Mohon tunggu...
Asyari Amir
Asyari Amir Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Posisi Kader HMI dalam Perbudakan Teknologi

9 Mei 2019   14:36 Diperbarui: 9 Mei 2019   14:50 0 0 0 Mohon Tunggu...
Posisi Kader HMI dalam Perbudakan Teknologi
dokpri

POSISI KADER HMI DALAM PERBUDAKAN TEKNOLOGI

Sejak Lafran Pane bersama rekannya menggagas untuk perlunya diadakan suatu organisasi yang berorientasi pada penanaman moral dan keintlektualan yang berlandaskan islam,lalu pada akhirnya terbentuklah organisasi Himpunan Mahasiswa Islam pada 5 Februari 1947,sejak itu juga cita beserta tanggung jawab negri ini menjadi tanggung jawab seluruh kader HMI juga.

Bersumpah dan berjanji atas nama Allah bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosul untuk snantiasa menjaga nama baik organisasi HMI, serta mewujudkan 5 kualitas insan cita, sejak itu pula masa depan Hmi dan masa depan bangsa di embankan kepada seluruh kader HMI. Ikrar dikumandangkan dengan sungguh-sungguh oleh setiap kader HMI bukan hanya bacaan magis yang tanpa pertanggung jawaban, namun itu mengartikan bahwa disetiap laku kader HMI akan diminta Pertanggung Jawabannya baik secara organisasi,masyarakat,pemerintahan, maupun dihadapan sang Khaliq. Namun tidak semua sumpah dan janji yang dilantunkan dapat dilihat realisasinya, entah karena kurangnya kesungguhan para kader dalam berproses sebagai kader HMI, maupun adanya tantangan zaman yang berbeda.

Pada setiap Organisasi yang besar ada perjuangan yang luar biasa yang mengikhtiarkannya, HMI tercatat sebagai organisasi mahasiswa terbesar dan tertua di indonesia,semua itu bisa terjadi karena adanya iktiar yang luar biasa dari kader-kader HMI yang melanjutkan perjuangan HMI setelah Lafran Pane dan rekan- rekannya dengan susah payah mendirikannya, oleh karenanya sudah seharusnya pada zaman ini HMI kembali kepada fitrahnya sebagai organisasi mahasiswa harapan bangsa, dan tetap kokoh berdiri di garda terdepan menentang apapun bentuk persoalan yang mengancam kepentingan negara lebih-lebih kepentingan masyarakat.

Kita mempercayai bahwa pada setiap rentetan peristiwa yang kita sebut sejarah adalah Guru yang bijak bagi setiap individu. Sejarah HMI juga demikian, seharusnya senantiasa menjadi Guru yang bijak bagi kader-kader hmi pada zaman sekarang ini, zaman yang segalanya serba berkemudahan, zaman yang sering di jadikan tema diskusi menarik dikalangan para aktivis, ataukah zaman yang biasanya di sebut zaman 4.0. teori sejarah akan selalu menjadi guru yang bijak pada setiap regenerasinya sampai saat ini mengalami degradasi yang serius. Kenyataan menjawab persoalan kenapa pada setiap tahunnya HMI mengalami penurunan baik itu kualitas Akhlak, maupun ilmu pengetahuan.

Pesatnya perkembangan teknologi dunia menjerumuskan Indonesia sebagai salah satu negara yang konsumtif terhadap produk teknologi di dunia. Wabah candu penyalah gunaan teknologi yang melanggar moralitas dan dapat dikatakan melanggar budaya mahasiswa sebagai seorang yang intlek dalam bangsa ini menjadi konsekuensi yang tidak dapat kita elahkan. Ironisnya sebagai figur seluruh pemuda dalam bangsa ini kader-kader organisasipun tidak mampu lebih mendalam untuk memfilterisasi wabah ini lebih khususnya bagi kader HMI sendiri, sehingga berakibat pada terasimilasinya budaya baik yang sudah mendarah daging dalam HMI. Dengan ikut partisipasi kader-kader HMI dalam wabah penyalahgunaan teknologi ini adalah bentuk penzoliman terhadap pendiri HMI.

Budaya membaca dan berdiskusi dalam rangka menyiapkan diri menjadi pemimpin yang diharapkan masyarakat lambat laun memudar, padahal budaya ini sebenarnya sejak dulu sudah dilaksanakan oleh kader-kader HMI sebagai sarana filterisasi atas pesatnya perkembangan teknologi dengan akibat buruknya, sehingga diharapkan dengan adanya budaya yang demikian kader HMI lebih khususnya tidak terjerumus dalam candu penyalahgunaan teknologi. Namun budaya membaca dan berdiskusi pada zaman ini dipandang tidak seksi lagi,sehingga perlu adanya solusi yang soluktif untuk menjawab tantangan zaman dengan kegilaan perkembangan teknologinya ini.

Tantangan yang berbeda akan selalu dihadirkan pada setiap zaman, untuk itu pada setiap zamannya perlu adanya suatu formulasi yang dapat menjawab tantangan zaman tersebut,namun bukan berarti solusi yang ditawarkan juga niscaya harus berbeda. HMI pada awal mula berdirinya melalui pemikirannya Cak Nur mampu menerawang  masa depan HMI  bahwa akan ada kejumudan dalam organisasi ini pada perjalanannya, penyalahgunaan teknologi pada zaman ini oleh kader merupakan salah satu indikator kejumudan perkaderan HMI yang sudah jauh keluar dari harapan pendirinya waktu itu.

Maka dari persoalan itu perlunya  dibentuk regulasi yang tepat dalam organisasi HMI untuk menjawab persoalan penyalah gunaanan teknologi. Regulasi adalah bentuk aturan yang memiliki konsekuensi bagi pihak yang melanggar ketentuan yang sudah didalilkan dalam bentuk regulasi tersebut dan mengikat bagi siapapun yang menjadi objek pelaksanaan dari regulasi tersebut.

Konstitusi HMI adalah salah satu bentuk regulasi yang menjadi rule of game atau aturan main dalam berorganisasi dalam HMI. Dari Konstitusi inilah grand design HMI dapat dilihat dan dari Konstitusi juga kepribadian kader-kader HMI akan digambarkan, baik maupun buruknya HMI dan kadernya seluruhnya termanifestasi dalam kostitusi. Artinya aktivitas HMI dan orang didalamnya seluruhnya berdasarkan Konstitusi,maka dari itu perlu adanya aturan yang tertuang dalam Konstitusi untuk memfilterisasi persoalan penyalahgunaan teknologi, sehingga dapat terciptanya sistem yang siap menerima perkembangan teknologi tanpa ada akibat negatif yaitu penyalahgunaan oleh kader-kader HMI.

Selain dari perlunya regulasi yang mengikat untuk mencegah partisipasi kader untuk terjerumus dalam wabah penyalahgunaan perkembangan teknologi, maka perlunya penanaman moral yang mendalam dari pada aparatur HMI yang secara konstitusional ditugaskan. Membina dan mengembangkan potensi kader untuk terwujudnya tujuan HMI serta bertanggung jawab atas penyelewengan moral kader sepenuhnya ditugaskan dan diberi tanggung jawab kepada pengurus sepenuhnya sesuai printah Konstitusi, entah itu dari Pengurus Besar samapai pada Pengurus Komisariat. Peran aparatur HMI memang sangat vital dalam menjaga nama baik HMI dan dalam rangka menyiapkan pemimpin bangsa, komitmen untuk mengabdi sudah seharusnya mendarah daging pada setiap aparatur HMI yang kita sebut Pengurus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x