Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... seniman separuh

dari atas tangki amonia melihat kebawah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

"Lockdown"

3 April 2020   19:43 Diperbarui: 3 April 2020   19:59 51 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Lockdown"
Gambar oleh peter_pyw dari Pixabay

Pengendara melambatkan laju mobil kami. Tampak kerumunan orang orang mengangkat tinggi lengan mereka, memberi isyarat bahwa kendaraan mesti berhenti. Dilatar belakang barisan, terlihat barikade berbahan kayu seadanya melintang dengan bentuk tidak keruan.

"Kalian tidak bisa masuk" seorang pemuda berbadan besar menghampiri pengemudi.  "Maaf pak, surat kami legal. Enggak ada larangan untuk kami melintas..Anu.." sang supir dan kernet berpandangan. "Kalian tidak diterima disini. Balik!" tiba tiba salah satu yang terlihat ngebos,  muncul sambil menghardik dengan mata besar melotot. Kernet dan supir hampir bersamaan mengangguk jerih, perlahan memundurkan vehicle mini bus panjangnya. Menyusur  jalan yang tak begitu lebar, beberapa kali membanting stir bermanuver balik, kembali mengarus ke arah asal semula.

Sementara aku sendiri di kabin belakang, yang hanya satu satunya penumpang,  cuma berpaku diri, terdiam pasrah.  Terasa teriris di dada, ketika aku ditolak mentah mentah untuk pulang kerumah ku. Rumah yang telah lama menjadi idamanku sekaligus masa depanku. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan dan melahap waktu, hanya membuahkan satu penolakan. Bahkan hatiku sedikit ciut membayangkan jika ini bukanlah sekedar penolakan tapi merupa menjadi pengucilan. Bibirku yang sedari lama sudah tertutup makin saja terkunci bisu, enggan untuk bahkan berucap dari dalam hati sekalipun.

"Malam segera turun ini bos. Bagaimana?" sang kernet terlihat gelisah berucap ke sang supir, sebagian dahinya yang tertampak melelehkan banyak titik keringat kuatirnya, yang mulai merembes ke kain hoodie yang dikenakannya.  Pak supir hanya menatap ke kejauhan, barangkali sedemikian jaraknya hampir menjemput garis kaki langit.

Dia membisu sambil terus menekan pedal gas tanpa reda, sehingga merebak tiba di satu tanah lelapang yang luas yang ditumbuhi belukar disana sini, vehicle pun berhenti. Tampak beberapa orang seperti tukang tengah berdiri, seakan mengerti yang dinanti. Sepasang awak mobil ini kemudian melangkah turun dan membuka pintu belakang, menyambut ku untuk selanjutnya kami bersama sama menjelang orang orang yang menanti kami. Lalu kami bergerombol berjalan perlahan menuju lokasi yang di maksud.

"Masih jauh, kang?" sang kernet bertanya. "Ah tidak, itu disebelah kulon sana" seorang tukang yang memandu merespon. Aku sendiri seperti sudah menduga , walau masih membeku, tak begitu antusias buat mengetahui lebih jauh rumah yang dimaksud, yang kelak diperuntukan buatku. Yang ku ingat hanya kala itu sore sudah hampir sempurna di telan malam, sehingga mata rabun ku seperti sulit menampak, sementara seluruh tubuhku seperti lemas tanpa gerak. "Tidurkan di sini saja, kang.." lamat kudengar sepatah pembicaraan mereka. Kupikir mereka telah berbaik hati menidurkan ku yang sudah menjadi penurut.

***

Entah ku tak berpikir matematika lagi, kerna sulit menerka sudah berapa lama ku tinggal di tempat ini. Merasa seperti bukan lokasi 'real estate' mentah, seperti sedia kala saat ku tiba. Kutengarai perumahan ini berkembang begitu pesat,kurasa. Begitu kilat, seperti se kedipan kelopak mata, mungkinkah? Mencubit kulit lenganku yang tanpa rasa,  aku hanya bisa tersenyum sambil memandang sekeliling begitu hijaunya padang rumput tanpa batas yang jelas dengan birunya langit.

Udaranya begitu sejuk disertai angin yang selalu membelai lembut, sinar mentarinya seperti tak lekang memudar maupun memanas. Ku toleh sekeliling, tertampak rumah rumah yang indah penuh rona warna sesukanya, juga telah berdiri disekitar komplek perumahan teramat luas ini.  Beberapa perempuan tetangga, ramah bercengkerama di beranda, melambaikan tangannya kepada ku dengan paras menarik dan ramah. Ku balas dengan lambaian tak kalah santun, seakan sudah menjadi tradisi yang serta merta ku rasakan jauh sebelumnya.

"Bapak baru pindah ya?.." seorang ibu menyapa, beriringan bersama rombongan wanita wanita lain memasuki halaman rumahku. Aku mengangguk dengan 'full' senyum, lalu membalas salam hangat mereka, dengan bersalam salaman. Bak rasa seperti bertemu dengan keluarga yang teramat silam tak pernah jumpa dan tiba tiba sekali menyengat ingin dekat bersua.

Perempuan-perempuan itu ternyata membawa buah tangan yang lezat, seperti anggur, apel, papaya dan ragam penganan penuh aroma. Aku sendiri surprise, meskipun tak merasa lapar, ku lahap pula santapan segar dan maknyus gandos ini. Hingga beberapa moment, ku mulai berpikir, kemanakah para tetangga lelaki gerangan? Mengapa hanya melulu wanita sekitaran rumahku ini yang muncul. Namun rupanya para perempuan itu telah membaca pikiranku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x