Gayahidup

Kelahiran Pesawat N219 ''Nurtanio'' Diproduksi Tahun 2018

14 November 2017   17:17 Diperbarui: 14 November 2017   18:28 139 0 0
Kelahiran Pesawat N219 ''Nurtanio'' Diproduksi Tahun 2018
sumber foto: nasional.kompas.com

Pesawat N219 buatan PT dirgantara Indonesia PTDI diberi nama Nurtanio oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Thomas Djamaluddin selaku Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) mengisahkan jalan panjang yang harus dilalui selama mengembangkan pesawat N219 Nurtanio.

Pria yang dikenal dan biasa disapa Djamal saat di temui CNNIndonesia.com di Lanud TNI AU Halim Perdanakusuma Jumat (10/11) mengatakan pengembangan dimulai sejak 2006 dengan uji seperti terowongan angin sampai 2012. Kemudian mulai intensif setelah LAPAN mendapatkan anggaran dan dilaksanakan pada 2012.  


Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menambahkan bahwa pihaknya melalui proses bertahap untuk bisa mendapatkan anggaran, lantaran sempat hilang dari draft rancangan anggaran Kemenkeu dan dialihkan untuk kegiatan lain di tahun 2012. Namun kemudian di tahun 2014, LAPAN mendapatkan anggaran dalam jumlah cukup besar. Seperti yang dilansir CNNIndonesia.

Sejauh ini LAPAn sudah mengeluarkan dana sebesar Rp550 miliar hanya untuk proyek ini. Akhir 2018 pesawat ini akan di uji coba untuk komersila diperkirakan akan menghabiskan dana hinggal 1,1 triliun.


Djamaludding mengatakan bahwa proses mendapatkan anggaran itu ternyata lama. Kami bekerja sama dengan PTDI, BPPT, dan instansi terkait lainnya. Baru di tahun 2014 LAPAN mendapat anggaran cukup besar untuk program pembuatan N219.

Pada tanggal 10 November 2015, Djamal pernah menjelaskan tentang pesawat N219 sudah mulai menunjukan bentuk fisiknya. Selain LAPAN, lembaga terkait juga ikut membantu untuk mengembangkan 'Nurtanio' atau pesawat N219. Peran lembaga yang terlibat yaitu PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan lembaga terkait yang juga turut memberikan suntikan untuk pengembangan N219.

Sebelum masuk tahap produksi masih ada beberapa hal yang harus di sempurnakan salah satunya ialah ijin sertifikasi sebagai pesawat komersial.

Djamaluddin menegaskan bahwa sebagai pesawat yang baru dikembangkan, tentu ada proses penyesuaian-penyesuaian. Memang beberapa kali sempat ada pergeseran-pergeseran, tetapi alhamdullilah bisa terbang perdana 16 Agustus lalu.

Target sertifikasi dan tahap uji penerbangan ini akan di terus berlanjut hingga tahun 2018 nanti. Di awal proses produksi ini PTDI ditargetkan membuat enam unit pertahunya.  Setelah merampungkan tahap ini pesawat N219 'Nurtanio' bersiap memasuki tahapan produksi dan direkomersialkan pada awal tahun 2109.

Pada produksi massal dengan memenuhi kebutuhan logistic di daerah tertentu sebagai tol laut dan pengisi penerbangan local dan regional (feeder)

Gubenur Kalimatan Utara sepertinya mulai tertarik dengan desain pesawat N219. Tak hanya itu pesawat ini mempunyai kelebihan terutama pada systemnya yang tak terlalu rumit dan sesuai dengan standar teknologi baru. Rencananya Djamaluddin akan membandrol satu unit pesawat N219 'Nurtanio' seharga US$6 juta.

Menggunakan dukungan asing

Saat proses pembuatan pesawat N219 'Nurtanio' Dmaluddin mengakui bahwa sumber daya manusia yang digunakan dari orang Indonesia. tetapi tidak ada salahnya jika Djamaluddin ingin berbagi komponen yang harus didatangkan dari luar negeri.

Perancangan dari dalam negeri sampai pembuatannya masih di upayakan mencapai 60 persen. Desain disiapkan oleh PTDI dan di dungkung rancangan bangunan oleh LAPAN.

Djamaluddin menjeslakan Pembuatan dari dalam negeri mulai dari rancangannya sampai nanti pembuatannya. Komponen jelas masih ada dari luar tetapi komponen lokalnya akan diupayakan mencapai 60 persen.