Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... seniman separuh

dari atas tangki amonia melihat kebawah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Mengejar Cahaya

9 Februari 2020   13:26 Diperbarui: 9 Februari 2020   13:37 69 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Mengejar Cahaya
Gambar oleh Christo Anestev dari Pixabay

Jam dinding tik tok yang berlalu lelet seperti menggoda mataku yang enggak lekang tertutup. Jarumnya sudah berangkat ke angka tiga pagi. Sudah berjalan satu bulan ini aku menderita susah tidur, bahkan sama sekali mataku bolak balik mendelik. 

Seperti hari ini, di malam yang hampir selesai, yang sebentar lagi mentari mulai tumbuh mendekatkan bentuk dan sinarnya ke kotak jendelaku yang lebar terbuka. Kalo sudah begini aku cuma bisa terduduk disisi pembaringan, menatap atmosfer luar yang masih buram. 

"Segeralah turun, engkau cahaya" aku kerap bergumam sendirian. Sehabis terangkul malam yang akhir akhir ini membuatku dalam posisi fobia kegelapan. 

Semenjak sebulan silam, kuubah pula ruang tidurku dari guram menjelma benderang. Lampu sengaja kutambahkan kuat terangnya, membuat kamarku berpendar dimalam hari, kayak lokasi shooting. Dan ini membikinku sedikit nyaman, meskipun tak juga pulih mengusir kegundahan kadang menjurus kengerian. 

Lalu waktu menunjuk pagi menjelang sempurna, akupun gembira. Menelisik rambut hitam panjang yang kusut dimakan malam tadi, saatnya ku menghaluskan kerapatannya. Kusiapkan pula pipiku yang tertekuk, membenarkan lesung pipit yang terlihat disinarnya pagi. 

Fajar memang membuat kita bersolek, setelah mengarungi malam yang hanya membuat kita tertidur enggak ada lain.  Cahaya hari selalu bisa berbuat apa saja untuk memanipulasi segala penampilan, kerna semuanya begitu terlihat, sehingga kita mesti memoles yang terlihat buruk. 

Ah! Berbeda dengan malam yang menciutkanku, ketika mesti berhadapan dengan segala hal yang tak terlihat menjadi tak perlu disimpan kerna telah disembunyikan oleh kegelapan malam. Yang ketika malam menuju lelap, segala solek tubuh menjadi seperti tak diperlukan lagi. 

Malam memang memaksaku mengupas segala lapisan tubuhku bahkan hingga jabatan, pangkat dan kebanggaanku. "Meski kamu seorang presiden, emangnya kamu tetep jadi presiden ketika terbelenggu malam!" begitu tuh, malam kerap melecehkan. "Kamu itu enol tauk, ketika kulelapkan kamu kedalam malam" ejeknya lanjut. Hiks! 

Dan aku begitu pressure ketika menyarikan arti malam seterusnya. Kok, kayaknya ketika kupikir aman aman saja segala basa basi yang kuterima dalam kecerahan hari, menjadi terbuka kedok sebenarnya ketika ku tersandera dalam kegelapan malam. Dan aku suwer, enggak menyukainya, bahkan ini menakutkanku.

Sejak itulah aku mulai tidak menyukai malam dan berusaha menghindarinya, kerna dia terus saja membuka segala puja puji di terang pagi, bahwa itu ternyata adalah fake ketika malam menyekatku. Malam yang dalam kegelapannya ternyata bukan saja mengusir cahaya hari, namun juga cahaya cahaya indah kepalsuan. "Wueleh! Aku engga sanggup lagi deh!" kadang kuberbisik give up. Dan seiring hari panjang berlalu aku semakin terobsesi kepada cahaya. Aku enggak mau terima malam lagi.

"Aku akan membeli cahaya!" teriak ku putus asa namun menantang.  Lalu akupun masuk kedalam kehidupan tanpa malam. Hampir setiap senja menjelang hatiku resah dan sudah bersolek, mendatangi segala tempat yang bisa membeli malam berapapun, untuk melepas dendamku yang mulai muncul kepada malam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x