Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Jangan Mati di Jakarta

7 Juli 2020   20:42 Diperbarui: 8 Juli 2020   23:06 464 57 15 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Jangan Mati di Jakarta
Tugu Selamat Datang. Sumber: Jakarta.panduanwisata.id

Ketua RT 05: "Bukan. Surakyat bukan warga kami. Makanya..., kemarin-kemarin diajak kerja bakti nggak mau, uang ronda nggak mau bayar. Sekarang, lagi kesusahan baru nglapor..." 

Ketua RT 06: "Apaan...? Udah jelas dia warga RT 05, kok nglapor-nya ke sini?" 

***

Begini persoalannya. 

Subuh tadi, Gendhuk ( 11 tahun ), anak semata wayang Surakyat meninggal dunia. Sedih, tentu saja. Tapi bukan itu yang membuat bingung Surakyat dan istrinya, di Jakarta ini ia tak punya sanak-famili yang bisa dimintai bantuan. Dengan tetangga pun ia tak ada yang kenal, hanya tahu sambil lalu saja. 

Ia pun melaporkan kepada Ketua RT 05, tempat ia tinggal sekarang ini. Pak RT malah marah-marah. Surakyat tak diakui sebagai warga RT 05. 

"Ada masalah lu baru nglapor. Kemarin ke mana aja? Uang ronda, kebersihan, nggak mau bayar. Kerja bakti nggak mau dateng."

"Tapi sekarang masalahnya anak saya meninggal, Pak RT. Lagian, apa hubungannya orang meninggal dengan kerja bakti?"

"Eh, lu mau nglawan petugas pemerintah? Gini-gini gua ada SK-nya dari Pak Lurah. Gua juga digaji dengan Gubernur. Nah, elu, nglapor nggak kemarin, waktu pertama tinggal di situ? Punya KTP nggak, lu?"

Surakyat tak menjawab. Kenyataannya dia memang tak mempunyai KTP. Seingatnya baru sekali ia mengurus KTP, saat ia akan menikah dulu. Sudah itu ia tak peduli, juga saat pendataan massal untuk pembuatan e-KTP. 

Lalu Surakyat melapor ke Ketua RT 06, karena memang tempat tinggalnya berbatasan dengan RT 06. 

Ketua RT 06 malah tak senang. "Lha, udah jelas-jelas lu tinggal di erte lima, kok nglapor-nya ke sini?" 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x