Mohon tunggu...
Bambang Subroto
Bambang Subroto Mohon Tunggu... Menikah, dengan 2 anak, dan 5 cucu

Pensiunan Badan Usaha Milik Negara, alumni Fakultas Sosial & Politik UGM tahun 1977. Hobi antara lain menulis. Pernah menulis antara lain 2 judul buku, yang diterbitkan oleh kelompok Gramedia : Elexmedia Komputindo. Juga senang menulis puisi Haiku/Senryu di Instagram.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Singa dan Kijang

7 April 2021   10:01 Diperbarui: 7 April 2021   10:08 75 3 0 Mohon Tunggu...

Berusaha untuk membandingkan, tidak lepas untuk niat agar lebih mampu menghayati kehidupan. Objek yang sama disejajarkan terlebih dahulu. Barulah dicari persamaan dan perbedaannya.

Komparasi itu perlu. Baik untuk objek perorangan atau kebendaan. Dalam hidup yang kompetitif, hal itu lazim saja. Produk ikutannya antara lain : generalisasi dengan mengambil contoh perilaku alam.

Misal : pengamatan tentang angin, yang dijadikan dua jenis. Angin kemerosotan bisa menyengsarakan dan menghempaskan. Sedangkan angin keberuntungan, akan membelai sejuk dalam suasana yang menyenangkan.

Kedua jenis angin itu berbaur, hingga diduga menjadi penyebab kemarahan dan kegembiraan yang menjadi satu.

Perbandingan juga menghasilkan analogi. Ia mengibaratkan atau menamsilkan. Termasuk di sini afinitas dan paritas. Perbandingan juga sering difungsikan untuk menguatkan analogi, bahkan memudahkan dalam pembuatan definisi.

Seperti yang sering diperagakan dalam kehidupan nyata, ada saja yang berlagak seperti singa sewaktu aman damai, tetapi mendadak berubah menjadi kijang di saat perang. "In pace leones, in proelio cervi". Ini sekedar contoh.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x