Mohon tunggu...
Bambang Syairudin
Bambang Syairudin Mohon Tunggu... Dosen - Bams, sedang mencermati, KENAPA di saat PUISI me-NANGISI, justru SAJAK malah NGAKAK me-NGETAWAI. ©

========================================== Bams, mengajar di Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI), Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.; dan di Program Magister Manajemen Teknologi (MMT), Departemen Manajemen Teknologi (DMT), Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital, ITS, Surabaya. Pernah BELAJAR di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. Pernah BELAJAR di Asian Institute of Technology (AIT), Bangkok. ========================================== Bams, sedang mencermati, KENAPA di saat PUISI me-NANGISI, justru SAJAK malah NGAKAK me-NGETAWAI. ==========================================

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Monolog 13: Hukum

7 Juni 2021   19:00 Diperbarui: 7 Juni 2021   19:19 104 19 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Monolog 13: Hukum
Gambar Ilustrasi merupakan dokumen karya pribadi (Karya Bambang Syairudin)

Monolog 13: Hukum


Anakku, kini, pembicaraan kita sampai pada hukum. Hukum sebagai suatu ilmu, hukum sebagai suatu alat, hukum sebagai suatu sumber, dan hukum sebagai suatu tujuan.

Fia, disini engkau perlu memegang teguh keyakinanmu, dan kejujuranmu. Ibumu, adalah seorang wanita yang teguh; jadikan kesadaran keyakinanmu itu teguh seperti ibumu. Dalam hal yang berkaitan dengan aspek hukum, engkau harus yakin, anakku, dan janganlah sedikitpun engkau bimbang atau ragu. Ayahmu, perlu menekankan hal ini kepadamu, agar engkau menjadi yakin dan teguh.
Kembali kita membahas aspek hukum. Pertama, adalah hukum sebagai suatu ilmu. Untuk mengetahui ini, terlebih dahulu, engkau harus tahu apa itu hakekat ilmu. Anakku, hakekat ilmu adalah mengenali, merasakan, mengamalkan, menjelaskan, dan puncaknya adalah menciptakan atas dirimu, atas sekelilingmu. Jadi, hukum sebagai suatu ilmu adalah mengenali keadilan, merasakan keadilan, mengamalkan keadilan, menjelaskan keadilan, dan puncaknya adalah menciptakan keadilan atas dirimu, atas sekelilingmu. Sebagai suatu alat, hukum adalah kompas penunjuk arah perilaku keberadilan kita. Dan sebagai sumber, hukum adalah sumber dari kebijaksanaan diri kita, baik atas diri kita sendiri, maupun atas sekeliling kita. Sedangkan sebagai suatu tujuan, hukum adalah pengakuan atas tingkat kualitas kemanusiaan diri kita.

Anakku, ukurlah kualitas dirimu dengan kadar rasa keadilanmu dan tindakan kebijaksanaanmu.
Fia, anakku, adakah engkau mengerti bahwa roda dunia, jagad gede, dan jagadmu sendiri itu senantiasa digerakkan oleh roda hukum ? Karena hakekat hukum adalah mengadili keadilan itu sendiri. Keberadaaanmu dalam segala bentuk realitas dan hakekatnya itu senantiasa berada dalam kerangka hukum yang menghakimi. Dan kelak engkau sendirilah yang pada hakekatnya akan menghakimi perbuatan dari keberadaanmu itu. Karena sesungguhnya hukum itu sudah melekat pada diri kita masing-masing. Diri kita lah kelak yang akan bersaksi dan memberikan seluruh bukti atas perbuatan-perbuatan kita.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x