Mohon tunggu...
APOLLO_ apollo
APOLLO_ apollo Mohon Tunggu... Dosen - Lyceum, Tan keno kinoyo ngopo

Aku Manusia Soliter, Latihan Moksa

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Episteme Pendidikan Intelligence Keamanan Negara [6]

27 Juni 2019   16:11 Diperbarui: 27 Juni 2019   16:20 81
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Episteme Pendidikan Intelligence Keamanan Negara [6]

Intelligence, International Security adalah isu penting dihadapi dunia global dan adanya  tren yang terus membentuk intelijen dan perkembangan geo-strategis di abad ke-21. Kompetensi SDM yang melampaui [beyond] perlu dilakukan demi terciptanya martabat manusia universal untuk semua stakeholders memiliki  kesadaran tentang cara di mana masalah intelijen memanifestasikan diri dalam masalah keamanan dalam perdamaian dan perang. Hakekat  Intelligence and International Security adalah upaya memperjuangkan dan mempertahankan dunia yang adil dan beradab maka pemahaman tentang dilema etika yang terkait dengan aktivitas intelijen  mendapatkan pemahaman yang baik.

Ke [12] Pengusaan Ilmu Matematika, Statistika sehingga hal-hal  yang dapat dipahami. Seorang Punggawa Intelligence Keamanan Negara mampu menguasai ilmu Matematika, Statistika. Menguasai matematika bukan hanya ketrampilan IQ,  dan kemampuan teknis belaka, tetapi bisa melakukan harmoni bakat penjiwaan pembatinan, dan interprestasi hermeneutis pada penggunannya sehingga dapat dipakai membuat suatu pengertian dan penyimpulan.

Mengapa Matematika, Statistika bersifat mutlak harus dikuasai. Pada abad 17 ketika Isaac Newton (1643-1727) merumuskan alam sebagai teori universal gravitasi berkeyakinan alam semesta adalah buah kehendak Tuhan dalam bentuk Matematika. Maka dengan matematika memungkinkan memahami  Yang tak terbatas adalah yang selalu memungkinkan untuk mengambil sesuatu di luar. Menolak  yang tak terbatas dalam matematika dan fisika, dengan beberapa pengecualian.  Hakekatnya adalah  melakukannya dengan membandingkan matematika dan persamaan matematika dengan proposisi (kontingen) asli, akal, pikiran, tanda-tanda proposisional dan nama-nama konstituennya, dan kebenaran oleh  korespondensi. Bahasa matematika dimaksudkan untuk merujuk dan mengkuantifikasi objek  keabstrakan, Keberadaan, Kemandirian.

Atau katakanlah supaya bisa mengetahui substansi [X] atau sesuatu itu "sama, beda, gerak, diam, dan ada" ["rest," "motion," "being," "sameness," and "other] sehingga layak membuat pengertian dan penyimpulan atau sebuah menghindari sikap ceroboh absurditas. Dengan matematika statistika [deduksi induksi] maka validitas pengertian yang bertanggjawab harus memasukkan unsur indicator "rest," "motion," "being," "sameness," and "other atau Posterior Analytics atau semacam Aksioma (axioma) adalah pernyataan yang layak diterima dan diperlukan sebelum mempelajari apa pun.  Dengan memahami 5 unsur ini maka Hipotesa (hupothesis ) menegaskan satu bagian dari kontradiksi, misalnya, sesuatu itu ada atau tidak.  Dan definisi ( horismos ) tidak menyatakan bagian dari suatu kontradiksi (atau mungkin tanpa pernyataan keberadaan atau ketidakberadaan).

Sebagian  besar bukti matematis tak berwaktu memiliki bentuk silogisme afirmatif universal. Maka seorang punggawa intelligent professional membutuhkan matematika statistika untuk memahami [event] baik before ataua after pada pola [a]  Garis lurus fisik yang kita gambar tidak lurus; garis singgung fisik tidak benar-benar menyentuh lingkaran pada suatu titik. Dengan kata lain, objek fisik gagal memiliki sifat matematika yang kita pelajari. Ini adalah masalah ketepatan; [b]  Objek matematika fisik tidak memiliki sifat yang kita butuhkan dari objek pemahaman. Mereka tidak terpisah atau tidak tergantung pada materi. Karenanya, mereka tidak kekal atau tidak berubah. Ini adalah masalah keterpisahan.

Pada akhirnya tujuan [final cause] matematika atau penilaian sintetik apriori seperti dikatakan Aristotle memiliki fungsi 'abstraksi' atau 'mengambil' atau ' menghilangkan ' atau 'pengurangan' (aphairesis), ' presisi ' (akribeia), ' terpisah ' (hos kekhorismenon ), ' qua ' atau 'dalam hal itu' (hei), dan ' hal yang dapat dipahami ' (noetike hyle).

Sekali lagi apa alasan keharusan seorang punggawa Negara bidang intelligence menguasai matematika.  Karena alasan penyusunan Kategori. Misalkan saya ambil jawaban 12 Kategori empat kelompok (disebut "momen") dari masing-masing tiga kategori. [a] Kualitas seperti  kenyataan, negasi, batasan . [b] Kuantitas seperti kesatuan, pluralitas, totalitas; [c] Modalitas seperti keberadaan, kemungkinan, keharusan; [d] Relasi seperti bawaan dan subsistensi, kausalitas dan ketergantungan, komunitas. Dengan meminjam episteme Immanuel Kant  tentang konstruksi konsep matematika dalam "The Discipline of Pure Reason in Dogmatic Use"  khususnya tema "Doctrine Transcendental of Method."  Hal ini berguna  membuat perbedaan ketat antara intuisi dan konsep, sebagai mode representasi; antara kemampuan mental sensibilitas dan pengertian; antara penilaian sintetis dan analitik; dan antara bukti dan alasan apriori dan aposteriori .

Transcendental Analytic, Kant menyimpulkan tabel   dua belas kategori, atau konsep murni dari pemahaman, enam pertama digambarkan sebagai kategori "matematika" (berlawanan dengan "dinamis") terhadap objek intuisi. Dengan mendasarkan pada Critique of Pure Reason, dengan alasan   bentuk-bentuk kepekaan manusia, ruang dan waktu, memberikan dasar untuk memperoleh penilaian matematika sintetik dan apriori.

Pada teks Kant bidang Analytic of Principles, penilaian sintetik yang "mengalir apriori dari konsep murni pemahaman" dan yang mendasari semua kognisi apriori lainnya , termasuk matematika. Prinsip-prinsip pemahaman murni yang dikaitkan dengan kategori kuantitas (yaitu, kesatuan, pluralitas dan totalitas) adalah Aksioma Intuisi.  Sedangkan prinsip-prinsip matematika yang tepat "diambil hanya dari intuisi" dan karena itu tidak merupakan bagian dari sistem prinsip-prinsip pemahaman murni, penjelasan untuk kemungkinan prinsip-prinsip matematika tersebut dilengkapi dengan gagasan setinggi mungkin. Dengan demikian, Aksioma Intuisi memberikan meta-prinsip, atau prinsip prinsip-prinsip matematika kuantitas, yaitu  "semua intuisi adalah besaran yang luas".

Catatan tidak mungkin bisa menguasi ilmu matematika, jika tidak memiliki kemampuan mental tahan duduk berhari-hari, maka sebelum bisa belajar matematika dengan serius  ada tradisi belajar dulu ilmu tahan duduk berhari-hari atau minimal 3 hari, 3 malam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun