Mohamad Asruchin
Mohamad Asruchin

Pemerhati masalah sosial-politik, \r\ntinggal di Bekasi, Jawa Barat - Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

"Honour Killing" di Pakistan

9 Januari 2018   18:07 Diperbarui: 9 Januari 2018   18:18 970 2 0
"Honour Killing" di Pakistan
ericajmoss.com

Ditakdirkan bahwa pria berkuasa

Adapun wanita lemah lembut manja

Wanita dijajah pria sejak dulu

Dijadikan perhiasan sangkar madu

Namun ada kala pria tak berdaya

Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Dominasi pria terhadap wanita ternyata terjadi secara universal, termasuk yang pernah dialami dan dirasakan oleh masyarakat Indonesia, sebagaimana tertulis dalam potongan lirik lagu Sabda Alam gubahan Ismail Marzuki di atas. Boleh jadi kondisi demikian masih berlangsung dalam kehidupan masyarakat di daerah-daerah terpencil. Sementara komunitas yang tinggal dan hidup di perkotaan saat ini sebagian sudah bisa merasakan berlakunya penyetaraan gender.

Dewasa ini bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, hormat kaum pria terhadap wanita juga merupakan penghayatan terhadap sebuah hadis Nabi yang berbunyi "sorga berada di telapak kaki Ibu", menunjukkan betapa pentingnya peran seorang wanita dalam siklus kehidupan manusia, dari mulai mengandung, melahirkan, membesarkan anak-anak, sampai mempersiapkan mereka berumah tangga. Yang cukup menarik dalam perkembangan masyarakat saat ini adalah adanya kecenderungan gejala tumbuhnya dominasi wanita atas pria (istri terhadap suami) di sejumlah kalangan komunitas tertentu.

Kaum pria dalam sistem keluarga patriarkal di Indonesia serta di dunia pada umumnya terobsesi untuk mengejar "3 Ta": harta, tahta dan wanita.

Di sini jelas sekali selain harta kekayaan dan kedudukan/jabatan, wanita (cantik) menjadi "perhiasan sangkar madu" sebagai status simbol keberhasilan seorang lelaki. Bahwa kaum lelaki "tekuk lutut di kerling wanita" sudah bukan menjadi berita baru. Sejak Kaisar Roma Julius Caesar terpesona dan jatuh di pelukan Ratu Mesir Cleopatra pada tahun 51 SM, sudah tidak terhitung jumlahnya kaum pria yang rela dan lupa daratan bersedia mengorbankan harta bendanya dan bahkan kehidupan rumah tangganya karena kerlingan wanita.

Dominasi Pria atas Wanita di Dunia

Naluri kaum lelaki nampaknya selalu ingin melebihi kaum wanitanya karena beranggapan bahwa manusia pertama yang diciptakan Tuhan adalah Adam, kemudian disusul Hawa yang berasal dari tulang rusuknya. Dominasi pria atas wanita (male dominated societies) merupakan bentuk budaya yang hidup di kalangan banyak suku bangsa di dunia dengan berbagai latar belakang kepercayaan atau agama. Bagian budaya dominasi pria dalam masyarakat atau kelompoknya yang sangat menghentak rasa kemanusiaan kita dan bertentangan dengan prinsip-prinsip universal hak azasi manusia adalah terjadinya honour killing.

Hampir di semua agama besar seperti Hindu, Yahudi, Kristen dan Islam terdapat penganut maupun tokohnya yang mendukung dilaksanakannya honour killing terhadap seseorang yang dianggap telah mengancam kehormatan keluarga. Perbuatan tersebut ternyata juga menyebar di seluruh dunia tidak terbatas pada suku atau kelompok tertentu baik yang tinggal di pelosok pedesaan bahkan masih ditemukan juga di tengah perkotaan. Diruntut dari sejarahnya, perbuatan honour killing sebenarnya sudah tumbuh dan berkembang sebelum agama-agama besar ada.

Praktek mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang lahir sudah lazim dijalankan oleh kaum kafir Qurais di zaman Jahiliyah sebelum Islam disiarkan oleh Nabi Muhammad di Jazirah Arab. Hal serupa juga ditemukan pada bangsa Aztec dan Inca di Benua Amerika. Pada bangsa Roma dan Yunani kuno, perempuan yang kedapatan atau dituduh berzina harus dienyahkan sebagai tindakan penyucian diri pelaku. Hukuman pendosa oleh bangsa Mesir adalah mutilasi, bangsa Cina menghukum mati melalui injakan gajah, dan bangsa Babilon menyuruh pelaku menyebur ke sungai. Dalam cerita Ramayana, Shinta harus membuktikan kesuciannya dari noda Rahwana dengan cara membakar diri.

Di jaman modern pun praktek honour killing masih dilestarikan oleh masyarakat tertentu. Komisi HAM PBB mengumpulkan laporan-laporan dari sumber terbuka maupun laporan lisan, mencatat bahwa berbagai bentuk honour killingmasih tetap dilakukan di antara masyarakat bangsa di dunia dari benua Afrika, Asia, Eropa dan Amerika. Secara umum, budaya honour killingmerupakan kegiatan penghukuman termasuk pembunuhan seorang (wanita) oleh ayah, saudara laki-laki atau anggota keluarga lainnya karena dianggap mencemarkan kehormatan keluarga: seperti menolak menikah pilihan keluarga (arranged marriage), menikah dengan pilihan sendiri, berselingkuh, dan berperilaku sex menyimpang (homo atau lesbian), dll.

Sejalan dengan perkembangan jaman, ketika emansipasi wanita sudah menjalar dari Benua Eropa dan Amerika ke bagian dunia lainnya, budaya dominasi pria atas wanita tetap subur di negara-negara berkembang, termasuk di wilayah Asia Selatan. Adanya jabatan publik termasuk Perdana Menteri di India dan Pakistan pernah diduduki oleh kaum perempuan hanya populer di wilayah perkotaan dan kalangan terpelajar. Di pedesaan dan daerah-daerah pedalaman yang hidup dari hasil pertanian atau perkebunan, struktur masyarakat feodal yang menempatkan dominasi pria atas wanita dalam masyarakat (male dominated society) tetap tumbuh subur.

 

Honour Killing (Karo-Kari) di Pakistan

Kelompok kaum tuan tanah versus kaum buruh kasar di Pakistan sebagaimana golongan Rajput dan Dalitdi India merupakan dua komunitas yang sangat berbeda, bagaikan air dan minyak yang tidak mungkin disatukan. Artinya interaksi kehidupan terutama penyatuan antara dua keluarga dalam bentuk perkawinan hanya bisa berlangsung antara kelompok yang sama. 

Penyimpangan atau pengingkaran terhadap perbedaan dua komunitas ini, seperti love affair antara muda-mudi dari komunitas yang berbeda bisa berakibat fatal dalam bentuk honour killing -- biasanya dilakukan oleh pihak tuan tanah terhadap wanita yang terlibat asmara baik dari keluarga sendiri atau pasangannya maupun kedua-duanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2