Asrulsani Abu
Asrulsani Abu wiraswasta

Writerpreneur at BSD City Tangsel, Makassar, Jakarta. https://www.bit.ly/asrulsani https://about.me/asrulsaniabu

Selanjutnya

Tutup

Novel

The Fight #01 (Ayat Cinta Sang Pujangga)

10 Januari 2019   11:17 Diperbarui: 10 Januari 2019   11:46 152 1 0

Fight for Life

Hari itu, hari pertama masuk sekolah.

Bangun pagi, dan langsung mandi dengan air jernih yang diambil dari sebuah sumur yang berada di samping rumah, lalu menggosok gigi dengan sisa batu bata merah yang dibuat khusus.

Iya, aku memang masih sempat merasakan menggosok gigi dengan batu bukan dengan pasta gigi.

"Nek, aku ingin sikat gigi" kataku.

"Oiya itu sudah ada nenek siapin, sikat giginya pakai tangan dan odolnya gunakan sisa batu merah agar bisa membersihkan kotoran sisa makananmu." Dengan lugas sang nenek menjawab permintaanku.

Hmmmm, walaupun serasa aneh, tapi aku percaya ini cara yang benar.

"Baiklah nek!!!" kataku bersemangat.

Sang nenek telah menyiapkan segalanya mulai dari peralatan mandi, pakaian dan sarapan pagi. Nenek memakaikan baju dan celana dengan cara yang khas dan penuh cinta.

Dengan perlahan, tangannya dengan lembut merapikan setiap sudut baju dan celana sehingga terlihat enak dipandang. Tangannya masuk ke setiap sudut untuk merapikan baju. Sesekali dipandangnya wajahku dan tubuhku dengan penuh senyum, seolah kagum dengan tampilanku.

Akupun sangat senang diperlakukan dengan penuh cinta, walaupun saat itu dalam kehidupan yang sederhana dan apa adanya.

Sekejap dengan bersemangat dan penuh cinta aku langsung berjalan kaki ke sekolah. Menyusuri lorong-lorong jalan hingga mencapai jalan raya dekat sekolah. Cukup jauh bagi seorang anak kecil, namun saat itu tidak terasa jauh karena perasaan senang bisa ke sekolah bersama para saudara teman sebaya tetangga rumah.

Tiba di sekolah, saya senang bermain dan belajar bersama sahabat sebangku. Namanya Firman. Firman adalah anak yang penurut dan apa adanya. Dia bukanlah tipe anak nakal yang suka mengganggu temannya. Makanya aku senang berteman dengannya.

Ketika jam pelajaran sekolah hampir selesai, tiba-tiba si Fauzan yang berbadan besar dan berwajah kotak, mencoba mengganggu dan bercanda.  Lalu sejurus kemudian mendadak si anak mencoba mengganggu dan malah mencoba menusuk tanganku dengan pensilnya, namun dengan sigap aku menghindar.

Si sombong,merasa kalah cepat.  

Tidak langsung patah semangat malah langsung menusuk tangan kiri Firman dengan ujung pensilnya yang tajam. Firmanpun menangis dan meringis kesakitan.

"ADUUUHHHH, sakit woi!!!" teriak si Firman.

Aku kesal dan merasa tidak tega melihat kejadian ini dan rasanya ingin langsung memberi pelajaran kepada si Fauzan yang sombong.

Semua teman dikelas ikut  mendukungku karena memang anak ini sudah kelewat batas. Dia sudah sering membuat ulah di kelas.

Mereka memintaku agar menghajarnya dengan tangan yang mengepal sebagai bentuk dukungan dan bantuan agar si anak sombong itu tidak lagi berperilaku kurang ajar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3