Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... seniman separuh

dari atas tangki amonia melihat kebawah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pergi ke Surga

10 Juli 2019   00:38 Diperbarui: 10 Juli 2019   05:51 0 6 0 Mohon Tunggu...
Pergi ke Surga
Pixabay.com

Kenji melihat jauh menembus dasar kolam, seperti ingin tau seberapa beku tanah di sebaliknya. Tanpa jawaban hanya ikan ikan koi memerah berliuk memamerkan keindahan narsis di bening air menggoda. Kenji tidak tertarik. Tanah bumi lebih menggodanya dibanding koi. Bahkan dibandingkan dengan seluruh materi bumi kehidupan. Apa begitukah? Kenji banyak mencari yang tidak seharusnya, dikepalanya melalui media tanah berpijak.

Kenji sedang berpikir mati, namun berpendapat untuk apa? Untuk cinta? Untuk Prita? Atau untuk surga?

Iya, semenjak Prita dideteksi kanker stadium empat dengan vonis tak tertulis namun dimengerti ini semata menjadi soal keakhiran alias kematian. Hampir saban hari Kenji seperti mondok di rumah sakit tempat Prita kekasihnya dirawat. Menemani di penderitaan adalah menjadi seperti posesif, jauh melampaui cinta yang selama ini dirasakan terhadap Prita. Porsi akan kehilangan begitu menyeruak mendesak ruang dada Kenji dari hari ke hari, dari satu menit ke menit berikutnya. Kenji dikejar kehilangan, adakah rasa yang lebih memilukan daripada diburu kehilangan?

Kenji masih menunggu, entah menunggu senja atau menunggu ketidakpastian waktu. 

Sementara kemoterapi sang kekasih, Prita baru saja berlalu. Melewatkan hati matinya ditaman rumah perawatan kanker tak pernah terpulihkan namun mesti. Dan Kenji berjejak menapak kearah ruang pujaan hatinya. Hanya sunyi dan dingin yang terpatri disekujur tubuhnya, ketika menampak Prita terbujur di tilam brankar rata. Tubuh kurusnya hanya merupa tangisan di dalam ruang batinnya.

"Kamu hangat" Kenji meletakkan punggung tangannya didahi Prita.

"Pusing kak.." Prita mengesah

"Makan ya?"

"Nggak kak... aku mau duduk.."

Kenji membantunya bersender di set bed nya, teraba dilengan Kenji, lekuk tulang bahu yang begitu kurus. Dan ini semakin mengiris kalbu.

"Kak, mungkin aku tak lagi lama.."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x