Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Administrasi - Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pengalaman Refleksi Belajar dari Ghibah

27 Januari 2022   18:34 Diperbarui: 27 Januari 2022   18:40 579
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kita perlu melihat fenomena diri sendiri, mungkin sekali waktu mengalami perasaan yang kosong, gersang, malas, merasa hidup tanpa arti. Atau merasa seperti apa saja menjadi sulit, berat, sedih, kesepian. Ada pula Perasaan sepertinya : "ditinggalkan oleh Tuhan, Tuhan menjadi semakin jauh".

Dalam kondisi itu perlu waspada mungkin menjadi cenderung menuju hal-hal yang sensual dan material, mengarah kepada sikap fanatic mau menangnya sendiri dan merasa selalu harus dibenarkan.

Akan tetapi diwaktu penuh semangat merasa dirinya lebih menjadi realistic, merasa dirinya lebih bisa menerima dan diterima oleh orang lain. Atau mempunyai pengalaman batin merasa dirinya lebih dekat kepada Tuhan dan besar hasrat untuk mengalaminya lagi dengan berdoa.

Akan lebih indah lagi bila mindfullnes itu mampu selalu menemukan, melihat karya Tangan Allah pada sosok sesama, bagi kita bersama dalam kehidupan sehari hari.

Bersyukurlah, dan binalah kondisi itu dengan perbuatan penuh Kesadaran berkurangnya hasrat egois. Perasaan menjadi lebih lembut untuk peka terhadap keadaan. Dan tumbuh rasa adanya harapan dan hidup lebih berarti.

Pengalaman batin pun lebih perlu mendapat tinjauan reflektip yang mendasar sebab itu lebih menyangkut hidup, eksistensi, harga diri,dan agar tidak jatuh pada kesobongan rohani. Itu kesia-siaan yang menyedihkan : kesombongan rohani.

Refleksi bersama akan dapat membantu banyak untuk temuan temuan masalah kehidupan. Itu diisyaratkan oleh Pengkhotbah kita tadi dengan sindiran fenomena ghibah yang bisa meriah, saling menambahkan informasi dan pengalaman. Dalam refleksi yang harus serba benar sering banyak orang kurang mampu merumuskan masalah dan tentu juga solusinya.

Apabila sekedar belajar dari ghibah, yang sejak awal mulai dari hal yang tidak menyenangkan, permusuhan atau kebencian, maka solusi itu sulit didapat sendirian, perlu ada pihak lain. Dan ujung ujungnya adalah membawa ke ranah hukum, atau adanya klarifikasi dan permaafan. Sementara saya mencatat gaya unik dari Bpk Presiden Jokowi : "diam dan kerja terus", menunggu kematangan waktu dan ghibah berhenti sendiri.

Pengalaman refleksi ini saya tutup dengan pesan singkat dari Ghibah, sebagai berikut ini :

1. Ghibah adalah suatu peristiwa yang banyak kali mampu menggegerkan masyarakat dalam lingkupnya, kebanyakan karena ada sumbatan komunikasi dan informasi.

2. Pemuka masyarakat/negara/agama yang arif bijaksana dan pahami warga/umatnya sangat menunjang dan menyehatkan dinamika peradaban kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun