Filsafat Pilihan

Iluminasi

10 Agustus 2018   23:38 Diperbarui: 10 Agustus 2018   23:53 456 1 2
Iluminasi
dokpri

ILUMINASI

Manusia merasa seperti telempar, selalu bimbang ragu, galau, sanksi, keliru, tersesat, dan bingung, di mana (dalam ruang), kapan (dalam waktu), dan seterusnya. Jadi "jika aku keliru maka aku ada"  ["si enim fallor, sum"].

Dokrin skeptisisme adalah suatau paham yang meragukan atau menyangsikan segala sesuatu dipastikan dapat diketahui. Bahwa segala sesuatu mesti diragukan, dan dengan keraguan akan diperoleh kepastian. Satu hal yang tidak dapat dilakukan bahwa aku sedang berpikir, maka kesadaran tidak dapat dipisahkan dari diri seseorang. 

Manusia dapat meragukan, mengamati, menolak, menginginkan, berimajiasi dan merasakan, dengan jelas dan terpilah-pilah. Manusia yang ingin tahu bisanya selalu resah, dan keresahan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan  baik untuk masalah hidup, berpikir itu sendiri, dan mencintai, membenci, atau mengabaikan apapun.

Adalah Markus Aurelius Augustinus (354-430), menyatakan "jika aku keliru maka aku ada"  ["si enim fallor, sum"]. Dengan dasar ini lah maka Augustinus mencari jalan menemukan pengetahuan, melalui dalam batin manusia. Bahwa "janganlah pergi keluar, kembalilah dalam dirimu sendiri, didalam sukma batin manusia tinggal kebenaran" ["oli foras ire, in teipsumredi: in interiore homine habitat Veritas"].

Manusia mencari kebenaran harus kembali kedalam batin dirinya sendiri, dengan demikian dapat menemukan kedalaman. Ada gerak dari dunia wujud indrawi (permukaan), kedalam jiwa bergerak lebih dalam lagi sampai tarikan menunju kebenaran yang niscaya berlaku dimana-mana  sama seperti matematika tak berwaktu.

Ide tanpa pengalaman dan pengamatan empiris indrawi memerlukan episteme atau Theory of Knowledge oleh Augustinus dari Hippo sebagai ["Iluminasi"]. Kata  ["iluminasi" Latin "lumen"] adalah cahaya atau terang, yang selalu ada dalam diri manusia dan tidak pernah padam. 

Iluminasi adalah cahaya matahari pada penglihatan batin kita, dan mata kita adalah daya kekutan logos menghasilkan benih kebenaran, dan benda yang diterangi adalah pengetahuan itu sendiri.

Maka dengan "Theory of Illumination" ini memungkinkan manusia memiliki kemampuan fakultas akal budi menyelidiki semua pengetahuan terlepas dari pengalamannya atau semacam manusia memiliki kemampuan ide-ide bawan (ideae innatae) termasuk dalam kesakralan dan keluhuran manusia yang paling untuk mengambil daya pertimbangan dan melepaskan segala keraguan yang ada.

Sedangkan jalan menuju sumber utama pada tindakan agar sampai kepada logos Sang Cahaya itu manusia memiliki apa yang disebut dengan suara hati yang bersifat mutlak, dan mengikat manusia. Dan kata mutlak mencerminkan wajib ditaati (tanpa ruang, dan waktu) dan berada diluar jangkuan pemikiran kesadaran teoritis.

Implikasinya sangat dalam, dan luar biasa, karena "suara hati" adalah kebaikan tertinggi (summum bonum) manusia. Maka "isi hati" orang lain  tidak dapat diketahui oleh siapapun. Itu artinya juga maka kita tidak dapat menilai, atau menghakimi orang lain. Karena "isi hati" berkaitan dengan iman seseorang, maka dengan sendirinya "isi hati" orang lain tidak dapat dinilai dengan pemikiran rasional (pure reason).

Work Citied: Ronald H. Nash, The Light of the Mind: St. Augustine's Theory of Knowledge (Lexington, KY: The University Press of Kentucky, 1969)