Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Aku Melihat Seorang Perempuan di Seberang Jalan

15 Januari 2020   21:55 Diperbarui: 17 Januari 2020   23:48 342 31 14 Mohon Tunggu...
Cerpen | Aku Melihat Seorang Perempuan di Seberang Jalan
ilustrasi menari. (sumber: pixabay.com)

Matanya diselimuti kabut, dan tubuhnya seperti menyimpan pusaran  badai, yang sewaktu-waktu akan dihempaskan entah kepada siapa. Ia tak peduli dengan lalu-lalang kendaraan, tapak-tapak kaki yang bergegas, dan angin yang basah. Tampaknya sebentar lagi akan turun hujan.

Suara-suara.

Perempuan itu seperti mengingat percakapan-percakapan di dalam kepala, mungkin tentang cerita-cerita dibalut gula yang kemudian berujung penghianatan, atau mungkin peristiwa lain yang membuat sakit hatinya. Dan ia berusaha menyembunyikan luka dan air mata. Diam-diam. 

Perempuan itu masih di seberang jalan. Gerimis sudah jatuh, tapi badai di tubuh perempuan itu terlihat makin membesar, seperti akan terjadi ledakan besar bila badai itu dihempaskan. 

Ia masih berdiri. Gelisah, sedikit gugup. Bahasa tubuhnya dapat terbaca, bahwa ia seperti tak yakin akan dirinya. Tiap sebentar melihat ke suatu arah. Menunggu sesuatu, atau ia sedang dinanti seseorang?

Gerimis makin rapat.Perempuan itu bergeming di tempatnya. Sepertinya kini ia yakin, bahwa seseorang - atau entah apalah - akan dilihatnya. 

***

Aku sendiri berjarak cukup jauh di seberang perempuan itu. Kami dipisahkan empat jalur jalan yang cukup lebar, dan di tengahnya dipisahkan jalur hijau; ada ditanami rerumputan halus, pot-pot dengan pokok tanaman yang tertata rapi. 

Sosok dan wajahnya tak begitu jelas terlihat dari seberang ini. Selintas mengingatkanku pada sosok perempuan, pada suatu masa. Tapi rasanya tak mungkin, karena sama saja mensinkronkan dari berjuta kemungkinan. Ditambah jarak waktu yang bertahun-tahun lamanya, dan rentang kilometer yang ratusan dari tempatku berdiri. 

Ada kilatan yang diikuti suara gemuruh dan ledakan di langit. Gerimis menjadi butiran air yang membesar. Semakin banyak. 

Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Tubuh perempuan itu seperti akan beranjak, di saat itulah tatapannya ke seberang, ke tempatku berdiri. Cukup lama. 

Sepercik kilat keluar dari matanya. Aku yakin itu bukan pantulan dari guntur, tapi yang kurasa semacam mata tajam dari sebilah pedang, yang akan mencumbui batang leherku. 

Samar, jarak pandang yang makin mengabur, karena terhalang hujan, tertangkap oleh mataku; tarikan bibir yang halus. Rasanya aku ingat dengan senyum itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x