Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... seniman separuh

dari atas tangki amonia melihat kebawah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Suara di Pintu

13 September 2019   01:05 Diperbarui: 13 September 2019   01:26 0 7 2 Mohon Tunggu...
Suara di Pintu
Pixabay.com

Lagi, di malam  yang telah lewat separuh, suaranya datang pas didepan pintu kayu rumahku. Aku yang belakangan ini selalu mendiamkannya, mulai familiar. 

Suara malam di pintuku membuatku tak takut lagi. Aku mulai mengenalnya. Hanya tinggal waktu saja kapan. Dan itu kupastikan sekarang, di malam entah keberapa, kerna aku semakin tak bisa menahan untuk membuka pintu dan menyambutnya. Suara diluar itu semakin dekat bahkan kali ini dia bertanya kepada pelayan rumahku dengan nada berat terseret. Vokalnya tentu saja tak bisa kutangkap jelas, tapi pelayan kudengar bisa menjawabnya runut. 

Membuatku semakin kepingin menjumpainya.  Ada kerinduan mencuat dari tubuh sadarku yang menguatkan bahwa suara itu mengatakan, aku si tua bergelar akut.  Seperti suatu penahbisan tanpa status, atau gelar kosong tanpa tanda yang panjang, kecuali  hanya judul yang bukan milikku.

Kupetik bunga taman interior kamar tamu, lalu memutar mata kunci pintu dan menurunkan pegangannya, membuka.

"Aku tau.." sambutku hampir berbisik. Dia tak menjawab, hanya menepikan wajahnya ke balik bayang, sehingga hanya terlihat rahang kuatnya yang ditutupi janggut merata. 

Lalu kami berdua berjalan menjauh pintu, aku yang membawa bunga dan dia dengan wajahnya, mengisyaratkan untuk  membenarkan bahwa dia memang tak pernah melihatku sebelumnya, bahkan di selama hidupnya. Sehingga aku berharap akan mengejutkan matanya, namun ternyata tidak. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan adegan ini, dan meski dia tak mengenalku namun aku mengenalnya begitu silam.

Berdampingan menyusuri tanah yang hanya dicucuri sinar bulan yang minim, tanpa takut aku melewati halaman rumahku, memandang kembali cahaya lampu rumahku yang berpendar menjauh. 

Sehingga serta merta kami sudah berjalan tanpa sinar ketika bulanpun surut kebalik mega malam.  Tak ada lagi terpandang selanjutnya, yang ketika kucoba  untuk penuh mengencangkan lensa kedua mata, aku melihat  seluruh dunia  ini berisi hanya wajahnya, tidak lebih.

Meskipun demikian, aku memaksakan suatu pembicaraan di perjalanan kami, memancingnya untuk suatu omongan dangkal yang remeh temeh seperti membahas kesehatan, perihal cuaca dan berita berita lokal. Dan dia menresponnya, sehingga terungkap bahwa kami berdua ternyata hanya membuang kata dan frasa. Namun dalam semua percakapan ini, kami sebenarnya saling mencari  dan mengukur masing masing. Seperti pemberat mata pancing, untuk mencari seberapa dalam tali pancing menyelam hingga ke dasar sungai. Atau seperti alat pengukur kelurusan tali vertikal dalam menetapkan pusat sebagai titik berat struktur konstruksi.

Hingga tiba di  kedalaman percakapan satu sama lain, kita pun malu malu mencoba mencari tahu seberapa dalam komentar komentar dari obrolan kami yang biasa biasa saja itu. Yang akhirnya kami masing masing bisa mengamati dan mengambil ukuran satu sama lain.

Di puncaknya aku menyadari, bahwa ada sejarah diantara kami, meskipun kami telah sekian lama tak bertemu. Memunculkan daya tarik perasaanku terhadap  pria ini menjadi begitu kuat, sehingga aku tak hendak meninggalkannya lagi, lebih baik aku akan memotong pergelangan tanganku untuk bisa menghabiskan waktu bersamanya. Seakan bisa membaca pikiranku, lelaki itu menatapku lama, yang membuatku meneguhkan keyakinan.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x