Cerpen

Cerai Santai

7 Desember 2018   15:57 Diperbarui: 7 Desember 2018   16:20 94 3 0

Gono dan Gini bercerai. Segenap sahabat geger termasuk penulis.  Berhubung pulsaku cekak, aku segera miss call Gono, namun tidak ada call back. Kuulangi malah dapat balasan, "Biaya percakapan ini akan dibebankan ke pihak penelpon".  Sama sama koret, aku mengoceh.

Selanjutnya grup WA mengalir seperti sungai, menyayangkan dan ada banyak yang menangis. Kasihan si Goni, anak lelaki lucu mereka. Di tagar dongs? Semua setuju. Penuh simpati terasa lebih kepada putra semata wayang mereka yang diberikan teman temin. Kalo aku malah lebih iba kepada asisten atau bibik pengasuh Goni, karena ikatan mereka sudah melekat, aku pikir begitu walau kelihatan sok tau. 

Jawaban yang kami tunggu dari Gono dan Gini akhirnya muncul dan bisa di scroll di WA grup. Mereka berdua membenarkan bercerai dan merencanakan konpers  sore ini. Tempat dan waktu menyusul. Dengan adanya kepastian ini, sahabat merasa lega setelah sebelumnya diombang ambingkan oleh ketidak pastian.

Tepat di sore pukul 15:00, Gono dan Gini muncul di depan kita semua. Berpakaian sewarna yaitu atasan telur asin dengan bawahan telur bebek, tampak serasi dan kompak.  Mereka melempar senyum, sementara wajah kami justru kelihatan tegang. Serasa malah kita kita yang mau cerai.

Aku sendiri ndak mau terhanyut baper, konsen kepada pasangan sohibku yang sedang bermasalah.

"Terima kasih kawan kawan" Gono mulai bicara.

" Perpisahan kami ini bukan karena orang ketiga atau masalah ekonomi. Bukan juga rumor lain yang berkembang. Tapi keputusan terbaiklah membuat kami berpisah"

"Iyaa.., jadi mengapa kita bercerai, biarkan hanya kita berdua yang tahu", Gini melanjutkan.

"Yang penting hubungan saya sama mas baik baik saja. Kita masih saling care, ya kan mas? Nggak rumit koq. Kita sih santai, ya kan mas? Gono mengangguk dua kali.

"Mbak Gini, Goni kecil nanti ikut siapa?" sebagian teman dibarisan depan bertanya kepo.

"Goni bebas koq. Kita unik, Goni bisa ikut siapa saja. Aku malah sedih kalo kalian pake buat tagar Save Goni".

Gini menyahut sendu. Teman teminnya mengangguk angguk berusaha mencerna,  yang membuat senyap karena  suasana jadi masuk ranah persoalan anak yang sensitif.

Namun mendadak Goni muncul, bocah tiga tahun putra mereka ini, melangkah maju di gandeng asisten rumah tangganya. Wajah lucunya sedikit mendung. Kami  semua terkejut.

"Goni enggak mau ikut sapa sapa. Goni mau ikut bibik sama Bruno" Goni berteriak polos.

Mendengar namanya ikut disebut, Bruno pun lari menghampiri Goni. "Guk.. Guk.. ", sang anjing menyalak.

Kami semua tersenyum, sementara acara cerai  kembali berjalan santai...