Humaniora Pilihan

Kemampuan Intellijen Negara: Epistimologi "Ring of Gyges"

6 Februari 2018   14:19 Diperbarui: 6 Februari 2018   18:13 873 0 0

Kemampuan Intellijen Negara: Epistimologi  "Ring of Gyges"   *)

Mengawali uraian ini saya mengutip  narasi ide dunia intelligent pada kisah  di tulis oleh Homerus,  pada  Iliad dan Odyssey, yang disusun pada suatu waktu antara abad ke-9 dan ke-6 SM. Kisah ini menceritrakan Iliad menuturkan tahun terakhir pengepungan Troya, sedangkan Odisseia menuturkan kepulangan Odyssey ke tanah airnya di Ithaka setelah penghancuran Troya. Mirip seperti kisah Mahabharata. 

Kata kunci kisah perang ini menunjukkan kemapuan "penyamaran, atau bentuk "ketidaknampakan" atau "ketersembunyian" dilakukan. Kesuksesan para prajurit Yunani: "penyamaran, atau bentuk "ketidaknampakan" atau "bersembunyi" di dalam Kuda Troya yang berukuran raksasa yang ditujukan sebagai pengabdian kepada Poseidon memungkinan tentara Yunani lulus masuk.  

Ketidaknampakan isi Kuda Troya tersebut menurut para petinggi Troya dianggap tidak berbahaya,maka Lulus, dan diizinkan masuk ke dalam benteng Troya. Sehingga pada malam harinya, pasukan Yunani keluar dari perut kuda kayu {("penyamaran, ketidaknampakan, ketersembunyian")} tersebut dan akhirnya merebut menang  di kota Troya. Kemenangan berikutnya adalah kemampuan isi perjalanan pulang Odysseus setelah 20 tahun berjuang.  Langkah di lakukan Odysseus, adalah "menyamar" sebagai seorang pengemis tua, menenun kain untuk mengecek istri yang lama ditunggalkan bernama "Penelope", kemudian memperoleh kembali cinta sejati diantara mereka. Odysseus menggunakan sandi dalam penyamaranya dengan menyebut " Iam no body" atau di kenal dengan symbol NN. 

Isi narasi ini sebenarnya adalah kata kunci dunia intelligent dan kehadirannya untuk mencapai kemenangan, melalui ketersembunyian, ketidaknampakan indra, atau penyamaran tanpa identitas. Ketersembunyian ini selalu memiliki metanarasi symbol-simbol metasemiotic, metahermeneutic, Symbolism, Imagery, Allegory, prosa puisi, bahkan melampui transliterasi bentuk komunikasi  sehingga memungkinkan adanya validitas data. 

Data yang valid melalui "tanda dan symbol secara sangat khusus yang hanya diketahui diri sendiri, oleh dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri, dan hanya dipahami dalam wilayah terbatas (groupthink) akan menghasilkan presisi penyimpulan yang tepat, dan cepat dalam lingkup makro. Kata symbol "nomen nescio" atau  "anonymity",no id, (melakukan sesuatu tanpa dapat ditelusuri jejak atau tanpa jejak) dan masih banyak model komunikasi lainnya yang tidak mau saya  jelaskan semuanya takut melanggar etika. 

Inspirasi ilmu Intelligent adalah pada Buku Plato "Republic II (2:359a--2:360d)", narasi peristiwa "Ring of Gyges" (bisa ditafsir sebagai apa itu keadilan) tetapi saya memahami "ring of gyges"  menceritakan bagimana kemampuan Cincin milik "Gyges" memungkinkan terjadinya kudeta, karena memperoleh kemampuan tidak dapat dilihat dengan mata (ketersembunyian) untuk membunuh raja, dan berselingkuh dengan istri raja  untuk memperoleh kekuasaan. Gyges bukan apa-apa hanya tukang gembala hewan bisa berubah menjadi raja karena memilik kemampuan intelligent. 

Maka wajar hingga saat ini paradigm seluruh negara di dunia ini siapapun menguasi "intelijen" maka negara tersebut menjadi mampu menguasi seluruh alokasi sumberdaya apapun.  Ada jutan narasi lain dalam mitos dan perjalanan umat manusia tentang dunia intelijen (tidak perlu saya tulis meskipun saya paham). {Ring of gyges,  atau  ring of invisible} adalah pendasaran ontologi mendasari ilmu intelligent.

Perang Indocina kekalahan US Army dengan kekuatan Vietnam, terjadi antara 1957 sampai 1975. Bisa dijawab secara tepat "factor apa yang menyebabkan kekalahan disini. Bahwa Amerika adalah negara terkuat di dunia di bidang ekonomi, kuat di bidang militer harus kalah di perang  akibat kemapuan "penyamaran ketidaknampakan"  dengan kearifan local Viet Cong, yang berada diluar kemampuan nalar intelijen tentara Amerika. 

Mungkin tidak hanya itu tetapi ada alam metafisik atau data error yang tidak teliti. Memang good intelligent harus paham betul memfungsikan seluruh "pancaindra", membentuk persepsi yang dapat dipertanggungjawabkan, menguasai keakhlian matematika logika (aprori aposteori), paham  arah angin, bentuk tanah, satu helai daun jatuh, satu helai rambut tersisa, dan pergerakan ruang waktu tidak bisa ditolerasi pada tatanan rigoritas, dan kemampuan antisipasi, dan kemapuan divergensi convergensi.

Pada tiga kasus di atas saya dan masih ada ribuan narasi lainnya tidak perlu saya sampaikan.  Bahwa Dalil-dalil, dan kata Kunci Kemampuan Intelijen Negara adalah "mengetahui memahami segala bentuk pengetahuan (epsitimologi): melampui {"beyond  Ring of gyges"} pada bentuk: "penyamaran, ketidaknampakan, ketersembunyian".  Bagimana ini diterangkan.

Untuk dapat membatinkan pemahaman ini butuh seleksi bakat, ketekunan, dan proses phronesis yang melampui melalui  pengolahan pendidikan pembentukan rasional jiwa mortal ke rasional jiwa immortal. Pada buku "The Republic atau Politeia " Platon (Plato) sudah dijelaskan bagimana proses pendidikan ini dilakukan. Ini juga tidak mudah sebab jika pendidikan ini saya terangkan (aspek etis tidak mungkin saya lakukan), dan  tentu saja di asumsikan dapat menciptakan manusia intelligent profesional yang idea. 

Tetapi di sini ada satu tahap  event tertentu di antara yang mortal, dan immortal di sebut tahap resistensi atau paradox atau saling mengalienasi dan tidak dapat dipelajari. Pada tahap itulah seluruh ilmu intelligent mengalami penurunan nilai kegunaan atau kegagalan total. Apa itu paradoksnya. Maaf saya tidak bisa diterangkan disini, tetapi NKRI punya, ada kemampuan itu, kalau belum punya iya dicari, karena memang ada secara alami. 

Tetapi secara singkat (sebagai representasi umum) saya sampaikan di antara tahap-tahap itu ada resistensi yang tidak dapat ditundukkan kepada  ontologi kosmogoni manusia, dan hanya manusia tertentu yang dapat memahaminya, (maaf saya yang paham literaturnya).

Supaya ada narasi akademik pada artikel ini secara normative sebagai modal awal dapat di sebut agar mampu menjadi "intelligent pada level  dasar" hasil penelitian saya selama 12 tahun,  maka ada kewajiban menguasai betul, dan mampu mempraktikkannya epsitimologi dasar pada dokrin Ilmu: (1) Pada 10 Kategori Arsitotle, dan 4 Cause; (2) Ilmu Buku Republic Platon, (3) Dokrin Ilmu Immanuel Kant: Critique of Pure Reason, Critique of Practical Reason, Critique of Judgment.  Tanpa kemahiran pada  3 tokoh pemikiran ini, maka kemampuan intelligent tidak akan bisa mensejajarkan diri dengan negara lain. Tokoh ke (4) Pemikiran Martin Heidegger, wajib dipahami untuk paradigma dunia intelligent. Maksudnya memahami disini bukan hanya memahami secara lahiriah (siapapun bisa), tetapi memahami aspek batiniah (ada seleksi pemahaman dan dapat dilakukan), tetapi kegagalan justru pada kemampuan melampaui literasi tersebut, dan mampu menciptakan bagi dirinya sendiri tatanan idea bagi kebenaran, kebaikan, keadilan, dan keindahan.

Agar lebih memperoleh kejelasan saya "metafora mata" berubah makna menjadi mata-mata, diambil dari wangsa burung Elang (mistis)". Misalnya secara ilmiah bentuk ini direduksi pada aplikasi {"Panopticon"} bentuk penyamaran, ketidaknampakan, ketersembunyian.  Pemikiran Filsuf Jeremny Bentham  tentang "Panopticon" (The parallel between Jeremy Bentham's panopticon and CCTV) mengadopsi  yang memungkinkan model intelligent dengan "tanpa diketahui tindakan itu sedang di amati"  atau saya sebut "Epistimologi kemahatahuan tak terlihat, bentuk transformasi ring of gyges". Bentham menamakan "Panopticon" sebagai paradigm memperoleh kekuatan pikiran di atas semua pikiran (beyond) yang melampaui. "Panopticon" kemudian oleh Michel Foucault, digunakan  sebagai  pada Discipline and Punish (1975), dan konsep "Panopticon" di era sekarang mengalami perubahan struktur menjadi pengawasan televisi sirkuit tertutup (CCTV) di ruang publik.

Akhirnya Kemampuan Intelligent Negara pada metanarasi "Ring of Gyges" bahwa: "penyamaran, ketidaknampakan, ketersembunyian", akan membentuk epsitimologi ilmu ini seperti dikatakan Heidegger: {"Kebenaran itu keras kepala, dan selalu menyembunyikan diri, dan kebenaran yang manusia pahami hanya sebatas yang tak tersembunyi"}. Silakan kontemplasikan sendiri apa makna batin dibalik kata-kata kalimat ini.

Saya berharap akan ada "Ring of Gyges" yang bisa kita temukan untuk kemampuan intelligent NKRI untuk memahami "ketersembunyian" kedepannya bersifat  melampaui (beyond) untuk kemajuan bangsa dan negara tercinta. Jayalah NKRI harga mati.

--Guru Besar UMB--6/2/2018--14.26 PM