Mohon tunggu...
Muhammad Asif
Muhammad Asif Mohon Tunggu... Dosen - Lecturer and reseacher

Dosen dan peneliti. Meminati studi-studi tentang sejarah, manuskrip, serta Islam di Indonesia secara luas.

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

KH. Misbach Mustofa, Menulis untuk Membangun Masjid

31 Mei 2019   07:20 Diperbarui: 31 Mei 2019   07:43 70
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kisah Untuk Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Bahkan saya pernah mendengar salah seorang penceramah mengatakan kiai Misbach hafal bolak-balik kitab tersebut, maksudnya tidak hanya hafal dimulai dari awal, tapi ketika dibalik dimulai dari akhir pun hafal. 

Misbach kecil menghafal kitab tersebut hanya dalam tempo yang singkat (saya agak lupa satu atau dua bulan seingat saya). Kepada kiai Kholil selain belajar bahasa Arab, Misbach juga belajar berbagai cabang ilmu lainnya seperti fikih, tauhid atau akidah, tafsir, hadis, taswuf, serta kitab-kitab yang lain. Karena kecerdasannya dikabarkan bersama kakaknya ia menjadi santri yang paling disayangi gurunya. 

Setelah belajar di pesantren Kasingan, Misbach kemudian juga sempat ke Jombang untuk nyantri kepada kiai Hasyim Asy'ari, pendiri NU meski tidak lama.

Sepulang nyantri Misbach pulang ke kampung halamannya dan kemudian oleh kiai Ahmad Suaib, kakek dari kiai Maimoen Zubair (?), Misbach dijodohkan dengan puteri dari KH. Ridwan, pengasuh pesantren al-Balagh, Bangilan, Tuban. 

Dalam hal ini kiai Misbach pun mengikuti takdirnya mengikuti jejak kakaknya yang juga diambil menantu oleh seorang kiai pengasuh pesantren. Ini pula lah yang kelak menjadikan Misbach menjadi pengasuh pesantren tersebut, mewarisi dari mertuanya.

Menurut Gus Mus kiai Misbach sudah menulis ketika masih nyantri. Awalnya Misbach mengikuti jejak kakaknya. Ketika masih mondok Misbach menulis untuk mendapatkan pemasukan, untuk menunjang keberlangsungannya belajar dan hidup di pondok. Lalu kemudian setelah merasa bisa mandiri ia kemudian bahkan malah menjadi semacam pesaing kakaknya. 

Misbach sering bersaing berlomba-lomba menulis dengan kakaknya. Ketika kakaknya menerjemahkan kitab Imrithi (salah satu kitab tentang gramatika Arab tingkat menengah), maka ia pun juga menerjemahkannya. 

Demikian pula ketika kiai Bisri menerjemah dan mengomentari kitab Alfiyah, kiai Misbach pun juga tak ingin kalah. Bahkan ketika sudah di usia tuanya, ketika kiai Bisri menulis sebuah kitab tafsir yang bernama Al-Ibriz, kiai Misbach pun seperti tak ingin kalah. Beliau kemudian menulis sebuah kitab tafsir yang diberi nama Al-Ikllil fi Ma'ani al-Tanzil. 

Sepertinya mereka memang bersaing dan bahkan kemudian tak jarang terjadi polemik dan perdebatan  antar keduanya. Misalnya ketika kiai Bisri menulis sebuah risalah yang mendukung program presiden Soeharto yang ketika itu sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan program KB, kiai Misbach justru menolak program tersebut. 

Bahkan menetangnya melalui beberapa karyanya termasuk melalui kitab tafsir yang ditulisnya. Karena sikapnya tersebut beliau juga dipenjarakan oleh rezim karena dianggap menentang pemerintah.

Dalam hal menulis, sama dengan kiai Bisri, kiai Misbach juga selalu menjual putus karya-karya yang selesai ditulisnya. Ini mungkin dimaksudkan untuk menjaga keikhlasannya. Ia bahkan tidak peduli jika karangannya kelak dicetak berkali-kali atau bahkan hak ciptanya diambil alih oleh penerbit. Namun pernah kiai Misbach mengalami hal yang tidak mengenakkan dari sebuah penerbit. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun