Mohon tunggu...
Bambang Syairudin
Bambang Syairudin Mohon Tunggu... Dosen - Bams, nilai AU-nya masih NOL, tandanya masih KURANG GIAT BELAJAR. ©

========================================== Bams, mengajar di Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI), Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.; dan di Program Magister Manajemen Teknologi (MMT), Departemen Manajemen Teknologi (DMT), Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital, ITS, Surabaya. Pernah BELAJAR di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. Pernah BELAJAR di Asian Institute of Technology (AIT), Bangkok. ========================================== Bams, nilai AU-nya masih NOL, tandanya masih KURANG GIAT BELAJAR. ==========================================

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Monolog 14: Etika

8 Juni 2021   16:53 Diperbarui: 8 Juni 2021   16:56 145 16 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Monolog 14: Etika
Gambar Ilustrasi merupakan dokumen karya pribadi (Karya Bambang Syairudin)

Monolog 14: Etika

Wahai anakku, Filasafia Marsya Ma'rifat, suatu saat engkau akan tahu dan perlu tahu apa itu yang dinamakan etika ?
Dalam bahasa kasunyatan, realitas jagad kasar ini, engkau, aku, ibumu, dan orang-orang lain itu adalah lensa bagi ruang dan waktu. 

Lensa karena keberadaanmu dibatasi oleh persepsimu, demikian pula keberadaanku dibatasi oleh persepsiku. Hal yang sama pula dirasakan oleh orang-orang lain. Atau menurut ungkapan yang sering dikemukakan oleh almarhumah nenek pekalonganmu adalah sawang sinawang.

Anakku, Fia, dengan lensa itu, atau tepatnya dengan indera kita, kita merasakan sesuatu yang di luar diri kita adalah bukan kita. Dan ketika kita melihat sesuatu yang menakjubkan di luar, diri kita menjadi terperangah, dan mencoba menjadi orang lain. Dan kita tidak melakukan karena orang lain juga tidak melakukannya. 

Demikian pula sebaliknya. Sesuatu dikatakan sopan karena kita menginginkannya. Hal sebaliknya dikatakan tidak sopan karena kita tidak menginginkannya. Dan puncaknya adalah tabu. Tabu karena kita tidak merasakan nyaman ketika orang lain melakukannya. 

Anakku, semua itu adalah semu, jika kita mau menelusuri apa hakekat perbuatan yang etis kita lakukan dan hakekat perbuatan yang tidak etis kita lakukan.

Jika engkau belum bisa membedakan dua jenis hakekat perbuatan tersebut, anakku, janganlah engkau ceroboh menyimpulkannya.

Anakku, Fia, suatu perbuatan tidak bisa kita hentikan dengan hanya memunculkan benteng bawah sadar yang bernama tabu dan etika. Demikian pula suatu perbuatan tidak bisa kita paksakan karena perbuatan itu menuruti kaedah etika. 

Tahukah engkau, anakku, bahwa hakekat perbuatan terletak pada asal dan tujuannya (sangkan-paraning). Hakekat asal adalah tidak ada (suwung), sedangkan hakekat tujuan adalah sunyi. 

Dan sunyi adalah bentuk perbuatannya. Perbuatan dari sang suwung itu berupa sunyi yang mencoba menegaskan kesuwungannya itu. Contoh lain, anakku, apa yang engkau rasakan ketika engkau dahaga ?

Jawabnya: engkau diserang berbagai penjuru oleh ajakan perbuatanmu untuk memenuhi dahagamu. Satu contoh lagi anakku, apa yang engkau rasakan ketika lelah, jawabnya adalah: engkau ingin menghindarkan dari kewajiban perbuatanmu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan