Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... seniman separuh

dari atas tangki amonia melihat kebawah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Mengelabui Virus

5 April 2020   17:00 Diperbarui: 5 April 2020   17:11 21 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengelabui Virus
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Suhu tubuhku semakin naik, kupikir sudah sampai ke batas tertinggi kemampuan inkubasi dari virus yang masuk menguasai seluruh jalan saluran nafasku. 

Seperti berada didekat tungku api rasanya. Bersamaan juga tenggorokan terasa sakit menggila, tercekik kadang ngilu seperti tertusuk jarum. Sementara nafasku sedari tadi yang terasa berbeban mulai sedikit mereda ketika masker oksigen mengaruskan aliran murninya lewat kedua lubang hidungku. 

Dan aku  masih tetap sadar, namun tubuhku tetap membeku segan untuk melakukan gerak kecil sekalipun.  Memejamkan mata buat tetap pasrah melakukan perjalanan waktu yang terasakan begitu lelet seperti gerak 'slow motion' bumi. Meski ruang isolasi putih ini sedikit benderang namun kutau bahwa jarum jam telah bergerak menunjukkan separuh malam.  

Tak ada lagi kurasa yang perlu kusampaikan lewat isyarat atau bel listrik kepada medis yang 'stanby' diruang kontrol paramedik. Mencoba memejam kedua belah mata guna memancing kantuk, namun belumlah berhasil. 

Rasa kulit wajah terpanggang dan tikaman di dalam jakun serta 'senut senut' di permukaan dada, membikin kantuk yang tiba berubah sekejap sirna, bergantian begitu seterusnya.  

Kulirik tetangga brankar disampingku, guna mencari tau kondisinya yang tak lebih baik dari ku. Tampak sama sekali tak beringsut, hanya terpandang samar gerak pelan permukaan tubuhnya pertanda nafasnya masih bekerja. Jujur, keadaannya sudah terlihat parah, ketika aku masuk mengisi ruang isolasi, dengan menempati brankar yang bersebelahan. 

Dia hanya terpejam bahkan hingga sekarang. Sebelumnya masih sempat kusaksikan, kawan di sebelah ini di intervensi dengan ikubasi guna pemasangan alat bantu nafas atau ventilator. 

Tak kudengar bunyi disekitarnya selain mesin penyuplai oksigen itu membuang nafas nya.  Ku sendiri jadi semakin enggan dan setres, untuk enggak menatapnya dan berlama lama memikirkannya. 

Masuknya pikiran negatif yang begitu lebar tertawa, menggoda bahwa itulah contoh jelas perjalanan kemenangan virus atas ke usangan tubuh manusia. Setengah prihatin kulepas pandang darinya, meskipun separuh bergidik bulu romaku, membayangkan  kemungkinan bernasib serupa.

Kucoba menerbangkan pikiran ketakutan yang tak pasti itu, untuk berusaha tidur menaklukan malam. Bagaimanapun diriku dalam simpton yang eksponesial ini harus 'survive', bertahan melewati satu malam ini. Kusadar tak ada obat untuk virus ini, hanya satu satunya jalan adalah berjalan mengikuti kehendak virus yang bersarang didalam tubuhku yang berstrategi bertahan. 

Enggak ada formula apalagi rumus rumus 'remedy' sebagai senjata ampuh melawan musuh ini. Meski kegalauan tetap tersisa kalau kalau aku jatuh kedalam kondisi gagal sepanjang perjalanan malam menjemput pagi ini. Kucoba menidurkan diriku, meski ku tau ini terasa semacam kepasrahan tubuh dan kemauan jiwa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN