ayub badrin
ayub badrin

Selain menggeluti dunia Teater saya juga aktif di media masa lokal.

Selanjutnya

Tutup

Travel

Kampoeng Batik di Kota Semarang, Wisata Belajar Mbatik yang Unik

6 Desember 2018   11:05 Diperbarui: 6 Desember 2018   11:31 109 0 0
Kampoeng Batik di Kota Semarang, Wisata Belajar Mbatik yang Unik
steemit.com

Membeli kain batik buat oleh-oleh saat mengunjungi tempat wisata sudah terlalu biasa. Tetapi di Semarang Jawa Tengah berbeda. Bagaimana sensasi berbelanja kain atau baju batik sambil belajar membatik sekaligus melihat kampungnya.

Namanya Kampoeng Jadoel atau Kampoeng Batik. Kampung ini terletak tak jauh dari Kota Lama dan Pasar Johar. Tepatnya di Kelurahan Rejo Mulyo RT02.  Di antara keduanya terdapat Bundaran Bubakan, di sini terdapat jalan masuk dengan gapura besar bertuliskan "Kampung Batik Semarang".

Kampoeng ini memang unik. Hanya satu RT. Dipimpin seorang RT bernama, Dwi Christianto. Kata Dwi Kampoeng Batik hanya dihuni 24 Warga, dan dari 24 warga ini, hanya 12 rumah yang aktif memproduksi batik.

Tim Persatuan Wartawan Pemko Medan berkesempatan mengunjungi Kampoeng Batik yang nyeni dan unik ini, Rabu (28/11).

Sebelum masuk kampung ini di depannya dibatasi dengan stand stand yang menjual produk batik mereka. Pelancong boleh membelinya di situ. Tentunya setelah belajar membatik diselembar kain putih yang telah disiapkan dengan merogoh kocek Rp30 ribu. Selesai membatik, hasilnya boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Menurut Dwi Christianto, Kampoeng Batik terinsvirasi saat, walikota semarang sebelumnya membuat acara membatik bersama di kampung tersebut.

"Sejak itu, kampung ini dinobatkan menjadi kampoeng batik. Namun tidak bertahan lama. Kampung ini kembali sepi. Tetapi sejak tahun 2016, kampoeng batik menjadi viral setelah dilukis oleh seorang seniman lukis, bernama Luwianto," jelas Dwi.

Bahkan lukisan yang menceritakan sejarah terbentuknya kampoeng batik yang dilukis di salah satu dinding gang itu saat ini menjadi sangat viral di medsos. "Sekarang malah sudah diketahui manca negara," tambahnya.

Sementara itu, Luwianto menambahkan, ide menghidupkan kembali Kampoeng Batik ini lantaran lukisan dindingnya viral di Medsos. Sejak itu dirinya mulai menyadarkan kembali beberapa warga untuk kembali menghidupkan Kampoeng Batik walau tanpa bantuan pemerintah.

"Sejak itu perlahan-lahan kampung kami ini mulai kembali didatangi pelancong. Perekonomian masyarakat pun mulai membaik, seiring kedatangan mereka yang datang untuk belajar membatik maupun belanja," sambung pria asal Jogyakarta ini.

Salah satu rumah yang sempat dikunjungi Tim Persatuan Wartawan Pemko Medan, menunjukkan seorang wanita tengah membuat skets batik persis di depan rumahnya. Wanita paruh baya itu menyapa ramah.

Batik Semarang berbeda dengan batik Jogyakarta dan solo. Perbedaan tersebut dari sisi motifnya. Kata Luwito ciri-ciri Batik Semarang bermotif kembang kangkung dan Manuk Pletuk.

Harga Batik Semarang cukup variatif. Dari harga Rp150 ribu hingga Rp5 jutaan tergantung kwalitas dan motifnya.

Edo Pramono (pemandu), yang ikut mendampingi mengunjungi tempat tempat wisata di Semarang menjelaskan, Produksi Batik Semarang tidak kalah kwalitasnya dengan batik, Jogya, Solo dan Pekalongan. "Batiknya ndak luntur mas. Ada malah yang makin dicuci makin cerah warnanya," ujarnya.

Edo Pramono juga menceritakan tentang kampung batik yang di hanguskan oleh pepera di Semarang, masih bertahan hidup perusahaan batik milik orang Cina peranakan di Kampung Bugangan. Perusahaan ini berkembang sejak awal abad ke-20 sampai dengan tahun 1970-an, bernama Tan Kong Tien Batikkerij. Pemilik perusahaan bernama Tan Kong Tien, yang menikah dengan Raden Ayu Dinartiningsih, salah satu keturunan Hamengku Buwana III dari Kesultanan Jogjakarta.

Tan Kong Tien adalah salah seorang putera dari Tan Siauw Liem, seorang tuan tanah di Semarang, yang mendapat gelar mayor dari pemerintah Hindia Belanda. Kekayaan tanahnya meliputi kawasan Bugangan sampai Plewan, seluas 90 ha. Karena kekayaan itu, tidaklah mengherankan jika putera Tan Siauw Liem itu diambil sebagai menantu oleh sultan di Jogjakarta. 

Tan Kong Tien memperoleh keahlian membatik dari istrinya yang masih kerabat keraton Jogja itu. Keahlian dalam pengelolaan usaha batik diturunkan kepada puteri Tan Kong Tien, Raden Nganten Sri Murdijanti, yang meneruskan perusahaan Tan Kong Tien sampai dengan tahun 1970-an. Setelah kemerdekaan Indonesia, Raden Nganten Sri Murdijanti memperoleh hak monopoli batik untuk wilayah Jawa Tengah dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Pemesan batik pada masa kolonial Belanda berasal dari kalangan pejabat pemerintahan, para turis, dan pedagang. Produk-produk yang dipesan berupa jarit/nyamping, selendang, dasi, dan topi. Pada tahun 1970, perusahaan batik Tan Kong Tien surut, karena tidak ada lagi generasi penerusnya.

Sementara, Kabag Humas Pemko Medan Ridho Nasution yang diwakili Kasubbag Humas Pemko Medan, Hendra Tarigan S.Sos saat ditanya tujuan mengunjungi Kampoeng Batik mengatakan, apa yang dilakukan Pemko Semarang dapat menjadi  inspirasi dan diadopsi Pemko Medan untuk diterapkan Kota Medan.

"Kampoebg Batik ini sangat menginspirasi kita. Apa lagi dengan adanya Sentra Batik Medan yang diperkenalkan Ketua TPPK Ibu Hj Maharani dapat meniru tindakan Kampung Batik Semarang agar mampu mendatangkan wisatawan," pungkas Hendra.