Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... seniman separuh

dari atas tangki amonia melihat kebawah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Kehilangan Rindu

12 Juni 2019   06:13 Diperbarui: 12 Juni 2019   06:46 0 7 0 Mohon Tunggu...
Cerpen | Kehilangan Rindu
pixabay.com

Bono berdiri ditepi pantai bandara laut biru. Hari kepulangan, setelah proyek konstruksi berat yang menelannya sedalam seratus delapan puluh hari penuh. Enam kali bulan dia mesti off, begitu aturan main dari  pabrik bermesin teknologi canggih. Tak lah rasa menggebu buat memutar balik ke kota halamannya. Bono rasa ogah ogahan, tapi big boss bilang no! Kamu harus rehat bro! Atau kamu mau gila? Kamu pikir apa kamu berputar seperti mesin tanpa break di keterpencilan? Itu sedeng! 

Bono melihat titik mentari seakan mengukur waktu pesawat  yang akan ditumpanginya melepas tanah. Tak ada rasa di kalbunya, hanya  semata kembali menatap ombak bergulung sepanjang runway. Tiada sesudutpun rindu memanggil, seperti bergulingan terbaca di banyak puisi. Dia hanya belaka perjalanan ke rumah dan tentu Hesti istrinya. Dua anaknya telah melintas masa familinya, menyeberang membentuk keluarga tumbuh mandiri.

Bono haus dan meneguk air plastiknya. Jadi hanya Hesti yang ditujunya, berulang disetiap pause kerjanya, yang telah menelan hampir separuh usianya sejauh ini. Begitu terus, Bono bermigrasi di selang konstruksi rampung yang hampir selalu ada dipelosok. Seperti irama nyanyian, Bono hapal, yang ketika nyanyian berhenti dan dia mesti pulang, Bono kembali menjadi canggung.

Ah, Hesti, istri yang kehilangan rindu, kemusnahan chemistry, kemunduran cinta dan segala suasa sastra tentang roman dan asmara birahi.  Menjadi tak ada lagi yang mengguncang saat menjelang Hesti, seberapa lamapun waktu menjeda.

Kepulangan hanyalah pikiran jeda untuk semata kembali lagi ke kerja proyek, begitu yang ada dibatok kepala Bono. Kepulangan ke rumah pasangan bersama Hesti, hanyalah syarat prosedur pekerjaan seperti  SOP, Standard Operating Procedure. Suwer! Bono mengernyit jidatnya, melihat lagi waktu yang masih menunggu banyak, sebelum keberangkatan pesawat berbaling  dari bandara berkelas tiga.

Hesti itu, istri cantiknya yang dicinta setengah mati dimasanya, kini bagai tanpa udara, sesak dan sepi tanpa rasa. Tiada kehangatan di ruang rumah dan ruang kalbu, hanya kedinginan yang bergelinding rutin, di saban kepulangannya di pertengah anno. Perjalanan ikatan yang panjang tidak menampakkan rambatnya lagi. Mereka tak pernah lagi bertengkar sekaligus juga tanpa sapa renjana. Bono menjalankan hidupnya seperti demikian caranya Hesti. Mereka bersama tetap dan berjarak tetap pula.

Barangkali si abang Bono terlalu petualang, atau  sang istri Hesti memase fatik sehingga api pun padam, menyisakan kayu yang dingin teronggok.

Lepat disilam, Bono merenung tentang keindahan rindu, ketika proyek pabrik masih berumur muda. Dimana almanak selalu menjadi musuh utama si gegara pelerai cinta maut Bono dan Hesti. Sehingga angka kalender tak luput dari gores silang setiap menelan seharian untuk mengejar rindu. Lama bingits, menanti jeda kepulangan interval kerja proyek untuk bisa memadu amor bersama Hesti istri ayu kemayu. Sehingga banyak layangan puisi puisi rindu dan cinta ke lara lara yang di terbangkan ke alamat rumah kangenan, dimana Hesti menunggu panjang, kapan seh pulang  si babang tamvan?

Hesti, Hesti. I love you so much! Dan Bono ketawa sendirian dipinggir runway di brisik ombak pantai pulau tengah Celebes. Lalu Bono sadar dan terkatup kembali, ketika otak radikalnya mengingatkan bahwa masa itu sudah selesai.  Yak, terlewat, barangkali sudah  lebih dari satu setengah dekade. Ya Ampyuun! Bono menyeringai. Lengkaplah rasa jejak sang penjelajah yang tiada surut  lagi.

"Mohon para penumpang boarding,  sekejap lagi pesawat akan berangkat. Silakan melalui pintu dua. Please!" suara otoritas terdengar mencorong diruang penantian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2