Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... seniman separuh

dari atas tangki amonia melihat kebawah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Derita Singkat dengan Sabar

26 Maret 2020   21:30 Diperbarui: 26 Maret 2020   21:35 35 6 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Derita Singkat dengan Sabar
Gambar oleh Harut Movsisyan dari Pixabay

Seluruh jalan menjelma sepi, tak satupun melintas. Bahkan angin yang sesekali menerpa, begitu bebas kian kemari. Kota seperti mati. Tak terdengar suara suara mekanis yang biasa mengharu biru degup metro kota. 

Tak ada aerosol polutan mengambang di atas aspal jalanan, bak prisma yang membias sinar violet terbelah tujuh.  Sehingga kali ini, sinar surya pagi menjadi jernih, leluasa menembus  hingga segala sudut terkucil.  

Semua pintu terkunci. Katanya 'lock down'. Tak sesosok pun berani menampilkan wujudnya di tengah jalanan kota.  Hanya tampilan sepi yang senyap.

Namun di kejauhan jarak, sedikit tersamar kilau garis mentari,  seorang lelaki berjalan tenang perlahan. Menampakkan nuansa kelabu dari kejauhan, mungkin dari fashionnya yang terlihat melonggar, berjuntai lembut nampak seperti jubah. 

Sesekali dia menatap puncak puncak pencakar langit, lambang kota kota metro. Sinar matanya yang teduh, tiada kekawatiran, seperti menyimpan kisah yang paling kelam.

Dan aku, yang waktu itu serupa pula telah menjadi penyendiri. Masih terduduk beku di deretan depan didalam salah satu truk dari puluhan truk isolasi pengangkut korban wafat. Pandang mataku yang sedari tadi lurus menatap sosok itu, serta merta mebelalak ketika laju truk kami kian mendekat.

"Tak semestinya lelaki itu berada dijalan.." serta merta ku melapor pak supir dan guard disampingnya. Namun mereka diam saja, seperti tak mendengar ucapku, bahkan seperti tak melihat, menyongsong  papasan  sosok lelaki yang sedang menyusuri sisi jalan itu.

"Hei! Tidakkah kalian lihat?" setengah berteriak, kembali ku ingatkan keduanya. Tapi sang supir hanya beku, seperti robot malah menambah laju truk pengangkut jasad, beriringan memangkas jarak truk di depannya.  

Semakin mendekat ke sosok lelaki itu, hatiku semakin berdegup. Mengingat tak lah seorang pun di ijinkan ataupun  bernyali untuk keluar bahkan mengarungi jalan jalan kota, ketika wabah virus masif menggila melapis bumi.  

Namun barisan truk duka ini juga semakin menggila, ngebut kerna telah menjelang tujuan, sehingga saat kendaraan besarku melintas di sisinya, mulutku hanya bisa rapat terkunci. 

Sekelebat bisa kutatap wajah lelaki jalan, yang juga tak lepas memandang barisan kotak beroda kami. Wajah seorang lelaki tampan meski sekilas, bersinar mata lembut meski sekerjap, dan setelah terlewat oleh kami, aku masih bisa mengenang jelas parasnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x