Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Regional highlight headline

Kenapa Saya Menolak Hadiah Rp 399 Juta dari Easy Shopping?

25 Januari 2017   16:16 Diperbarui: 8 Mei 2017   15:20 111242 65 54
Kenapa Saya Menolak Hadiah Rp 399 Juta dari Easy Shopping?
Tiga berkas surat yang sama (foto: dok pri)

Di zaman yang serba sulit ini, ternyata masih ada pihak-pihak yang royal membagikan hadiah berupa uang tunai bernilai ratusan juta. Kendati begitu, duit yang menggembirakan tersebut tak membuat diri saya tergiur. Tiga tawaran yang datang beruntun, tetap terabaikan.

Pertengahan bulan Desember 2016, saya dikontak seorang perempuan yang mengaku dari Easy Shopping Jakarta. Nada bicaranya datar mirip orang yang tengah membaca, ia mengabarkan bahwa saya di tahun 2017 mendapatkan surprise berupa uang tunai sebesar Rp 399.000.000 (tiga ratus Sembilan puluh Sembilan juta rupiah), sebuah angka yang fantastis.

Terkait hal tersebut, saya diminta menyebutkan alamat jelas karena ada dokumen yang harus dilengkapi. Karena ingin mengetahui detail sejauh mana permainannya, maka, permintaan itu saya penuhi. Hingga sepekan kemudian, datang surat berisikan berkas-berkas sebanyak lima lembar. Disebutkan bahwa Bambang Setyawan bakal menerima anugerah hadiah utama berupa uang tunai Rp 399.000.000.

Pada lembar pemberitahuan penting tentang pembayaran hadiah, diberitahukan bahwa beberapa hari yang lalu (entah kapan), Komite Penghargaan Pelanggan Easy Shopping berdiskusi mengenai “Program Promosi Berhadiah”. Selama berdiskusi, mereka menemukan nama saya selaku orang yang berhak menerima uang tunai ratusan juta tersebut.

Menyimak sekilas isi pengantar tersebut, saya langsung bertanya pada diri sendiri. Sejak kapan saya jadi pelanggan Easy Shopping? Jangankan masuk jajaran pelanggan, belanja pun seumur-umur belum pernah. Agak aneh, tak tahu ujung pangkalnya mendadak menerima hadiah yang sangat menggiurkan.

Yang lebih menggiurkan lagi, terdapat pemberitahuan reservasi yang ditandatangani Elizabeth, Manajer Keuangan Easy Shopping yang menyebutkan hadiah utama itu telah disediakan di rekening giro Easy Shopping senilai Rp 399 juta dan siap dianugerahkan (entah kapan). Sedang di sebelahnya, terdapat label persetujuan saya.

Ikut disertakan testimoni orang-orang yang pernah menerima hadiah utama ini, mereka datang dari berbagai kota di Indonesia, lengkap dengan foto dirinya. Bila sekilas mencermatinya, maka, siapa pun bakal makin tergiur. Siapa sih yang tak ingin duit ratusan juta?

Kesempatan Datang Berulangkali

Selanjutnya, untuk mencairkan hadiah utama itu, saya diwajibkan mengisi formulir persetujuan sekaligus pemesanan barang. Karena kepala saya agak pening membaca pemberitahuan itu, akhirnya semua dokumen saya abaikan. Hingga sepekan lebih, ternyata datang kembali surat yang sama. Isinya nyaris tidak berbeda, hanya ada sedikit modifikasi.

Pada lembar persetujuan pembayaran hadiah utama, disebutkan bahwa telah memesan “Media Keberuntungan” dengan diskon sebesar 90 persen. Entah dari mana menghitungnya, saya hanya perlu mengirim uang Rp 568.000 (lima ratus enam puluh delapan ribu rupiah) yang katanya hemat Rp 4.491.000 (empat juta empat ratus sembilan puluh satu ribu rupiah).

Di lembar sebaliknya tertulis peringatan berbunyi : Perhatian! Kami peringatkan anda jika anda tidak menjawab atau mengirimkan dokumen setelah jangka waktu yang telah ditentukan, pembayaran Hadiah Utama Rp 399.000.000 dapat dibatalkan. Mohon isi dokumen secara seksama dan periksa kembali sebelum dikirim.

Setelah mencermati isi dokumen pada surat ke 2, akhirnya saya memutuskan untuk melepas kesempatan berharga tersebut. Konon, kesempatan tak datang dua kali. Faktanya, ini sudah dua kali menghampiri. Sayangnya, saya mengabaikannya. Hingga akhirnya, Rabu (25/1) siang tadi, eh malah kesempatan yang ke 3 tiba kembali. Kendati begitu, saya sudah kehilangan gairah menyimak isinya.

Itulah sedikit cerita mengenai uang ratusan juta yang sengaja saya tolak, meski dompet saya isinya sangat tipis, namun saya masih berfikir rasional. Zaman semakin sulit, berkeringat seharian saja hanya menerima imbalan paling banter Rp 75.000 (tujuh puluh lima ribu rupiah), masa tiba- tiba jatuh duit dari langit? Biarlah, harta karun itu diterima orang yang lebih membutuhkan saja. Sebab, saya belum begitu butuh duit sebesar itu. (*)