Arie Yanwar
Arie Yanwar

Menulis sebagai bentuk apresiasi pada pengetahuan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Konvensional bin Syariah, Perbankan di UK

8 Desember 2017   06:18 Diperbarui: 8 Desember 2017   08:21 754 0 0
Konvensional bin Syariah, Perbankan di UK
Dokumen Pribadi

Judul tulisannya sedikit provokatif, namun memang inilah yang saya alami saat ini pada saat kuliah di UK. Sebenarnya waktu dulu kuliah di Jepang, saya menggunakan akun bank lokal yang sama sistemnya dengan di UK yaitu konvensional bin syariah.

Kenapa saya sebut konvensional bin syariah?

Sebelum menjawab pertanyaan ini mari kita lihat dulu system perbankan di Indonesia terutama yang konvensional dan terus terang saya hanya punya akun bank yang bukan syariah. Di akun ini terdapat biaya administrasi bulanan untuk rekening dan administrasi kartu yang kalau di jumlah totalnya Rp13.000. Terdapat buku tabungan yang kalau kita ganti buku kena biaya Rp10.000.

Terdapat biaya transfer antar bank sejumlah Rp6.500. Kalau mau menggunakan layanan SMS banking kena charge sebesar biaya SMS antar operator (biasanya Rp500) per SMS. Ngambil uang sendiri di ATM yang berbeda banknya kena biaya. Kalau mau layanan e-banking, kita selaku nasabah kudu daftar dulu di KCP terdekat. K

alau ingin print rekening koran harus ke KCP itupun untuk transaksi 3 bulan terakhir, lewat dari itu sudah tidak bisa atau bisa tapi ada biaya tambahan. Mau transaksi sama ritel pake mesin EDC kena fee, walau sudah makin banyak yang gratis, itu juga gak semua kartu debit bank bisa dan mayoritas ada S&K supaya gratis.

Sekilas terlihat bahwa biaya-biaya ini adalah biaya yang dikeluarkan oleh bank untuk memberi layanan maksimum kepada nasabah. Tentu saja beberapa nasabah ada yang menganggap biaya segitu ya wajar dan gak seberapa walaupun ada juga mungkin yang ngegerutu tapi suka gak suka ya kudu nerimo.

Selain biaya tersebut, rekening konvensional juga mendapat tambahan bunga dan tentu saja bunga tersebut terkena pajak 20%. Walaupun banyak orang berpendapat bahwa menerima bunga itu riba (dan saya juga setuju), cuma kalau dipikir-pikir kalau tidak ada bunga ya sebagai nasabah saya cuma nyawer doank dong ke bank, lha tiap bulan minimal kena Rp13.000. 

Kalau gaji diatas Rp10 juta sih masih OK karena bunga minus pajak masih menutupi biaya admin bulanan, lha kalau gaji cuma UMR lebih dikit ya bisa BEP aja sukur, gimana yang cuma UMR, paling cuma bisa ngelus dada doank.

Bagaimana dengan akun bank syariah?

Berhubung saya bukan nasabah bank syariah, saya cuma bisa dapat informasi dari ibu saya yang kebetulan nasabah bank syariah. Dan memang bank syariah menggunakan system bagi hasil untuk rekening kita. Walaupun namanya bukan bunga tapi bau-bau ribanya masih bisa kecium karena logikanya apabila ada investasi bank yang merugi maka si nasabah ikut nanggung juga kerugiannya yang berakibat pada rekeningnya yang dipotong. 

Tapi pada prakteknya saya belum pernah dengar ibu saya mengeluh rekeningnya di potong atau mungkin juga bank gak pernah rugi dalam berinvestasi?? Tentu saja terdapat biaya administrasi dan kawan-kawannya. Dalam hal ini 11/12 lah sama akun bank konvensional.

Bank syariah juga mengenal akun yang gak dapat imbal hasil alias gak akan 'berbunga' dan tentu saja tidak kepotong biaya juga. Nah, ini baru fair, namanya nasabah nyimpen uang di bank ya cukup uangnya aman tersimpan saja, gak usah ada embel-embel nambah atau kena biaya admin. 

Tapi tentu saja biaya 'persaudaraan' masih ada seperti biaya terbit buku (rekening koran), biaya transfer antar ATM, biaya mobile bankingnya, biaya ngambil duit di ATM yang bukan banknya serta biaya transaksi pakai mesin EDC (walau tidak semua).

Bagaimana dengan di UK?

Sebenarnya hampir sama dengan akun bank saya waktu kuliah di Jepang yaitu sama-sama akun bank konvensional, sama-sama tidak berbunga, sama-sama tidak ada biaya admin dan tentu saja sama-sama tidak ada biaya 'persaudaraan'. Weleh ternyata akun bank konvensional di negeri yang penduduknya mayoritas gak kenal Tuhan malah lebih syariah daripada akun bank yang syariah di kampung halaman yang hanya manusia aneh lah yang gak ber Tuhan.

Tentu saja untuk kasus di UK, akun bank yang berbunga juga ada, tapi disebutnya business account dan setiap orang bebas memilih untuk memiliki business account atau hanya personal account seperti yang saya punya.  

Ngambil duit di ATM masih ada yang kena biaya tapi so far susah saya nyari ATM yang masih mungut biaya karena hampir semua free walaupun bukan ATM bank saya. Setiap buka rekening, nasabah otomatis mendapat kartu debit (dan berlogo visa) yang bisa dipakai untuk transaksi online kapan saja, dimana saja tanpa biaya kartu dan dapat bonus berupa card reader (lihat gambar).

Terus koq bisa begitu?

Hanya 1 kesimpulan saya, yaitu perbankan di UK jauh lebih efisien daripada perbankan di Indonesia. Gimana gak efisien, saya gak punya buku tabungan, kalau butuh rekening koran ya silakan print sendiri pakai akun e-banking saya.

Bagaimana daftar e-banking nya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2