:14 Diperbarui: 21 Juli 2019   14:19 0 0 0 Mohon Tunggu...
UMKM Bisa Kok Menembus Pasar Internasional
Dokpri

Salah satu faktor yang kadang bikin gregetan saat masih berbisnis konvensional adalah mencari orang yang mau menjadi kurir. Para UMKM sering bingung hendang menunjuk siapa karena memang tidak ada orang yang spesialis di bidang itu. Pada akhirnya, owner-lah yang harus turun tangan. Mengepak sendiri di atas motor/mobil, lalu berjalan menembus lalu lintas yang sering tidak berpihak.

Efeknya jadi capek ke seluruh badan dan semangat pun luntur. Owner yang harusnya fokus pada kualitas produk dan pengembangan bisnis, jadi malah sibuk ngurusin masalah pengiriman. Benar-benar tidak efektif dan lambat laun bisnis pun menjadi meredup. Satu persatu, para pelaku UMKM mulai menarik diri dari dunia bisnis. Sementara itu, bisnis pengiriman ekspres dan e-commerce menjadi pusat perhatian.

Transaksi bisnis online masih didominasi oleh UMKM yang jumlahnya mencapai 75% dari total penjualan online. UMKM saat ini jelas akan menyelamatkan Indoensia dari krisis ekonomi. Peran bisnis online dan logistik pada masa yang akan datang harus lebih melibatkan UMKM sebagai motor utama penggerak dari kelesuan ekonomi di Indonesia.

Kepala Cabang JNE Bandung, Yus Rustandi, mengatakan bahwa e-commerce dan jasa logistik adalah dua sektor usaha yang saling membutuhkan satu sama lain. Bagi JNE sendiri, kontribusi e-commerce bahkan bisa mencapai 60%-70% dari kapasitas pengiriman JNE secara nasional yang mencapai rata-rata 18 juta paket per bulan. Bandung pun menyumbang paket keluar lebih banyak dibandingkan paket yang masuk.

"Ini menunjukkan bahwa Bandung menjadi salah satu supplier terbesar bagi pasar e-commerce," ujarnya. Para pelaku UMKM itu, sudah selayaknya disematkan label sebagai local hero. Salah satunya adalah NIION, tas lokal Bandung yang omzetnya sudah mencapai Rp 300 juta per bulan. Capaian ini diraih berkat penjualan yang sudah mencapai seluruh Indonesia secara online. Bahkan, 10 persennya mencapai pasar internasional.

Sumber: https://m.bukalapak.com 
Sumber: https://m.bukalapak.com 

BELAJAR DARI NIION, TAS BRANDED ASAL BANDUNG

Perjalanan NIION dimulai pada tahun 2013, dari mimpi seorang Adit Yara yang sering memperhatikan keseharian orang-orang di Singapura. Ya, mereka itu kalau weekday pasti cenderung memakai tas branded, sedangkan saat weekend hanya menggunakan tas yang simpel tetapi tetap elegan. Berdasarkan pengalamannya sebagai desainer interior Charles and Keith, ia pun mulai mendesain tas sendiri.

Dengan modal 20 juta, Adit akhirnya membuat tas yang diberi label NIION. Tagline-nya adalah 'Carry Your Fun', artinya sebagai pembawa kebahagiaan bagi siapapun yang memakainya. Sebagai secondary bag, NIION harus menjadi produk inovatif di kelasnya yang diproyeksikan menjadi pelengkap bagi primer bag. Dan Adit berhasil, meskipun harus butuh dua tahun bagi NIION untuk bisa dikenal.

NIION saat ini telah mampu memproduksi tas 36 ribu potong per tahun. Oleh Majalah Hai, NIION dimasukkan sebagai salah satu dari lima brand lokal yang memiliki koleksi waist bag yang keren dan berkualitas. Anak-anak muda saat ini memang selalu ingin tampil stylish dengan waist bag dan beberapa dari mereka begitu peduli dan bangga dengan brand lokal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x