Edukasi Pilihan

Idulfitri Hari Raya untuk Bermaaf-maafan?

14 Juni 2018   14:09 Diperbarui: 14 Juni 2018   15:15 759 0 0

Tidak terasa Idul Fithri akan datang menyambut kita semua lagi. Banyak dari kita masih belum mengenal apa makna dari Idul Fithri. Idul Fithri jika dikupas satu-satu, Idul berasal dari kata 'Id yang artinya kembali. Sedangkan Fithri berasal dari kata Fithr yang memiliki dua arti; Yang pertama, Fithri berasal dari kata ifthaar yang artinya berbuka (puasa), sehingga maksud Idul Fithri menjadi kembali berbuka puasa.

Yang kedua Fithri diartikan sebagai fitrah sehingga maknanya menjadi kembali ke fitrah. Wallahu'alam namun yang lebih tepat dan mendekati adalah kembali berbuka puasa.

:   :  

"Artinya :Dari Abi Hurairah (ia berkata) : Bahwasanya Nabi  shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda. "Shaum/puasa itu ialah  pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fitri itu ialah pada hari kamu  berbuka. Dan (Idul) Adlha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan  kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan". [Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. 693, Abu  Dawud No. 2324, Ibnu Majah No. 1660, Ad-Daruquthni 2/163-164 dan Baihaqy  4/252 dengan beberapa jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya  terangkan semua sanadnya di kitab saya "Riyadlul Jannah" No. 721. Dan  lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi]

Idul Fithri disebut sebagai Hari raya berbuka puasa karena selama sebulan penuh kita menjalankan puasa karena Allah dan untuk Allah. Sehingga pada hari raya ini kita diharamkan untuk berpuasa kembali.

Yang tersebar di masyarakat Indonesia adalah Idul Fithri adalah hari bermaaf-maafan. Sebenarnya, bermaaf-maafan bukan sebuah perbuatan yang buruk melainkan ini adalah sebuah perbuatan terpuji. Banyak dari firman Allah Azza wa Jalla di dalam Al-Qur'annya menyebutkan betapa pentingnya bermaaf-maafan.

Allah berfirman:

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik,  serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh. [al-A'raf/7:199]

Di ayat lain, Allah berfirman:

     

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah-lembut  terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,  tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu,  maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah  dengan mereka dalam urusan itu. [Ali Imran/3:159]

Allah bahkan menyebutkan bahwa orang pemaaf adalah orang yang bertaqwa kepadaNya:

   

(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya)  baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan  amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai  orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali-Imran/3:134]

Selain dari firman Allah Azza wa Jalla, Rasulullah Shallalahu'alaihi wa sallam juga menggambarkan betapa mulianya orang pemaaf:

Dalam  sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tidaklah Allah menambah  bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali  kemuliaan (di dunia dan akhirat)" [1]

Sehingga terlihat bahwa saling memaafkan adalah hal yang sangat baik di mata Allah maupun RasulNya. Namun kembali ke pertanyaan sebelumnya, apakah bermaaf-maafan disunnahkan atau disyariatkan saat hari raya?

Jawabannya tidak. Tidak ada dalil khusus yang menunjukan bahwa hari raya adalah hari untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Seperti yang sudah disebutkan tentang makna Idul Fithri adalah hari raya berbuka puasa sehingga tidak disyariatkan untuk bermaaf-maafan di hari raya.

Sehingga tidak boleh bermaaf-maafan di hari raya?

Bukan tidak boleh, hanya tidak disunnahkan dan tidak disyariatkan. Namun boleh saja jika kalian merasa memiliki salah terhadap manusia lainnya, kalian meminta maaf. Namun tidak dikhususkan hanya pada hari raya saja. Disebutkan bahwa meminta maaf dan memaafkan adalah perbuatan yang sungguh  terpuji dan bernilai disisi Allah Azza Wa Jalla sehingga meminta maaf dapat dilakukan kapan saja setiap saat tanpa harus menunggu Idul Fithri datang.

Lalu apa yang harus diucapkan saat Idul Fithri?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2